0

Review Buku The Ideological Brain - Leor Zmigrod + Insights + Reflective Question

Published: Monday, 23 March 2026 Written by Dipidiff

THE TELEGRAPH BEST BOOKS OF 2025

THE GUARDIAN BRILLIANT BOOKS TO READ IN 2025

Judul : The Ideological Brain

Penulis : Leor Zmigrod

Jenis Buku : Cognitive Psychology Books, Political Philosophy

Penerbit : Penguin Random House UK

Tahun Terbit : 2026

Jumlah Halaman : 322 halaman

Dimensi Buku : 19.70x 13.00 x 2.40 cm

Harga : Rp. 308.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9780241719275

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

Available at PERIPLUS Bookstore

 

Sekelumit Tentang Isi

The Ideological Brain merupakan eksplorasi neurosains kognitif yang mendalam mengenai bagaimana otak manusia membentuk, mengadopsi, dan terkadang "dirasuki" oleh keyakinan ideologis yang kaku. Zmigrod menjelaskan bahwa otak pada dasarnya adalah sebuah mesin prediksi yang mencari kepastian; namun, ketika menghadapi stres atau ketidakpastian, mekanisme ini dapat terjebak dalam pola pikir dogmatis yang merusak fleksibilitas mental dan kesehatan fisik. Dengan menggabungkan bukti riset laboratorium (seperti tes fleksibilitas kognitif) dan analisis faktor genetika serta lingkungan, buku ini menyoroti akar biologis dari radikalisasi dan polarisasi sosial. Di akhir, Zmigrod menawarkan humilitas intelektual sebagai penawar esensial untuk menjaga kebebasan berpikir dan keterbukaan pikiran di tengah dunia yang semakin terbelah.

Yuk cek dulu daftar isinya.

Prologue: Action Potential

PART 1 Icons

1 Ideological Possession

2 An Experiment

3 Metaphors We Believe By

PART 2 Of Minds and Myths

4 The Birth of Ideology

5 The Age of Illusions

6 Being a Brain

7 Thinking, Ideologically

PART 3 Origins

8 A Chicken-and-Egg Problem

9 Young Authoritarians

10 Brainwashing a Baby

11 The Rigid Mind

12 The Dogmatic Gene

PART 4 Consequences

13 Darwin’s Secret

14 Poliptical Illusions

15 Your Emotional Fingertips

16 An Ideology Walks Into a Brain Scanner

PART 5 Freedom

17 Spiralling In and Out

18 The Importance of Being Nested

19 Otherwise

Epilogue: Going Off-Script

 

Author

Dr. Leor Zmigrod adalah ilmuwan pemenang penghargaan dan pelopor di bidang 'neurosains politik'. Ia belajar di Universitas Cambridge sebagai penerima Beasiswa Gates sebelum memenangkan Beasiswa Riset Junior di Churchill College, Cambridge. Zmigrod telah menerbitkan lebih dari 30 makalah yang ditinjau sejawat dan pernah menjadi peneliti tamu di Stanford, Harvard, dan Institut Studi Lanjutan Berlin dan Paris. Ia masuk dalam daftar 'Forbes 30 Under 30' di bidang Sains dan telah memenangkan banyak penghargaan, termasuk Penghargaan Sains Wanita Masa Depan dan Penghargaan Glushko. Ia pernah berbicara di Festival Hay dan TEDx, dan penelitiannya telah banyak ditampilkan di media, termasuk di The New York Times, Guardian, Financial Times, dan New Scientist. Zmigrod memberikan nasihat kepada para pembuat kebijakan di Perserikatan Bangsa-Bangsa, pemerintah Inggris dan AS, serta organisasi internasional lainnya. The Ideological Brain adalah buku pertamanya.

 

Review

Saya suka buku ini karena penceritaannya yang hidup, mudah dipahami meskipun berbasih ilmiah dan beberapa bagian menggunakan kalimat teknis, menarik dan menggugah pikiran, membuka wawasan mendasar, membangkitkan kewaspadaan, terhadap keyakinan idelogis yang kaku dan dampak negatifnya, buku ini juga memberikan harapan untuk mampu menghadapinya.

Tentu saja opini pembaca bisa berbeda, ulasan buku ini memang bersifat subjektif, namun semoga tetap bermanfaat.

 

Kutipan

Ada dua kutipan yang berkesan buat saya dari buku ini.

Kutipan pertama, "We possess beliefs, yes, but we can also become possessed by them." Kita memiliki keyakinan, ya, tetapi kita juga bisa menjadi dirasuki olehnya. – Halaman 9.

Kutipan ini sangat relevan karena menyoroti bagaimana ideologi sering kali berhenti menjadi alat yang kita kendalikan dan justru mulai mengendalikan perilaku serta identitas kita. Hal ini menjelaskan mengapa seseorang bisa menjadi sangat kaku dan sulit menerima sudut pandang lain ketika sebuah keyakinan sudah "merasuk" ke dalam cara mereka memandang dunia.

Kutipan kedua, "Ideological thinking is true to itself before it is true to the world." Pemikiran ideologis lebih setia pada dirinya sendiri sebelum ia setia pada dunia nyata – Halaman 71.

Di era polarisasi dan informasi yang simpang siur, kutipan ini menjelaskan mengapa banyak orang cenderung mengabaikan fakta atau bukti nyata demi mempertahankan konsistensi internal dari ideologi mereka. Kutipan ini menangkap esensi dari "kekakuan kognitif" di mana kebenaran objektif sering kali dikalahkan oleh kebutuhan otak untuk tetap selaras dengan dogma yang dianutnya. 

Kedua kutipan ini mencerminkan tema sentral buku ini mengenai bagaimana mekanisme otak kita dapat terjebak dalam pola pikir dogmatis yang mengancam fleksibilitas kognitif dan hubungan sosial kita.

 

Picture: Buku The Ideological Brain

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan buku ini untuk pembaca umum karena buku ini dirancang untuk mudak diakses bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana otak membentuk ideologi yang kita pilih. Buku ini juga relevan bagi mereka yang tertarik pada psikologi politik dan ingin tahu mengapa pikiran manusia bisa menjadi kaku atau tertutup.

Buku ini juga sesuai untuk para ahli dan akademisi karena didasarkan pada penelitian di bidang neurosains, psikologi kognitif, dan ilmu sosial, Zmigrod menggabungkan berbagai disiplin ilmu untuk mengeksplorasi hubungan antara pikiran, tubuh, dan politik.

Semoga para praktisi dan pembuat kebijakan juga membaca buku ini, terutama yang bekerja di bidang perubahan sosial, kebijakan publik, atau penanganan polarisasi Masyarakat, karena ada wawasan praktis tentang bagaimana lingkungan dan stres memengaruhi fleksibilitas kognitif seseorang.

Secara keseluruhan, buku ini ditujukan bagi siapa pun yang ingin memiliki pemahaman lebih dalam tentang "mesin" di balik keyakinan manusia agar dapat mempertahankan pikiran yang terbuka dan fleksibel di dunia yang penuh dengan ketidakpastian

 

Picture: Beberapa halaman pilihan pada buku The Ideological Brain

 

More Review + Insight + Reflective Questions

 

Tujuan dan Audiens

Buku ini memiliki tujuan utama untuk menginformasikan pembaca tentang dasar-dasar biologis dan kognitif di balik keyakinan ideologis. Zmigrod berusaha menjawab bagaimana otak kita membentuk ideologi dan bagaimana keyakinan kaku dapat merugikan pikiran serta tubuh kita

Audiens yang dituju cukup luas: mulai dari pembaca umum yang mencari pengantar tentang psikologi politik, hingga praktisi dan ahli yang membutuhkan analisis mendalam tentang radikalisasi dan ekstremisme.

 

Tema Utama dan Poin Penting

Tema sentral buku ini adalah fleksibilitas kognitif versus kekakuan ideologis. Poin-poin pentingnya meliputi:

  • Otak sebagai mesin prediksi: Bagaimana otak kita mencari kepastian di tengah ketidakpastian melalui ideologi.
  • Dampak stres dan trauma: Bagaimana lingkungan yang penuh tekanan dapat mendorong otak ke arah pemikiran yang lebih kaku dan ekstrem.
  • Humilitas intelektual: Pentingnya menyadari keterbatasan pemahaman kita sebagai penawar bagi dogma

 

Kekuatan dan Kelemahan

Menurut saya kekuatan buku ini terletak pada penelitiannya yang komprehensif. Buku ini didukung oleh catatan dan bibliografi yang luas, memberikan kredibilitas tinggi. Selain itu wawasan yang dibagikan juga menggugah pikiran (thought-provoking). Misalnya, analisis tentang bagaimana biologi memengaruhi pilihan politik.

Untuk kelemahan buku ini, di beberapa bagian masih ada bahasa yang teknis, misalnya penggunaan istilah neurosains (seperti reseptor dopamin atau korteks prefrontal) mungkin terasa sedikit berat bagi pembaca umum tanpa latar belakang sains.

 

Suara dan Gaya Kepenulisan 

Zmigrod mengadopsi nada yang reflektif dan informatif. Ia menggunakan teknik bercerita untuk menghidupkan topik-topik ilmiah yang kering. Misalnya, menggunakan metafora "lapangan seluncur es" untuk menggambarkan bagaimana pikiran yang kaku dapat tergelincir ke dalam pola ideologis yang sulit diubah. Ia juga menyelipkan narasi sejarah seperti kisah Darwin atau Antoine Destutt de Tracy untuk memberikan konteks pada teorinya.

 

Konten dan Nilai Praktis

Inti dari buku ini adalah eksplorasi tentang "kepemilikan ideologis". Zmigrod menggunakan bukti penelitian yang kredibel, menggabungkan data kognitif, studi neurosains, dan pendapat ahli untuk membangun argumennya.

Struktur buku ini logis, dibagi menjadi lima bagian utama yang memandu pembaca dari pengenalan ikon ideologi hingga konsekuensi dan konsep kebebasan. Salah satu contoh konten yang kuat adalah penjelasan mengenai "Wisconsin Card Sorting Test" untuk mengukur fleksibilitas kognitif, yang kemudian dikaitkan dengan kecenderungan seseorang terhadap ideologi tertentu

Menurut saya, buku ini menawarkan wawasan yang dapat ditindaklanjuti bagi mereka yang ingin memahami polarisasi sosial. Meskipun banyak teori, Zmigrod memberikan pemahaman tentang cara mengenali bias kognitif dalam diri sendiri. Penggunaan visual kognitif (seperti tes penggunaan alternatif) membantu saya memahami bagaimana kreativitas dan fleksibilitas dapat dilatih untuk melawan kekakuan berpikir.

 

Pertimbangan Konteks yang Lebih Luas

Buku ini relevan dengan kondisi masyarakat saat ini yang mengalami polarisasi tajam. Zmigrod mengisi kekosongan dalam literatur dengan menghubungkan biologi individu dengan fenomena sosiopolitik global. Latar belakang Zmigrod sebagai pakar dalam psikologi kognitif di Cambridge memberikan bobot signifikan pada argumennya, meminimalkan potensi bias subjektif melalui pendekatan berbasis data

 

Insights – Summary

Buku "The Ideological Brain" mengeksplorasi hubungan mendalam antara neurosains, psikologi, dan bagaimana manusia mengadopsi keyakinan politik atau dogmatis.

Zmigrod memperkenalkan konsep bagaimana ideologi "merasuk" ke dalam pikiran manusia. Zmigrod menjelaskan bahwa manusia bukan sekadar "memiliki" keyakinan, tetapi sering kali "dirasuki" olehnya, di mana keyakinan tersebut mulai mengendalikan perilaku dan identitas individu. Ia lalu memaparkan sebuah eksperimen kognitif di laboratorium menggunakan Wisconsin Card Sorting Test. Peserta diminta mencocokkan kartu berdasarkan aturan yang berubah-ubah (warna, bentuk, atau jumlah) tanpa diberitahu sebelumnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa individu yang kesulitan beradaptasi dengan perubahan aturan kognitif sederhana ini cenderung memiliki pemikiran ideologis yang lebih kaku di dunia nyata. Di bab tiga, Zmigrod membahas bagaimana metafora (seperti "otak yang dicuci") membentuk cara kita memahami indoktrinasi.

Zmigrod kemudian meninjau sejarah istilah ideologi dan cara kerja otak sebagai organ pembuat prediksi. Ia membahas asal-usul istilah "ideologi" dari Antoine Destutt de Tracy hingga kritik Napoleon dan analisis Karl Marx. Zmigrod menjelaskan bahwa otak adalah "mesin prediksi" yang terus-menerus mencoba memodelkan dunia untuk mengurangi ketidakpastian. Ia lalu mendefinisikan pemikiran ideologis sebagai sesuatu yang "setia pada dirinya sendiri sebelum setia pada dunia nyata".

Di Bagian tiga, Zmigrod mengeksplorasi mengapa beberapa otak lebih rentan terhadap dogmatisme dibandingkan yang lain. Ia membahas apakah kekakuan mental muncul lebih dulu atau ideologi yang membentuknya. Merujuk pada penelitian klasik Else Frenkel-Brunswik terhadap anak-anak pasca-Perang Dunia II. Riset menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan otoriter memiliki toleransi yang rendah terhadap ambiguitas, yang nantinya berkorelasi dengan prasangka etnis dan politik.

Zmigrod kemudian menggunakan Alternative Uses Test (misalnya, memikirkan kegunaan lain dari sebuah batu bata) untuk mengukur kreativitas kognitif. Ia lalu membahas peran genetika, khususnya sistem dopamin di otak. Penelitian tentang gen COMT yang mengatur kadar dopamin di korteks prefrontal. Variasi genetik ini memengaruhi seberapa fleksibel seseorang dalam memproses informasi baru atau seberapa gigih mereka mempertahankan aturan lama yang sudah tidak relevan.

Di bagian empat, Zmigrod membahas dampak biologis dan psikologis dari keyakinan yang kaku. Ia mengambil contoh Charles Darwin yang mengalami konflik internal hebat antara penemuan ilmiahnya dan keyakinan religius istrinya, Emma. Di bagian ini ada riset tentang mengukur respons fisiologis (detak jantung dan konduktansi kulit) terhadap rangsangan visual. Riset menemukan bahwa individu dengan orientasi politik konservatif sering kali memiliki respons fisiologis yang lebih kuat terhadap ancaman dibandingkan individu liberal. Zmigrod lalu membahas penggunaan fMRI untuk melihat aktivitas otak saat seseorang memproses informasi yang menantang keyakinan mereka, khususnya di area amygdala (pusat emosi) dan ACC (deteksi konflik).

Bagian penutup Freedom, membahas tentang radikalisasi dan cara melatih fleksibilitas. Zmigrod menjelaskan proses radikalisasi sebagai "spiral kognitif" di mana seseorang perlahan-lahan kehilangan fleksibilitas kognitifnya seiring meningkatnya komitmen pada kelompok ekstrem. Ia lalu menyoroti peran stres lingkungan. Penelitian menunjukkan bahwa stres akut (seperti ketidakpastian ekonomi atau ancaman fisik) dapat "mendorong" otak yang biasanya fleksibel menjadi lebih kaku dan mencari kepastian dalam dogma.

Di akhir, Zmigrod menekankan pentingnya humilitas intelektual sebagai alat untuk tetap merdeka secara mental dan menghindari jebakan ideologi yang kaku.

*detail insights ada di buku 

 

Reflective Questions

*Pilihlah satu atau dua pertanyaan setiap kali menyelesaikan satu bab. Tulis jawabab di jurnal akan sangat membantu dalam memperkuat retensi informasi dan memastikan transisi kita menjadi pembaca yang aktif.

1. Menghubungkan Konten dengan Pengalaman Pribadi

  • Kepemilikan Ideologis: Penulis menyatakan bahwa kita tidak hanya "memiliki" keyakinan, tetapi bisa "dirasuki" olehnya. Coba ingat kembali suatu momen dalam hidup Anda ketika Anda mempertahankan sebuah pendapat dengan sangat kuat. Apakah pada saat itu Anda merasa sedang mengendalikan keyakinan tersebut, atau justru keyakinan itu yang mengendalikan emosi dan tindakan Anda?
  • Otak sebagai Mesin Prediksi: Mengingat otak kita adalah "mesin prediksi" yang mencari kepastian. Bagaimana perasaan Anda saat menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian (misalnya perubahan besar di tempat kerja atau politik)? Apakah Anda cenderung mencari jawaban yang hitam-putih (dogmatis) untuk meredakan kecemasan tersebut?

2. Meningkatkan Berpikir Kritis (Analisis Konten)

  • Evaluasi Bukti: Zmigrod menggunakan berbagai riset seperti Wisconsin Card Sorting Test untuk mengaitkan fleksibilitas tugas sederhana dengan pandangan politik. Menurut Anda, apakah ada celah atau faktor lingkungan lain yang mungkin tidak sepenuhnya terangkum dalam tes laboratorium tersebut?
  • Kekakuan vs. Fleksibilitas: Buku ini membedakan antara "pikiran yang kaku" dan "pikiran yang fleksibel". Jika Anda melihat polarisasi di media sosial saat ini, apakah argumen yang muncul lebih sering "setia pada ideologinya sendiri daripada setia pada dunia nyata"? Berikan contoh spesifik dari pengamatan Anda.

3. Mendorong Kemandirian Belajar dan Makna Mendalam

  • Metafora Keyakinan: Penulis membahas metafora seperti "cuci otak". Jika Anda harus menciptakan metafora baru untuk menggambarkan bagaimana informasi di internet membentuk pikiran seseorang saat ini, metafora apa yang akan Anda gunakan berdasarkan penjelasan biologis dalam buku ini?
  • Humilitas Intelektual: Penulis menekankan pentingnya humilitas (kerendahan hati) intelektual sebagai penawar dogma. Strategi konkret apa yang bisa Anda terapkan mulai besok untuk tetap menjaga pikiran tetap terbuka saat mendengarkan pendapat yang sangat bertentangan dengan prinsip Anda?

4. Memperkuat Ingatan dan Nilai Praktis

  • Dampak Lingkungan (Nesting): Konsep bahwa kita "terpaku" (nested) dalam lingkungan memengaruhi cara otak memproses stres. Bagaimana kondisi lingkungan fisik atau sosial Anda saat ini memengaruhi kemampuan Anda untuk berpikir jernih dan fleksibel?
  • Poin Utama (Takeaways): Dari seluruh bab yang telah dibaca, kutipan atau bagian mana yang paling menantang asumsi lama Anda tentang cara manusia berpikir? Mengapa bagian tersebut memberikan dampak yang begitu kuat bagi Anda?

 

Refleksi Pribadi

Buat saya pribadi, membaca buku ini adalah pengalaman yang mendidik sekaligus menyadarkan. Salah satu bagian yang berkesan adalah ketika Zmigrod menjelaskan bahwa ideologi bukan sekadar "pilihan bebas", melainkan hasil interaksi kompleks antara genetik, lingkungan, dan fungsi otak.

"The Ideological Brain" berhasil membuka percakapan baru di persimpangan neurosains dan politik. Kekuatannya terletak pada kemampuan Zmigrod mengomunikasikan riset kompleks dengan gaya yang hidup, serta menawarkan wawasan praktis untuk melawan kekakuan berpikir.

Sebuah buku yang tidak hanya menjelaskan mengapa kita berpikir seperti yang kita lakukan, tetapi juga mengundang kita untuk bertanya: apakah kita bersedia mengubah cara berpikir kita demi masa depan yang lebih lentur, lebih manusiawi?

 

 

------------------- 

-------------------------------------------------------------------------


 

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.

Diana Fitri, biasa dipanggil Dipi, adalah seorang ibu yang gemar berkebun, dan rutin berolahraga. Gaya hidup sehat dan bervibrasi positif adalah dua hal yang selalu ia upayakan dalam keseharian. Sambil mengasuh putra satu-satunya, ia juga tetap produktif dan berusaha berkembang secara kognitif, sosial, mental dan spiritual.

Lulusan prodi Pemuliaan Tanaman Universitas Padjadjaran, Dipi lalu melanjutkan studi ke magister konsentrasi Pemasaran, namun pekerjaannya justru banyak berada di bidang edukasi, di antaranya guru di Sekolah Tunas Unggul, sekolah International Baccalaureate (IB), dan kepala Kemahasiswaan di Universitas Indonesia Membangun. Setelah resign tahun 2016, Dipi membangun personal brand Dipidiff hingga saat ini.

Sebagai Certified BNSP Public Speaker dan Certified BNSP Trainer, serta certified IALC coach, (certified BNSP Master Trainer, certified BNSP NLP, certified BNSP Komunikasi, certified internasional coach ICF, certified EQ, dan certified Pengembangan Kurikulum dan Fasilitas Pelatihan -- on planning 2026). Dipi diundang oleh berbagai perusahaan, komunitas dan Lembaga Pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereviu buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Kementrian Keuangan, Universitas Negeri Semarang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, BREED, Woman Urban Book Club, Lions Clubs, Bandung Independent School, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, Mega Andalan Kalasan, Manulife Indonesia, SERA ASTRA, dan lain-lain. Selama dua tahun menjadi pemateri rutin di platform edukasi Cakap.com. Dipi meng-coaching-mentoring remaja dan dewasa di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka. 

Berstatus bookblogger, reviu-reviu buku yang ia tulis selalu menempati entry teratas di halaman pertama mesin pencari Google, menyajikan ulasan terbaik untuk ribuan pembaca setia. Saat ini Dipi adalah brand ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di berbagai event literasi. Dipi juga pernah menjadi Official Reviewer untuk Republika Penerbit dan berpartner resmi dengan MCL Publisher. Kolaborasi buku-bukunya, antara lain dengan One Peach Media, Hanum Salsabiela Rais Management, KPG, Penerbit Pop, Penerbit Renebook, dan Penerbit Serambi. Reviu buku Dipi bisa dijumpai di www.dipidiff.com maupun Instagram @dipidiffofficial. Dulu sempat menikmati masa menjadi host di program buku di NBS Radio dan menulis drop script acara Indonesia Kemarin di B Radio bersama penyiar kondang Sofia Rubianto (Nata Nadia). Podcast Dipi bisa diakses di Youtube Dipidiff Official.

Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation.

Contact Dipidiff at DM Instagram @dipidiffofficial

 

 

 

 

 

 

 

Hits: 1840

TERBARU - ARTIKEL PENGEMBANGAN DIRI & TERAPI TANAMAN

Kuasai Mindset, Ubah Hidup: Panduan Berp…

19-02-2026 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Cara Berpikir Positif, Produktif, dan Bermanfaat dengan Menguasai Mindset  "In a growth mindset, challenges are exciting rather than threatening. So rather than thinking, oh, I'm going to reveal my weaknesses, you...

Read more

Cara Mewujudkan Impian dengan Manifestas…

03-11-2024 Dipidiff - avatar Dipidiff

Updated 24 Februari 2025     I think human beings must have faith or must look for faith, otherwise our life is empty, empty. To live and not to know why the cranes...

Read more

Mengapa Ringkasan Buku Itu Penting?

19-06-2022 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Pernah ga sih teman-teman merasakan suatu kebutuhan yang sebenarnya mendesak namun seringkali diabaikan? Mungkin karena rasanya kebutuhan ini sepele, atau mungkin dia tidak terasa mendesak sampe ketika waktunya tiba mendadak...

Read more

10 Tips Mengatasi Kesepian

05-12-2021 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...

Read more

Cara Membuat Perpustakaan Pribadi di Rum…

25-09-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Perpustakaan sendiri punya kenangan yang mendalam di benak saya. Saya yakin teman-teman juga punya memori tersendiri ya tentang library. Baca juga "Arti Perpustakaan Bagi Para Pecinta Buku" Baca juga "Perpustakaan Luar...

Read more

TERBARU - REVIEW BUKU + INSIGHTS + RINGKASAN+ PERTANYAAN REFLEKTIF

Review Buku Strange Pictures - Uketsu + …

01-04-2026 Administrator - avatar Administrator

    A Barnes and Noble Best Book of 2025 The Times Bestseller. The Chilling Japanese Mystery Sensation   Judul : Strange Pictures Penulis : Uketsu Jenis Buku : Psychological Thriller, Murder Mystery Penerbit : Pushkin Press Tahun Terbit...

Read more

Review Buku Countdown to Riches - Rhonda…

30-03-2026 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Countdown to Riches, 21 Days of Wealth-Attracting Habits Penulis : Rhonda Byrne Jenis Buku : Motivational Self-Help Penerbit : HarperCollins Publisher Tahun Terbit : 2025 Jumlah Halaman : 208 halaman Dimensi Buku :  19.70 x 14.10 x...

Read more

Review Buku Intentional - Chris Bailey +…

26-03-2026 Dipidiff - avatar Dipidiff

Judul : Intentional, How to Finish What You Start Penulis : Chris Bailey Jenis Buku : Personal Time Management, Success Self-Help Penerbit : Pan MacMillan Tahun Terbit : 2026 Jumlah Halaman : 272 halaman Dimensi Buku...

Read more

Review Buku The Dose Effect - TJ Power +…

24-03-2026 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Dose Effect, Everyday Habits to Balance Your Brain for a Healthier, Happier Life Penulis : TJ Power Jenis Buku : Emotional Mental-Health Penerbit : HarperCollins Tahun Terbit : 2025 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku The Ideological Brain - Leor…

23-03-2026 Dipidiff - avatar Dipidiff

THE TELEGRAPH BEST BOOKS OF 2025 THE GUARDIAN BRILLIANT BOOKS TO READ IN 2025 Judul : The Ideological Brain Penulis : Leor Zmigrod Jenis Buku : Cognitive Psychology Books, Political Philosophy Penerbit : Penguin Random House UK Tahun...

Read more

TERBARU - TERAPI HUTAN & KOTA "CERITA LOKASI, INFO TANAMAN, DAN TERAPI DIRI"

Sprekken Cafe & Resto (a Story)

13-10-2025 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Kalau bukan karena seorang teman yang mengajak ketemuan untuk membahas teknis acara buku, saya mungkin tidak akan pernah tahu ada cafe seperti Sprekken di Bandung. Main saya memang kurang jauh...

Read more

Bootopia Periplus (a Story)

12-10-2025 Dipidiff - avatar Dipidiff

Salah satu event diskon buku impor yang paling ditunggu se-Indonesia adalah Bootopia Periplus. Semua orang sudah paham hanya di event ini buku-buku bagus bisa masuk list diskon. Bootopia diadakan dua kali dalam setahun, serentak di toko-toko...

Read more

Periplus Mall Pakuwon Jogja (a Story)

27-09-2025 Administrator - avatar Administrator

  Setelah Juni saya menuliskan agenda visit saya ke Periplus Heritage (sebenarnya ini agenda rutin per bulan), akhirnya Juli saya bisa lanjut ke Periplus Pakuwon Jogja. Bertepatan dengan urusan pekerjaan sebagai...

Read more

The Room 19 Independent Library Dipatiuk…

22-09-2025 Dipidiff - avatar Dipidiff

    The Room 19, cafe library yang akhir-akhir ini namanya mencuat di kalangan para pencinta buku, mungkin mulai menyamai tenarnya cafe Kineruku. Saya sendiri penasaran dengan perpustakaan independen ini karena melihat...

Read more

Ben Farm (a Story)

13-07-2025 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Plant therapy dengan merawat tanaman terbukti membawa dampak yang signifikan dalam ketenangan dan pikiran yang makin positif. Hobi dari remaja ini sempat memudar saat saya sibuk bekerja dan kuliah Magister...

Read more