Review Buku How To Be A Stoic - Massimo Pigliucci

Published: Monday, 12 August 2019 Written by Dipidiff

 

Judul : How To Be A Stoic (Ancient Wisdom for Modern Living)

Penulis : Massimo Pigliucci

Jenis Buku : Filosofi

Penerbit : Ebury Publishing

Tahun Terbit : Mei 2017

Jumlah Halaman : 288 halaman

Dimensi Buku :  13.50 x 21.50 x 2.30 cm

Harga : Rp. 243.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9781846045073

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

 

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore

(ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2) dan

PERIPLUS YOGYA

(ig @periplus-malioboro, @periplus_hartonomall, @periplus_bandara_adisucipto_periplusbas3)

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Kapan pun kita khawatir tentang apa yang harus kita makan, bagaimana cara mencintai, atau sekadar bagaimana menjadi bahagia, itu berarti kita tengah khawatir dengan bagaimana cara menjalani kehidupan yang baik. Dalam How to Be a Stoic, filsuf Massimo Pigliucci menawarkan Stoicism, filosofi kuno yang menginspirasi kaisar besar Marcus Aurelius, sebagai cara terbaik untuk mendapatkan kehidupan tersebut. Stoicisme adalah filsafat pragmatis yang memusatkan perhatian kita pada apa yang mungkin dan memberi kita perspektif tentang apa yang tidak penting. Dengan memahami Stoicism, kita dapat belajar menjawab pertanyaan-pertanyaan esensial: Haruskah kita menikah atau berpisah? Atau bagaimana seharusnya kita menangani uang kita di dunia yang hampir hancur oleh krisis finansial? Atau bagaimana kita dapat selamat dari sebuah tragedi? Siapapun kita, Stoicism memiliki sesuatu untuk kita - dan How to Be a Stoic adalah buku panduannya yang utama.

 

Yuk kita intip daftar isinya:

 

Chapter 1: The Unstraightforward Path

Chapter 2: A Road Map for the Journey

 

PART I. DISCIPLINE OF DESIRE

WHAT IT IS PROPER TO WANT OR NOT TO WANT

Chapter 3: Some Things Are in Our Power, Others Are Not

Chapter 4: Living According to Nature

Chapter 5: Playing Ball with Socrates

Chapter 6: God or Atoms?

 

PART II. THE DISCIPLINE OF ACTIONS:

HOW TO BEHAVE IN THE WORLD

Chapter 7: It’s All About Character (and Virtue)

Chapter 8: A Very Crucial Word

Chapter 9: The Role of Role Models

Chapter 10: Disability and Mental Illness

 

CHAPTER III. THE DISCIPLINE OF ASSENT:

HOW TO REACT TO SITUATIONS

Chapter 11: On Death and Suicide

Chapter 12: How to Deal with Anger, Anxiety, and Loneliness

Chapter 13: Love and Friendship

Chapter 14: Practical Spiritual Exercises

 

Appendix: The Hellenistic Schools of Practical Philosophy

 

Buku How to Be A Stoic disusun berdasarkan tiga disiplin ilmu. Disiplin yang pertama adalah tentang keinginan - apa yang layak dan apa yang tidak pantas untuk diinginkan. Kita belajar membedakan apa yang ada dan apa yang tidak ada dalam kekuatan kita, agar pada gilirannya pemahaman ini bisa memberi kita kerangka kerja yang berguna untuk panduan dalam semua keputusan yang kita ambil dalam hidup. Penting pula untuk memahami sifat manusia dan tempat kita di alam semesta; letakkan faktor-faktor eksternal (kesehatan, kekayaan, pendidikan), atau kekurangan, dalam perspektif yang tepat.

Bagian kedua dari buku ini dikhususkan untuk mengeksplorasi disiplin dalam bertindak. Di sini akan dibahas pentingnya karakter dan tokoh panutan, perspektif atas kejahatan yang dilakukan orang-orang, dan bagaimana Stoicism dapat membantu orang-orang yang sedang menghadapi situasi yang sangat menantang, termasuk cacat fisik dan penyakit mental. Disiplin ilmu ketiga adalah disiplin dalam persetujuan. Di dalamnya dibahas kematian dan bunuh diri dalam pandangan Stoicism, seperti apa cinta dan persahabatan yang benar, serta bagaimana mengatasi kemarahan, kegelisahan, dan rasa sepi. Bagian ini lalu ditutup dengan panduan latihan mengaplikasikan Stoicism dalam kehidupan sehari-hari.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

 

Ternyata ini disain cover edisi terbaru buku How To Be Stoic ya. Saya baru menyadarinya saat menemukan judul yang sama tapi dengan cover yang berbeda di Amazon. com. Buat saya disain buku ini spesial juga, karena belum pernah menemukan buku dengan tipe yang sama. Cover versi sebelumnya justru lebih terlihat mainstream dibanding yang ini.

Kertas sampulnya yang dove (tidak glossy) dan huruf-hurufnya yang terasa timbul juga membuat disain fisik terasa berbeda. Hanya catatan untuk buku ini adalah pada ukuran huruf dan spasinya yang saya anggap lumayan rapat sehingga ada kemungkinan membuat pembaca merasa cepat lelah.

 

Opini - Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Teman-teman mungkin sudah familiar dengan buku yang satu ini (terutama pembaca Indonesia) karena buku ini disebut-sebut secara intens dalam buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring yang bestseller itu. Ya, inilah buku yang dimaksud oleh Henry Manampiring, yang ketika selesai membacanya ia merasa sangat terinspirasi dan bersemangat bangkit menjalani hidup. Stoicism pada kenyataannya memang sebuah filosofi jaman dahulu sekali, ancient. Begitu membaca buku ini, hal tersebut akan langsung terasa, bukan hanya karena nama-nama filsuf yang dimunculkan adalah nama-nama filsuf legendaris tapi juga bab 2 yang berisi sejarah Stoicism memang menceritakan asal mula filosofi yang satu ini, yakni 300 BCE.

 

Ciri khas yang saya temukan di buku ini adalah selalu ada kutipan ajaran filsuf di bawah tiap chapter. Seringkali kutipan ini berasal dari Epictetus, tapi ada juga yang milik filsuf lainnya, bahkan tokoh modern yang menggunakan Stoicism sebagai filosofi hidupnya.

 

Chapter 1

THE UNSTRAIGHTFORWARD PATH

Midway upon the journey of our life

I found myself within a forest dark,

For the straightforward pathway had been lost.

- Dante, THE DIVINE COMEDY: INFERNO, CANTO I

 

Chapter 2

A ROAD MAP FOR THE JOURNEY

What is the goal of virtue, after all, except a life that flows smoothly?

- Epictetus, DISCOURSES, L.4.

Page 17

Picture: Kutipan di bagian bawah tiap chapter

 

Ini bukan pertama kalinya saya membaca soal mengendalikan emosi dengan mengenali sumbernya dan menerima emosi itu sebagai bagian dari diri kita agar kemudian bisa kita kontrol dan arahkan ke hal-hal yang positif. Guru Zen dan penulis buku bestseller Haemin Sunim juga mengutarakan hal yang sama. Ini membuktikan bahwa memang benar jika Stoicism memiliki irisan dengan banyak agama dan keyakinan lainnya yang ada di dunia.

In reality, Stoicism is not about suppressing or hiding emotion – rather, it is about acknowledging our emotions, reflecting on what causes them, and redirecting them for our own good. It is also about keeping in mind what is and what is not under our control, focusing our efforts on the former and not wasting them on the latter. It is about practising virtue and excellence and navigating the world to the best of our abilities, while being mindful of the moral dimension of all our actions. As I explain in this book, in practice Stoicism involves a dynamic combination of reflecting on theoretical precepts, reading inspirational texts, and engaging in  mediation, mindfulness, and other spiritual exercises.

Page 2 

 

Menarik bahwa filosofi Stoic bisa membawa begitu banyak perubahan dalam diri manusia. Bahkan ini telah dibuktikan dengan semacam riset yang diselenggarakan oleh organisasi Stoic. Menurut ini tidak berlebihan, mengingat betapa esensial dan bernilainya prinsip-prinsip yang dimiliki oleh filosofi ini. Mereka yang menggunakan filosofi ini sebagai prinsip kehidupan mereka, seharusnya memang berkembang menjadi individu yang makin baik, terlepas apakah pada akhirnya yang bersangkutan seorang atheis atau pemeluk agama tertentu.

The preliminary results from the Exeter initative are tentative (in future Stoic Weeks, more sophisticated experimental protocols will be used and larger sample sizes collected), but they are promising. Participants in the third international Stoic Week, for instance, reported a 9 percent increase in positive emotions, and 11 percent decrease in negative emotions, and a 14 percent improvement in life satisfaction after one week of practice. (The previous were the team conducted longer-term follow-ups and they confirmed the initial results for people who kept practicing). ...

Page 8

 

 

Ketika membaca awal buku ini dan tahu bahwa Profesor Massimo seorang ateis, sempat khawatir juga bahwa buku ini akan persuasif ke arah non agama dan bahwa Tuhan itu tidak ada. Tapi Stoic ternyata tidak demikian, setidaknya begitulah yang saya pahami kemudian. Banyak pernyataan yang saya anggap cukup netral.

To a Stoic, it ultimately does not matter if we think the Logos is God or Nature, as long as we recognize that a decent human life is about the cultivation of one’s character and concern for other people (and even for Nature itself) and is best enjoyed by way of a proper – but not fanatical – detachment from mere worldly goods.

Page 11

 

Sejarah Stoicism cukup rinci ada di bab dua di buku ini. Bagian ini juga menarik perhatian saya, dan saya yakin juga menarik untuk mereka yang memang suka histori. Personally, bab ini membantu saya memahami awal mula filosofi Stoicism.

When I travel around in someplace new, I like to bring along a map of the territory. It gives me a sense of where I’m going, where I shouldn't go, and a context or all things I will be experiencing during the journey, this chapter is a map of the broad contours of Stoicism, as well as a summary of the guiding principles that structure the rest of the book, so that you may make the most out of this experience. I am convinced that we can hardly appreciate a philosophy or a religion (or any complex idea, really) without some understanding of its often nonlinier of path development, and so let’s begin with a closer look at the history of the philosophy that we are about to explore, and which you might decide to apply to your life.

Page 17

 

As the story is told by Diogenes Laertius in his Lives of the Eminent Philosophers, Stoicism began in Athens, Greece, aroudn the year 300 BCE. Zeno, a Phoenician merchant and ..

Page 17

 

Stoicism didn't come out of nowhere, of course. The early Stoics were heavily influenced by previous philosophical schools and thinkers, in particular by Socrates and by the Cynics, but also by the Academics (followers of Plato) (see the appendix for more on these different schools of thought). They spend a significant amount of time engaging rivals in lively debate, especially the Academics, the Peripatetics (followers of Aristotle), and of course the Epicureans. Epictetus, for instance, devotes three entire chapters of the Discourses to rebutting Epicurus. ..

Page 19

 

Ada beberapa gambar di buku ini, tapi jumlahnya tak banyak. Bisa dibilang buku ini padat dengan kalimat-kalimat yang tiap saat sarat dengan perenungan dan pemaknaan. Untuk mereka yang baru membaca buku bergenre filosofi mungkin akan menganggap buku ini berat, tapi bagi mereka yang sudah terbiasa atau memang menyukai campuran antara ajaran filosofi, interpretasi, berikut sejarahnya, buku ini justru menarik untuk disimak.

Picture: Beberapa gambar yang ada di dalam buku.

 

Profesor Massimo juga kerap membagikan pengalaman kisah hidupnya dalam tiap bab yang ada, kadang sebagai pengantar awal topik, dan seringnya sebagai salah satu analogi pemaknaan ajaran filosofi Stoicism yang sedang dibahas di bab bersangkutan. Hal ini membantu saya untuk memahami konteks dan makna dari versi asli kalimat filsuf Stoic yang ada.

I came to the United States back in 1990. I knew little of American culture – other than what could be gleaned growing up watching Hollywood movies and television series dubbed in Italian – and a close friend suggested that I start my informal education by reading a short novel by Kurt Vonnegut.

Slaughterhouse-Five, published in 1969, is a stranger work. The protagonist, Billy Pilgrim, finds himself abducted by an alien ...

Page 29

 

Misalnya, 

God, grant me the serenity to accept the things I cannot change,

Courage to change the things I can,

And wisdom to know the difference.

The prayer in its modern form is attributed to Reinhold Niebuhr, an American theologian who used it in his sermons as early as 1934. Today it’s best known because of its use in the meetings of Alcoholics Anonymous and a number of other twelve – step organizations. The same sentiment is detectable, however, across centuries and cultures. Solomon ibn Gabirol, and eleventh-century Jewish philosopher, expressed it this way: “And they said: At the head of all understanding – is realizing what is and what cannot be, and the consoling of what is not in our power to change.” Shantideva, an eight-century Buddhist scholar, similarly wrote: “If there’s a remedy when trouble strikes / What reason is there for dejection? / What if there is no help for it / What use is there in being glum?”

Page 30

 

 

Atau contoh yang ini saat membahas Something is in Our Power, Others are Not. Di bab ini ada satu alinea kalimat dari Epictetus yang pemaknaannya tidak gamblang begitu saja.

Here is how Epictetus rather bluntly explained it to me (I later realized that he meant to momentarily stun me in order to allow my mind to open up a bit and entertain a notion that had been alien up to that point):

What then is the proper training for this? In the first place, the principal and most important things, on the very threshold so to speak, is that when you are attached to a thing, not a thing which cannot be taken away but anything like a water jug, or a crystal cup, you should bear in mind what it is, that you may not be disturbed when it is broken. So should it be with person: if you kiss your child, or brother, or friend... you must remind yourself that you love a mortal, and that nothing that you love is your very own; it is given you for the moment, not for ever nor inseparably, but like a fig or a bunch of grapes at the appointed season of the year, and if you long for it in winter you are a fool. ...

Page 41

Tapi setelahnya Massimo menjelaskan makna dari kalimat tersebut sehingga bisa lebih mudah kita pahami. 

And yet, once I had time to reflect on it for a moment, I saw that Epictetus was not counseling me not to care for my loved ones, and moreover, that he was saying something true, as hard as it may be to swallow. Stoicism originated and thrives in times of political instability; people’s lives could be ..

Page 41

 

What Epictetus was telling me, then, was that it is best to look the reality of life straight in the face, with courage. And that reality includes the fact that no one is immortal, no one is “ours” in the sense that we are entitled to him or her. Understanding this is not just a way to maintain sanity when a loved one dies, or a dear friend leaves for another country. (Exile was common then, just as moving for economic reaasons or to escape violence and turmoil is now). Facing this reality also reminds us to enjoy the company and love of our fellow humans as much as possible while we can, trying hard not to take them for granted, because it is certain that one day we and they will be gone and the only right “season” for appreciating them will have passed. We always live hic et nunc – here and now.

Page 42

 

 

Pada akhirnya yang membuat filosofi Stoicism ini memiliki manfaat yang besar adalah kedalaman ajarannya sendiri. Meski tidak semua prinsip sejalan dengan apa yang telah saya yakini dan pegang teguh (terutama yang berkaitan dengan agama), tapi banyak hal mendasar yang bagus untuk kita ambil sebagai insight. Misalnya tentang memperlakukan orang lain seperti saudara sendiri, tidak membeda-bedakan, dan bersikap baik kepada siapa pun tak peduli apa agamanya, gendernya, atau rasnya karena menurut Stoicism kita semua adalah penduduk alam semesta.

The Stoic perfected this idea of ethical development and called it oikeiosis, which is often translated as “familiarization with” or “appropriation of” other people’s concerns as if they were our own. This led them (and the Cynics who immediately preceded them and influenced them greatly) to coin and use a word that is still crucial to our modern vocabulary: cosmopolitanism, which literally means “being a citizen of the world.” Or a Socrates – arguably the most important influence on all Hellenistic schools of philosophy – put it: “Never... reply to one who asks (your) country, ‘I am an Athenian,’ or ‘I am a Corinthian,’ but ‘I am a citizen of the universe.’”.

Page 61

 

Stoic juga mengedepankan karakter dan integritas. Banyak prinsipnya yang saya kagumi dan akui berkorelasi hingga masa kini. Justru di jaman sekarang lah kita perlu melihat kembali seperti apa filosofi orang-orang terdahulu yang telah membawa nama besar mereka yang menyandangnya, lalu merefleksikannya dalam kehidupan kita saat ini.

Better to endure pain in an honorable manner than to seek joy in a shameful one.

Page 75

 

 

Bab tentang Nature - God or Atom? mengangkat tokoh dan teori yang tentunya tak asing lagi buat kita, yakni Darwin. Perdebatan topik ini seolah tak ada habisnya untuk dibahas. 

Do not male and female and the desire of union and the power to use the organs adapted for it – do not these point to the craftsman?” This is a remarkable early example (since it was written in the second century CE) of what is known as the argument from design to support the existence of God. A variation of it was later used by prominent Christian theologians, such as Thomas Aquinas, and it is perhaps best know in the formulation of the nineteenth – century natural theologian William Paley, who articulated it just a few decades before Darwin wrote On the Origin of Species:

...

Page 80

 

Filosofi Stoic rupanya memang bisa diaplikasikan ke jaman modern saat ini. Jadi judul buku ini 'Ancient Wisdom for Modern Life' bukan sekadar 'jargon' kosong karena di chapter 10 Disabiliy and Mental Illness, Profesor Massimo mengangkat kisah hidup tiga orang manusia yang menggunakan filosofi Stoicism untuk menghadapi ujian hidup yang sangat berat, yakni polio, depresi, dan autis.

In this chapter, we will take momentary leave of our friend Epictetus and meet three modern Stoics who have stories to tell about how their philosophy helped them cope with the aftermath of polio, with depression, and with autism. We have seen that the ancients often taught by invoking real and imaginary role models, from Socrates to the demigod Heracles. The people we will encounter in this chapter are modern ...

Page 139

 

Carl Sagan populer ya pastinya. Ternyata tokoh Carl Sagan ini adalah idolanya Massimo saat masih kecil. Kok sama ya dengan kita ^^. 

The astronomer Carl Sagan, one of my scientific role models when I was a kid, invited us to reflect on the fact that we literally are stardust: the chemical elements of which we are made originated after the explosion of a supernova somewhere in the nightborhood of the solar system, and billions of years of evolution later such matter became ...

Page 161

 

Dan untuk bab penutup, Chapter 14 Practical Spiritual Exercise, adalah bab yang wajib dibaca pelan dan penuh perhatian karena di sini dijabarkan cara untuk menerapkan Stoicism dalam kehidupan sehari-hari di jaman modern saat ini.

 

Respon terhadap buku ini baik di Amazon maupun di Goodreads masuk ke rata-rata biasa. Versi terbarunya (buku yang saya baca) mendapat rating 5/5 di Amazon dengan jumlah reviewer di bawah 10. Kemungkinan ada revisi untuk buku terbaru ini, saya tidak bisa menyampaikan dengan pasti karena belum membaca buku versi awalnya. Pembaca yang memberikan rating 4 ke atas untuk buku How To Be A Stoic menyatakan rasa suka mereka pada buku ini karena memberikan insight dan pembelajaran tentang kehidupan. Ajaran filosofi Stoic dirasa sangat tepat dan bisa digunakan dalam banyak sisi kehidupan. Mereka juga menyukai buku ini karena adanya interpretasi yang jelas, lebih sederhana, dan lebih mudah dimengerti dibanding versi aslinya yang diungkapkan oleh para filsuf Yunani. Mereka yang memberikan rating rendah pada buku ini menganggap buku ini terlalu dangkal karena membahas Stoicism dari sudut pandang pengalaman pribadi penulis. Buku ini juga dianggap tidak memberikan panduan praktis yang lebih detail bagaimana menerapkan filosofi ini dalam kehidupan sehari-hari di jaman modern sehingga tidak berkesesuaian dengan judul yang diusung.

Personally, saya menganggap buku ini bagus dan menarik untuk dibaca. Sisi sejarahnya cukup memberikan gambaran awal mula filosofi ini ada, lalu interpretasi yang diberikan juga sederhana dan bisa dikorelasikan ke kehidupan nyata. Lapisan pembahasan filosofinya padat dan berhubungan. Model story telling dan dialog personalnya juga penjadi selingan yang menyegarkan. Ada banyak hal positif yang saya dapatkan dari buku ini. Ajaran Stoicism yang terdiri dari 3 disiplin ilmu dan 4 virtues sangat luar biasa apalagi jika diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Tapi harus diakui buku ini akan lebih tepat untuk pembaca yang baru pertama kali mengenal Stoicism dan tidak keberatan dengan perspektif personal Pigliucci dalam banyak pembahasannya. Saya juga akan lebih suka jika buku ini memiliki lebih banyak gambar pelengkap dan versi buku dengan ukuran huruf dan spasi yang lebih besar.

 

Siapa Massimo Pigliucci

Massimo Pigliucci (lahir 16 Januari 1964) adalah Profesor Filsafat Irani di City College di New York. Dia memegang gelar PhD dalam bidang genetika, biologi evolusi, dan filsafat, serta telah menulis banyak publikasi, termasuk di New York Times dan Washington Post. Sebelumnya ia adalah co-host dari Rationally Speaking Podcast, dan editor ketua majalah online Scientia Salon. Dia adalah seorang kritikus blak-blakan pseudoscience dan creationism. Pigliucci juga seorang penganjur faham sekularisme dan pendidikan sains.

Pigliucci sebelumnya adalah profesor ekologi dan evolusi di Universitas Stony Brook. Dia mengeksplorasi plastisitas fenotipik, interaksi genotipe-lingkungan, seleksi alam, dan kendala yang dikenakan pada seleksi alam oleh susunan genetik dan perkembangan organisme. Pada tahun 1997, saat bekerja di University of Tennessee, Pigliucci menerima Hadiah Theodosius Dobzhansky, yang diberikan setiap tahun oleh Society for the Study of Evolution untuk mengakui pencapaian seorang ahli biologi evolusi muda yang luar biasa. Sebagai seorang filsuf, Pigliucci tertarik pada struktur dan dasar teori evolusi, hubungan antara sains dan filsafat, dan hubungan antara sains dan agama.

Pigliucci menulis secara teratur untuk Skeptical Inquirer tentang topik-topik seperti penolakan perubahan iklim, desain cerdas, pseudosciense, dan filsafat. Ia juga menulis untuk Philosophy Now dan mengelola sebuah blog yang bernama"Rationally Speaking".

Pigliucci adalah seorang ateis. Ia percaya bahwa banyak ilmuwan dan pendidik sains gagal menghargai perbedaan-perbedaan ini. Pigliucci telah mengkritik para penulis Atheis Baru karena merangkul apa yang ia anggap sebagai saintisme (meskipun ia sebagian besar mengecualikan filsuf Daniel Dennett dari tuduhan ini). Dalam diskusi bukunya, Answers for Aristotle: How Science and Philosophy Can Lead Us to a More Meaningful Life, Pigliucci mengatakan kepada pembawa acara podcast Skepticality Derek Colanduno, "Aristoteles adalah pemikir kuno pertama yang benar-benar menganggap serius gagasan bahwa Anda memerlukan kedua fakta empiris , Anda memerlukan pendekatan berbasis bukti ke dunia dan Anda harus dapat merefleksikan makna fakta-fakta itu ... Jika Anda ingin jawaban atas pertanyaan moral maka Anda tidak bertanya kepada ahli neurobiologi, Anda tidak meminta ahli biologi evolusi, Anda bertanya kepada filsuf. " 

Pada tahun 2001, ia berdebat dengan William Lane Craig tentang keberadaan Tuhan.

Massimo Pigliucci mengkritik artikel surat kabar oleh Paus Francis dengan judul, "Dialog terbuka dengan orang yang tidak percaya". Pigliucci memandang artikel itu sebagai monolog daripada dialog dan, dalam tanggapan yang secara pribadi ditujukan kepada Paus Francis, menulis bahwa Paus hanya menawarkan kepada orang yang tidak percaya "penegasan kembali fantasi yang sepenuhnya tidak berdasar tentang Tuhan dan Putranya ... diikuti dengan kebingungan antara konsep cinta dan kebenaran, keseluruhan dibumbui oleh sejumlah besar revisionisme historis dan penolakan yang benar-benar dari segi terburuk Gereja Anda."

Pigliucci menjadi populariser Stoicism dan salah satu kekuatan pendorong kebangkitan Stoicism di Amerika Serikat pada awal abad kedua puluh satu. Esai 2015-nya untuk New York Times tentang topik ini adalah salah satu artikel yang paling banyak dibagikan hingga saat ini. Pigliucci mengatakan dia selalu merasa Stoicisme adalah bagian dari warisan Italia-nya, tetapi dia datang untuk mempraktikkannya setelah merasa kecewa dengan agama Buddha. Meskipun dia menemukan kedua aliran pemikiran untuk berbagi kesamaan.

Books:

  • Schlichting, Carl; Pigliucci, Massimo (1998). Phenotypic evolution : a reaction norm perspective. Sunderland, Mass.: Sinauer.
  • Tales of the Rational (Freethought Press, 2000): A series of essays on atheism, straw-man arguments, creationism and the like.
  • Phenotypic Plasticity (Johns Hopkins University Press, 2001): A technical volume on research concerning nature and nurture.
  • Denying Evolution: Creationism, Scientism, and the Nature of Science(Sinauer, 2002): This book covers the evolution-creation controversy, better science teaching, and why people have difficulties with critical thinking.
  • Phenotypic Integration (Oxford University Press, 2003): A collection of technical essays on the evolution of complex biological organs.
  • Making Sense of Evolution (with Jonathan Kaplan, University of Chicago Press, 2006): A philosophical examination of the fundamental concepts of evolutionary theory and practice.
  • Evolution: The Extended Synthesis (with Gerd B. Muller, MIT Press, 2010).
  • Nonsense on Stilts: How to Tell Science from Bunk, 2010): This book presents a number of case studies on controversial topics in order to examine how science is conducted, how it is disseminated, how it is interpreted, and what it means to our society.
  • Answers for Aristotle: How Science and Philosophy Can Lead Us to a More Meaningful Life (Basic Books, 2012)
  • Philosophy of Pseudoscience: Reconsidering the Demarcation Problem (with Maarten Boudry, eds., University of Chicago Press, 2013)
  • How to Be a Stoic: Using Ancient Philosophy to Live a Modern Life (Basic Books, 2017).

 

How to Be A Stoic mendapatkan rating 4.1/5 untuk buku versi lamanya dan 5/5 versi barunya di Amazon, 4.04/5 di Goodreads.

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca yang tertarik untuk mempelajari filosofi Yunani Kuno atau Stoicism khususnya, juga mereka yang mencari suatu pola pikir atau prinsip yang bisa digunakan untuk kehidupan di jaman modern saat ini. Buku ini dilengkapi dengan sejarah Stoicism, pembahasan tiga ilmu disiplin Stoicism (desire, action, and assent), serta 4 Stoic Virtues (wisdom, courage, justice, and tolerance), dan satu bab khusus di akhir buku yang memberikan panduan implementasi filosofi ini dalam kehidupan (to help us master the Stoic virtues). Pembahasan tiga disiplin ilmu ini mayoritas dimulai dengan sebuah kutipan dari Epictetus (a Greek philosopher) atau dialog personal dengan Epictetus, lalu diikuti dengan interpretasi yang berlapis dari beberapa filsuf lainnya (Epictetus, Cicero, Marcus Aurelius, etc) dan interpretasi yang lebih sederhana dari Pigliucci yang lebih mudah dimengerti serta bisa dikorelasikan dengan kehidupan modern masa kini. Di selingi cerita-cerita pengalaman hidup Pigliucci pribadi dan sesekali gaya pemaparan story telling membuat topik yang sebenarnya cukup berat untuk sebagian pembaca (karena membutuhkan perenungan dan fokus) menjadi lebih ringan terasa. Tidak banyak gambar pelengkap di buku ini. Semua bab tidak ada poin-poin khusus kesimpulan atau intisari, kecuali pada bab akhir saja (Practical Spiritual Exercise). Pembahasan tentang Nature mungkin agak sedikit sensitif karena menyangkut topik tentang Tuhan dan Sains dalam penciptaan alam semesta, tapi secara keseluruhan isi, buku ini dirasa cukup netral dan mengedepankan sikap saling menghormati keyakinan dan berfokus pada menjalani kehidupan sebaik mungkin berdasarkan tiga disiplin ilmu dan virtue. How to be Stoic adalah sebuah buku yang menjelaskan Stoicism dari sudut pandang dan pengalaman hidup Profesor Massimo Pigliucci.

My Rating : 4.5/5

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku How To See - Thich Nhat Hanh

17-09-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : How To See Penulis : Thich Nhat Hanh Jenis Buku : Self Improvement Penerbit : Ebury Publishing  Tahun Terbit : Juli 2019 Jumlah Halaman :  128 halaman Dimensi Buku : 11.00 x 15.60 x 0.70 cm Harga :...

Read more

Review Buku How To Own The Room - Viv Gr…

27-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : How to Own The Room Women and The Art of Brilliant Speaking Penulis : Viv Groskop Jenis Buku : Communication – Public Speaking Penerbit : Transworld Publishers Ltd  Tahun Terbit : Desember 2018 Jumlah Halaman : ...

Read more

Review Buku Wabi Sabi (Japanese Wisdom f…

27-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Wabi Sabi Japanese Wisdom for a Perfectly Imperfect Life Penulis : Beth Kempton Jenis Buku : Philosophy – Self Improvement Penerbit : Harper Design Tahun Terbit : Desember 2018 Jumlah Halaman :  256 halaman Dimensi Buku : ...

Read more

Review Buku Money - Yuval Noah Harari

18-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Money Penulis : Yuval Noah Harari Jenis Buku : Non Fiction History - Economy Penerbit : Vintage Publishing Tahun Terbit : April 2018 Jumlah Halaman : 144 halaman Dimensi Buku :  11.20 x 27.40 x 1.60 cm Harga...

Read more

TERBARU - Buku Indonesia & Terjemahan

Review Buku #MO - Rhenald Kasali

18-09-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : #MO Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham Penulis : Rhenald Kasali Jenis Buku : Ekonomi - Bisnis Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman :  446 halaman Dimensi Buku :  15...

Read more

Review Buku Wild Hearts (Ancaman Masa La…

28-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Wild Hearts (Ancaman Masa Lalu) * Harlequin Penulis : Sharon Sala Disain Sampul : Marcel A.W. Jenis Buku : Fiksi Romance Suspense - Misteri Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku A Song of Shadows (Kidung Ba…

14-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : A Song of Shadows (Kidung Bayang-Bayang) Penulis : John Connolly Disain Sampul : Edward Iwan Mangopang Jenis Buku : Detektif Kriminal – Misteri - Suspense Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah...

Read more

Review Buku 64 Tips dan Trik Presentasi …

31-03-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : 64 Tips dan Trik Presentasi Public Speaking Mastery in Action Penulis : Ongky Hojanto Disain Sampul : Orkha Creative Jenis Buku : Non Fiksi - Komunikasi Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit :...

Read more

TERBARU - LIFE STORY

The Best Way to Start a New Habit

18-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Banyak orang termasuk saya yang hidupnya penuh rencana perbaikan diri. Fokus pada menemukan kebiasaan baru dan berusaha menghilangkan kebiasaan lama seolah sudah jadi agenda sehari-hari. Tapi niat dan realisasi kadang...

Read more

How To Deal with Anger, Anxiety, and Lon…

17-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Ini artikel pertama di blog saya yang membahas satu topik tertentu dalam buku yang saya baca. Harapan saya sederhana, yakni semoga ilmu dan wawasan positif yang saya dapatkan dari buku-buku...

Read more

The Five Things Your Website Should Incl…

17-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Website dan blog adalah portal wajib perusahaan masa kini. Penyebabnya tentu saja adalah kemajuan teknologi seperti internet dan gadget. Jaman sekarang memiliki bisnis tak harus memiliki bangunan fisik, cukup dengan...

Read more