Review Buku Papillon - Henri Charriére + Review Film Papillon by Mo

Published: Saturday, 02 February 2019 Written by Dipidiff

 

Judul : Papillon 

Penulis : Henri Charriere

Jenis Buku : Autobiografi - Memoar

Penerbit : Noura Publishing

Tahun Terbit : 2018

Jumlah Halaman :  636 halaman

Dimensi Buku :  14 Cm / 21 Cm

Harga : Rp.115.000

ISBN : 978-602-385-299-4

 

Softcover

Edisi Terjemahan

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Hanya ada satu aturan: keheningan absolut. Tidak boleh ada interaksi, tidak boleh ada percakapan. Penjara tidak “melunakkan”, penjara bertugas menghancurkan—fisik dan mental. Meracuni benak, menindas harapan, hingga tidak ada lagi yang tersisa selain rasa takut, dan kematian menjadi pilihan yang lebih masuk akal.

Kabur dari neraka berjeruji itu menjadi satu-satunya tujuan hidup Henri Charrière. Berkali-kali gagal, berkali-kali kembali tertangkap, tetap tak melunturkan tekadnya mendapatkan kebebasan.

Kisah perjuangan hidup Henri dituangkan dalam buku sensasional ini, yang terjual lebih dari 1,5 juta kopi di Prancis sejak perilisannya.

Henri Charrière, dijuluki "Papillon," karena tato kupu-kupu di dadanya, dihukum di Paris pada tahun 1931 atas pembunuhan yang tidak dilakukannya. Dijatuhi hukuman penjara seumur hidup di koloni penjara Guyana Prancis, ia menjadi terobsesi dengan satu tujuan: melarikan diri. Setelah merencanakan dan melaksanakan serangkaian upaya berbahaya namun gagal selama bertahun-tahun, ia akhirnya dikirim ke penjara terkenal, Devil's Island, tempat di mana tidak ada yang pernah bisa melarikan diri. . . sampai Papillon melakukannya.

Papillon adalah sebuah autobiografi Charrière yang menakjubkan, pertama kali diterbitkan di Prancis tahun 1968, lebih dari dua puluh tahun setelah pelarian terakhirnya. Buku ini kemudian diangkat menjadi film yang diperankan oleh Charlie Hunnam sebagai Henri dan Rami Malek sebagai Louis Dega.

“A first-class adventure story.” — New York Review of Books

 

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya


Buku ini tebal, untungnya ukuran huruf tidak terlalu kecil dan spasinya juga lumayan. Tidak ada gambar ilustrasi tentu saja. Tadinya saya mengharapkan sebuah gambar peta, tapi ternyata tidak ada.

Disain covernya yang versi movie menarik menurut saya. Tentu saja setelah membaca bukunya dan memperhatikan wajah dua pemain utama film yang ada di sampul buku, saya jadi penasaran seperti apa versi movie buku ini. Dalam hal ini ada Mo yang membantu saya untuk melengkapi review, Buku vs Movie. Terimakasih banyak ya Mo ^^.

 

Tokoh dan Karakter


Ada banyak tokoh di dalam cerita. Autobiografi ini seperti kisah petualangan, hingga banyak tokoh yang terlibat di dalamnya. Tapi tokoh utama kita tentu saja adalah Henri Charriére, seorang narapidana tak bersalah, yang cerdas, pandai berstrategi, berani, dan tak kenal putus asa. Lalu ada Louis Dega, sahabatnya di penjara yang menolak ikut Henri melarikan diri dan memilih tetap di penjara pengasingan. Dega sangat setia kawan.

 

Deskripsi para tokoh memadai, jika tidak bisa dibilang detail. Misalnya,


Jika mereka adalah tentara atau polisi, mereka mengenakan seragam yang aneh: celana lotor yang berwarna putih dan sweter wol yang penuh lubang dan tentunya tidak pernah dicuci. Mereka bertelanjang kaki kecuali “komanda” mereka yang lebih bersih dan berpakaian lebih baik. Namun, walaupun pakaian mereka compang-camping, senjata mereka tidak. Mereka dipersenjatai dengan lengkap, masing-masing dilengkapi tas peluru yang penuh, sebuah senapan tentara kelas satu, dan untuk berjaga-jaga, belati besar dalam sarungnya. “Komandan” mereka tampak seperti pembunuh berdarah campuran; sebuah revolver menggantung dari sabuk penuh amunisi. Karena mereka berbicara bahasa Spanyol, kami tidak mengerti apa yang mereka katakan. Namun, ekspresi dan suara mereka menunjukkan permusuhan.

Halaman 166

 

Kami berjalan tiga jam ketika melihat seorang lelaki berkuda mendekati kami. Dia menggunakan topi jerami besar, sepatu bot, sesuatu yang mirip sarung bantal kulit panjang alih-alih celana, kaus hijau, dan jaket hijau belel. Dia dipersenjatai dengan sebuah senapan mesin yang bagus serta revolver besar yang menjuntai di sabuknya.

Halaman 179

 

Alur dan Latar


Cerita disampaikan dari sudut pandang orang pertama, yakni Henri Charriére. Alurnya sebenarnya maju, tapi karena kadang ada bagian flash back saat Henri mengingat suatu kejadian, maka terkesan beralur campuran. Endingnya tertutup. Ini sebuah autobiografi yang berakhir 'bahagia' dengan penekanan unsur lain dalam cerita.

Latar autobiografinya berlokasi di Devil’s Island, French Guieana, dan Paris Perancis.

 

Latarnya dideskripsikan dengan baik, misalnya,


Aku melangkah memasuki ruangan persegi yang besar, rumah bagi seratus dua puluh orang. Seperti dalam barak-barak di Saint-Laurent, palang besi sepanjang sisi jeruji hanya dipisahkan oleh pintu dan hanya ditutup pada malam hari. Terentang ketat antara dinding dan palang itu, ada buaian yang dipakai untuk tidur. Itu tidak seperti tempat tidur gantung yang kutahu, tetapi bersih dan nyaman. Di atas setiap buaian ayun ada dua rak, satu untuk pakaian, satu lagi untuk menaruh makanan, alat makan, dan lain-lain. Di antara deretan tempat tidur gantung, ada gang selebar tiga meter yang kami sebut “tempat berjalan”. Orang-orang yang tidanggal dalam komunitas-komunitas kecil disebut...

Halaman 365

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Bab awal yang menjelaskan asal mula ditulisnya buku ini perlu untuk dibaca. Autobiografi memang membutuhkan pengantar yang jelas.

Ada banyak catatan kaki di sepanjang halaman yang berisikan beragam penjelasan tentang istilah atau informasi tertentu.

Bab Buku Catatan Pertama - Tersungkur ke Neraka - adalah bab utobiografinya. Di bab ini kisah hidup Henri langsung diceritakan saat ia disidang untuk pertama kalinya atas kasus pembunuhan yang tidak ia lakukan. Toh tetap saja ia masuk penjara. Bagian ini memang membawa kita segera pada inti autobiografinya, tapi di satu sisi saya jadi bertanya-tanya seperti apa kehidupan dan karakter Henri sebelum hidup dalam jeruji. Kasus pembunuhannya pun tidak dijelaskan secara detail. Rasanya semacam ada mata rantai yang hilang karenanya.

 

Apa yang dipikirkan mereka di penjara tergambar dengan jelas, misalnya,

Pakaian dalam katun yang kukenakan beberapa saat sebelumnya digantikan kain kaku yang berat dan tidak dikelantang, dan setelan tampanku berupa jaket dan celana digantikan kain karung kasar. Sepatuku lenyap dan aku memasukkan kakiku ke sepasang kasut. Hingga saat itu, kami tampak seperti lelaki normal. Aku menatap keenam orang lainnya: betapa mengerikannya! Individualitas kami hilang; dalam dua menit saja kami telah berubah menjadi pesakitan.

“Hadap kanan, satu baris! Siap, jalan!”

Di bawah pengawalan dua puluh penjaga, kami tiba di pelataran. Di sana, kami dijejalkan satu per satu ke dalam sel sempit mobil van polisi. Kami berangkat ke Beaulieu, penjara di Caen.

 

Diceritakan kekerasan yang terjadi di dalam penjara. Misalnya,

Dia menendang perutku dan membuatku kembali terjatuh. Kemudian, dia mencambukku dengan cemeti kerbaunya. Itu berlebihan bagi Julot. Dia meloncat ke tubuh pria itu, kemudian terjadi pergumulan liar. Karena Julot kalah, para penjaga berdiri mencari semacam senjata. Tiba-tiba, aku melihat sang dokter membungkuk dari kursi kerjanya untuk melihat apa yang terjadi di koridor, dan pada saat yang sama aku melihat sebut tutup bergerak-gerak di atas air mendidih. Panci enamel besar itu terletak di atas kompor batu bara yang menghangatkan kantor dokter. Uapnya mungkin dipakai untuk memurnikan udara.

Aku segera mengambil pegangan panci – aku terbakar, tetapi tidak kulepaskan – dan dalam gerakan yang sama, aku menyiramkan air mendidih ke wajah si trusty. Dia tidak melihatku karena di sibuk dengan Julot. Dia melolong kesakitan. Aku benar-benar tepat sasaran. Dia berguling di lantai,berusaha melepaskan sweter wol tig lapisnya.

Ketika dia melepaskan sweter ketiganya, kulitnya menempel. Leher sweternya ketat, dan dalam usahanya untuk ...

Halaman 29

 

Siksaan dan kegilaan yang dialami oleh para tahanan di sel khusus juga ada. Sel khusus ini juga memiliki peraturan 'keheningan'. Para tahanan tidak diperbolehkan bersuara dan berbicara. Tampaknya keheningan inilah yang dimaksud dalam sinopsis buku. Akibat aturan ini rata-rata tahanan sel khusus mati atau menjadi gila.

Sepuluh hari lagi dua ratus empat puluh jam.

Barangkali taktikku untuk tidak bergerak berhasil, atau surat dari teman-temanku telah membangkitkan semangatku. Apa pun itu, aku merasa lebih kuat, dan perasaan itu ditambah dengan perbedaan kontras antara aku – dua ratus empat puluh jam menuju pembebasan, tetapi dengan jiwa dan raga yang utuh – dan orang yang berada dalam sel dua meter dariku yang baru memasuki fase pertama kegilaan. Dia tidak akan hidup lama karena pemberontakannya memberi mereka lampu hijau untuk menyiksanya dengan leluasa, dengan kekejaman selicin mungkin, dirancang untuk membunuh dengan cara seilmiah mungkin.

Halaman 340

 

Bagian dimana Henri mencari cara untuk bisa 'beradaptasi' dengan cepat di tiap penjara juga menjadikan buku autobiografi ini menarik untuk dibaca. Tiap penjara punya aturan masing-masing. Misalnya,

Kini, aku tinggal di Gedung A dengan seratus dua puluh orang temanku. Sulit untuk belajar hidup dalam komunitas di mana kau akan dengan mudah dilupakan. Pertama-tama, kau harus memastikan bahwa kau berbahaya. Begitu mereka takut padamu, kau harus mendapatkan rasa hormat mereka dengan caramu berhadapan dengan para penjaga – kau tidak akan pernah menerima pekerjaan tertentu, kau menolak bekerja dengan kelompok tertentu, kau tidak pernah mengakui otoritas para penjaga, kau tidak pernah mematuhi perintah, bahkan jika itu berarti kau akan bermasalah dengan para penjaga. Jika kau berjudi semalaman, kau melewatkan absen. Orang kepercayaan di case kami (gedung-gedung ini disebut case) akan berseru “sakit di tempat tidur”. Di dua case lain, biasanya para penjaga menyuruh yang “sakit” untuk mengabsen. Hal ini tidak pernah terjadi kepada kami. Tentu saja, apa yang paling diinginkan semua orang – dari peringkat tertinggi sampai yang terendah – adalah bagne yang damai.

Halaman 361

 

Buku ini tidak hanya berisi kisah Henri saat ditahan, atau petualangannya yang mencengangkan saat mengarungi lautan, tapi juga kisah penuh emosi dalam persahabatannya dengan teman-temannya yang setia, orang-orang yang membantunya dalam pelarian, dan orang asing yang kemudian menjadi saudara dan keluarganya. Episode yang paling menentukan dalam hidup Henri salah satunya yakni di perkampungan Indian.

Selamat tinggal, Lali dan Zoraima, istri-istri yang tak bisa dibandingkan, begitu dekat dengan alam, begitu spontan. Aku pasti akan kembali. Kapan? Bagaimana? Aku tidak tahu, tetapi aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku akan kembali.

Saat siang hampir berakhir, Zorilla naik ke kudanya dan kami berangkat ke Colombia. Aku mengenakan topi jerami dan berjalan, memegangi kekang kudaku. Setiap indian menyembunyikan wajah di balik lengan kiri dan mengulurkan tangan kanan mereka. Hal ini menunjukkan kepadaku bahwa mereka tidak ingin aku pergi, bahwa itu membuat mereka sedih. Tangan kanan diulurkan untuk berusaha mencegahku pergi. Lali dan zoraima berjalan denganku sejauh seratus meter. Kupikir mereka akan menciumku ketika tiba-tiba mereka berbalik, menangis, dan berlari ke gubug tanpa menoleh lagi.

Halaman 220

 

Terkadang ceritanya tak cuma berisi ketegangan, adegan kekerasan, dan kisah petualangan, tapi juga kesedihan yang sederhana tapi mendalam.

“Aku sudah cukup. Sudah berakhir.”

Dia meninggal beberapa hari kemudian di rumah sakit Royale. Usianya tiga puluh dua dan dia dihukum dua putuh tahun untuk pencurian sepeda yang tidak dilakukannya.

Halaman 343

 

Buku autobiografi Papillon ini mendapatkan rating yang bagus baik di Amazon maupun di Goodreads. Mereka yang memberikan rating tinggi untuk Papillion menyebutkan betapa terpesonanya mereka pada cerita-cerita yang ada di buku. Kisah hidup Henri di buku ini membangkitkan emosi. Detailnya membuat pembaca merasa seolah-olah berada di lokasi kejadian, turut bertahan, melarikan diri, menangis, mencintai, dan hidup seperti Henri. Ada juga yang memberikan rating rendah pada buku Papillon, meski jumlahnya sangat sedikit. Menurut mereka banyak cerita dalam buku autobiografi Papillon yang dibesar-besarkan, dan banyak pula bagian dalam cerita yang disengketakan karena diragukan kebenarannya.

Saya secara pribadi menyetujui betapa detailnya berbagai kisah yang ada dalam buku Papillon hingga bertanya-tanya benarkah sekuat itu memori seorang Henri sehingga bisa menggambarkan dengan baik ciri fisik, ucapan, ekspresi, latar, dan pakaian yang dikenakan oleh orang-orang di masa lalunya. Papillon jelas mengangkat sudut pandang kepahlawanan dalam diri Henri, yang kadang terasa timpang untuk sebuah autobiografi tetapi juga sah-sah saja sebenarnya. Di luar itu semua, saya setuju bahwa narasi dalam buku ini sangat bagus. Episode kehidupan Henri yang ditonjolkan juga punya nilai jual sehingga tak heran jika buku ini kemudian difilmkan. Petualangannya, ketegangannya, pesan hidupnya, dan sisi emosinya melengkapi satu sama lain.

Sentilan terhadap kejamnya perlakuan kepada tahanan di penjara-penjara Perancis masa itu juga terasa di dalam tulisan. Bagian ini banyak mengingatkan saya pada buku Gulag karya Solzhenytsin yang juga merupakan buku autobiografi tentang kisah hidup Solzhenytsin di penjara Stalin yang kejam. Dalam hal ini saya lebih menyukai buku Gulag karena ditulis lebih mirip esay dan lebih terasa keorisinalitasannya.

Pada akhirnya saya memang lebih menikmati Papillon persis seperti saat saya membaca karya fiksi ketimbang sebuah autobiografi. Seperti komentar salah satu pembaca di Amazon, mungkin akhirnya ada bagian dalam diri kita yang nanti tidak begitu peduli benar atau tidaknya kisah-kisah yang disampaikan Henri, karena buku ini bukan cuma menghibur tapi juga menginspirasi keberanian dan daya juang.

 

Siapa Henri Charriere

Lahir pada 16 November 1906 dan ditahan pada 1931 atas tuduhan pembunuhan, Henri Charierre akhirnya berhasil melarikan diri pada 1945 ke Venezuela, tempat dia menikah, tinggal di Caracas, dan membuka sebuah restoran.

Papillon adalah kisah nyata Henri tentang kehidupan penjara dan pelarian-pelarian yang dia lakukan dalam periode 14 tahun, dari 1931-1945 dan pertama kali diterbitkan di Prancis pada 30 April 1969. Pada masa perilisannya, Papillon menjadi sensasi dan langsung masuk daftar buku terlaris, menduduki posisi pertama selama 21 minggu dan terjual sekitar 1,5 juta kopi di Prancis saja. Sejak itu, buku ini sudah diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa.

Henri meninggal pada 29 Juli 1973 pada usia 67 tahun.

Autobiografi Papillon mendapatkan rating 4.6 di situs Amazon 4.6, dan 4.2 di Goodreads.

 

Rekomendasi


Buku ini saya rekomendasikan pada pembaca dewasa yang menyukai karya memoar - autobiografi yang mengangkat kisah hidup Henri yang melakukan pelarian berulangkali dari penjara tempatnya ditahan akibat pembunuhan yang tidak ia lakukan. Ceritanya penuh petualangan, membangkitkan emosi, dan menarik untuk disimak. Sisi positif dari tokoh Henri terasa mendominasi karya ini, membuatnya terlihat seperti figur pahlawan. Kisah hidup Henri memang menginspirasi. Meski ini autobiografi, tapi narasi dan alur ceritanya luwes seperti fiksi. Terjemahannya yang baik menunjang kenyamanan kita saat membaca.
Catatan : hanya pembaca dewasa (adegan kekerasan, topik seksual)

My Rating 4.2/5.

 

Buku Papillon telah diadaptasi ke dalam film. Untuk review filmnya akan disampaikan oleh Mo, sahabat saya. Untuk yang ingin tahu lebih banyak tentang Mo, silakan langsung ke ig nya ya @ujang_cozmo.

 

Review Film Papillon By Mo

 

 
PAPILLON
"Kisah antara Perjuangan Hidup, Persahabatan dan Keheningan"
 
Oleh: Mo
 
Film ini dibuat berdasarkan kisah nyata yang disadur dalam novel memoar yang berjudul serupa. Novelnya sendiri pertama kali diterbitkan tahun 1969 di Perancis. Henri Charrière (Papillon) yang merupakan penulis dan tokoh sentral dalam cerita ini memaparkan pahit getir perjuangannya selama pengasingan dipenjara dalam film yang berdurasi 2 Jam 13 menit ini. 
Film yang dirilis tahun 2018 ini merupakan film remake dari film yang berjudul sama yang pertama kali diangkat ke layar lebar tahun 1973. Michael Noer sebagai sang sutradara baru mengemban tugas yang cukup berat mengingat kesuksesan film terdahulunya yang digawangi oleh Franklin J. Schaffner dan penulis naskah kawakan Dalton Trumbo. Papillon (1973) sendiri adalah karya terakhir dari Trumbo sebelum ia meninggal. Dari segi bisnis, film terdahulunya sukses meraup keuntungan lebih dari dua kali lipat modal produksinya, dan dari sisi sinematografi, Steve McQueen sebagai pelakon utama atas aktingnya yg cemerlang, sukses menjadi nominator aktor terbaik dalam penghargaan bergengsi Golden Globe Award.
 
Film Papillon (2018) berkisah tentang Henri "Papillon" Charrière (Charlie Hunnam) seorang penjahat flamboyan dari Perancis yang ahli dalam mencuri dan membobol berangkas. Dengan setting film tahun 1930an film ini cukup baik menerjemahkan kehidupan sosial dan kejahatan pada masanya.
 
Intrik mulai terjadi ketika alih alih menyetorkan hasil curian ke Bossnya, Papi malah menyembunyikan sebagian hasil curiannya dan memberikannya pada Nennete (Eve Hewson) seorang wanita penghibur yang juga merupakan kekasihnya. Atas perbuatannya Papi kemudian dijebak dan dituduh melakukan pembunuhan hingga ia dihukum penjara seumur hidup dan dibuang ke penjara di Guiana sebuah daerah di Amerika Selatan yg  pada saat itu adalah daerah koloni Perancis.
 
Di penjara Papi kemudian bertemu dengan Louis Dega (Rami Malek), seorang hartawan yang dipenjara karena kasus penipuan dan pemalsuan surat berharga. Dega yang kaya raya tapi bertubuh kurus dan ringkih segera saja menjadi incaran pemerasan dan pembunuhan napi lainnya. Dan disinilah Papi yang bertubuh kuat dan kekar memasang badan serta membuat kesepakatan untuk menjaga Dega sampai proses banding hukumnya selesai dan ia dibebaskan, kesepekatan dengan imbalan tentunya. Sebuah kesepakatan bisnis yang pada akhirnya berubah menjadi persahabatan kuat antara mereka, karena Dega urung dibebaskan dan persahabatan inilah yang menjadi akar dari film ini.
 
Film ini memiliki alur yang sangat lambat dan dibeberapa bagian sangat membosankan. Jangan harap anda akan mendapatkan rencana pelarian yang rumit ataupun suasana kejar-kejaran yang mendebarkan. Jadi hilangkan dibenak anda akan mendapatkan pengalaman  menonton film pelarian penjara seperti The Shawhank Redemption, Escape from Alcatraz dan lain-lain. Walaupun pada akhirnya pelarian diri pulalah yang menjadi ending dari filmnya.
 
Genre film ini untuk dewasa, jadi tidak heran jika dibeberapa cuplikan anda akan disajikan kemolekan dan keindahan tubuh wanita tanpa benang sehelaipun.  Dibeberapa scene lainnya justru sebaliknya, anda mungkin akan merasa tidak nyaman karena harus melihat bagaimana proses narapidana mengeluarkan uang yang diselundupkannya ke penjara dengan cara memasukkannya dalam cangkang cankang yang dikeluarkan lewat dubur. Tapi tidak seperti dalam novelnya, adegan hubungan intim sesama jenis tidak banyak disentuh pada filmnya.
 
Selama berpuluh menit selanjutnya anda hanya akan disuguhkan kisah bagaimana Papi membantu dan menyelamatkan Dega berulang kali, serta bagaimana perjuangan keras mereka untuk melarikan diri dari penjara. Saya sendiri terkadang gemas karena Dega sebagai pria terkesan terlalu lemah, feminis, serta tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Alur film mulai merangkak naik dan berirama manakala Papi berhasil kabur dari penjara setelah menghantam kepala sipir yang hendak memukuli Dega, tapi sayangnya ia tertangkap kembali dan atas perbuatannya ia kemudian di ganjar hukuman isolasi di penjara yang sempit dan gelap selama dua tahun. Dan keheninganpun dimulai.
 
Tema keheningan mengambil porsi yang cukup banyak di film ini, dalam keheningan penjara dimana para napi tidak diperkenankan untuk berbicara dan membuat suara, anda dapat melihat perjuangan Papi untuk hanya sekedar bertahan hidup dan mempertahankan kewarasannya. Penggambaran sosok Papi yang kelaparan dalam keheningan sangat apik terlihat, Charlie Hunnam sang pelakon tokoh Papi yang sebelumnya terkenal karena berakting dalam film Pacific Rim dan King Arthur dipaksa untuk menanggalkan tubuhnya yang berotot untuk menyesuaikan dengan alur. Sebuah pengorbanan yang layak saya pikir, walaupun sedikit ganjil dikarenakan pada scene selanjutnya ia terlihat sudah berotot dan kekar kembali.
 
Penasaran saya timbul justru diluar konteks isi film, yaitu pada banyaknya gambar kupu-kupu yang muncul di film tersebut. Jika anda jeli di poster filmnya anda bisa mendapati siluet kupu-kupu, dan gambar kupu-kupu muncul kembali di beberapa bagian film Papillon, seperti pada tattonya Papi serta pada sobekkan seragam napi yang diberikan Dega diakhir cerita. Hal itu membuat saya berpikir untuk mencari arti kata "Papillon" nama alias dari Henri Charrière, dan ternyata benar dugaan saya, kupu-kupu dalam bahasa Perancis tak lain adalah Papillon.
 
Kembali ke film, penokohan Henri "Papillon" Charrière, sangat cocok sekali dibawakan oleh aktor Inggris Charlie Hunnam, perawakannya yang besar dan garis wajah yg keras memperkuat kesan maskulin karakter yang dibawakan. Tapi yang menarik perhatian saya justru lebih ke peran Louis Dega yang dibawakan oleh Remi Malek, Malek sekarang dikenal luas berkat aktingnya yang memukai di serial tv Mr.Robot dan juga perannya sebagai Freddie Mercury di film Bohemian Rhapsody. Malek di film ini sukses menyelami dan menerjemahkan sosok Dega yang pintar, kikuk tapi sekaligus ringkih. Penggambaran dua tokoh inilah yang menjadi daya tarik kuat film ini. Dalam film ini juga anda akan dapat memahami bahwa isu HAM bukanlah hal yang dianggap penting kala itu dan khususnya di tempat itu. Anda akan mendapati buraian usus napi yang sengaja dikoyak oleh napi lainnya untuk mendapatkan uang yang disembunyikan di tubuhnya, andapun akan melihat potongan kepala dari napi yang dihukum mati karena membunuh sipir, beragam adegan napi yang mati lainnyapun akan kerap anda dapati. Kematian menjadi hal yang lumrah, nyawa merupakan sesuatu yang tak berharga di lingkungan dimana orang-orang hanya hidup untuk sekedar tidak mati.
 
Setelah dari isolasi akhirnya Papi bertemu kembali dengan Dega yang ternyata sudah menjadi staf penjara, akhirnya mereka merencanakan kembali pelariannya bersama dua temannya yang lain yaitu Cellier dan Maturette. Kali ini mereka berhasil, setelah menyuap mereka bisa mendapatkan perahu. Konflik timbul kembali karena ketika melarikan diri, Dega kakinya patah, alih alih meninggalkannya sesuai saran Cellier, Papi bersikukuh untuk membawa dan membopong sahabatnya tersebut. Ketika terombang ambing di laut mereka menyadari bahwa perahu mereka tidak bisa menampung 4 penumpang, konflik muncul kembali karena Callier menganggap Dega tidak berguna dan membebani kelompok. Niatan Cellier tak lain dan tak bukan adalah hendak mengorbankan Dega untuk menyelamatkan penumpang yang lainnya. Tapi yang terjadi kemudian adalah pergumulan dan akhirnya Papi dan Degalah yang balik membunuh Cellier. Setelah membunuh Cellier akhirnya Papi, Dega dan Maturette terombang ambing badai dan terdampar disebuah pulau. Mereka kemudian diselamatkan oleh seorang Missionaris, setelah beberapa hari ternyata biarawati tersebut melaporkan dan menyerahkan mereka kembali ke sipir penjara. Atas aksinya tersebut Maurettr terbunuh, Dega dihukum dan Papi sendiri dimasukkan kembali ke penjara isolasi dan keheningan kedua pun dimulai. Selama 5 tahun Papi harus berjuang kembali, kelaparan, kelelahan fisik dan mental. Ajaibnya Papi dibanding memilih untuk bunuh diri, ia justru berhasil bertahan, sebuah kekuatan mental yang luar biasa pikir saya. Dan setelah keluar dari penjara isolasi ia kemudian ia dipindahkan ke Devil's Island sebuah pulau terisolir untuk menjalani hukumannya sampai mati.
 
Di pulau itu kembali lagi Papi bertemu dengan sahabatnya Dega yang kali ini sudah cacat, dapatkah mereka berdua meloloskan diri dari Pulau Setan? Bagaimanakan kelanjutan kisah persahabatan mereka? Ow ow ow kawan, anda harus menontonnya langsung untuk mengetahui akhir ceritanya.
 
Film ini mendapatkan rating 7.1 (imdb), 52% (rotten tomtoes), 51% (metacritic), dan secara subjektif untuk saya film ini mendapat nilai 7/10. 
 
 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku How To See - Thich Nhat Hanh

17-09-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : How To See Penulis : Thich Nhat Hanh Jenis Buku : Self Improvement Penerbit : Ebury Publishing  Tahun Terbit : Juli 2019 Jumlah Halaman :  128 halaman Dimensi Buku : 11.00 x 15.60 x 0.70 cm Harga :...

Read more

Review Buku How To Own The Room - Viv Gr…

27-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : How to Own The Room Women and The Art of Brilliant Speaking Penulis : Viv Groskop Jenis Buku : Communication – Public Speaking Penerbit : Transworld Publishers Ltd  Tahun Terbit : Desember 2018 Jumlah Halaman : ...

Read more

Review Buku Wabi Sabi (Japanese Wisdom f…

27-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Wabi Sabi Japanese Wisdom for a Perfectly Imperfect Life Penulis : Beth Kempton Jenis Buku : Philosophy – Self Improvement Penerbit : Harper Design Tahun Terbit : Desember 2018 Jumlah Halaman :  256 halaman Dimensi Buku : ...

Read more

Review Buku Money - Yuval Noah Harari

18-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Money Penulis : Yuval Noah Harari Jenis Buku : Non Fiction History - Economy Penerbit : Vintage Publishing Tahun Terbit : April 2018 Jumlah Halaman : 144 halaman Dimensi Buku :  11.20 x 27.40 x 1.60 cm Harga...

Read more

TERBARU - Buku Indonesia & Terjemahan

Review Buku #MO - Rhenald Kasali

18-09-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : #MO Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham Penulis : Rhenald Kasali Jenis Buku : Ekonomi - Bisnis Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman :  446 halaman Dimensi Buku :  15...

Read more

Review Buku Wild Hearts (Ancaman Masa La…

28-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Wild Hearts (Ancaman Masa Lalu) * Harlequin Penulis : Sharon Sala Disain Sampul : Marcel A.W. Jenis Buku : Fiksi Romance Suspense - Misteri Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku A Song of Shadows (Kidung Ba…

14-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : A Song of Shadows (Kidung Bayang-Bayang) Penulis : John Connolly Disain Sampul : Edward Iwan Mangopang Jenis Buku : Detektif Kriminal – Misteri - Suspense Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah...

Read more

Review Buku 64 Tips dan Trik Presentasi …

31-03-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : 64 Tips dan Trik Presentasi Public Speaking Mastery in Action Penulis : Ongky Hojanto Disain Sampul : Orkha Creative Jenis Buku : Non Fiksi - Komunikasi Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit :...

Read more

TERBARU - LIFE STORY

The Best Way to Start a New Habit

18-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Banyak orang termasuk saya yang hidupnya penuh rencana perbaikan diri. Fokus pada menemukan kebiasaan baru dan berusaha menghilangkan kebiasaan lama seolah sudah jadi agenda sehari-hari. Tapi niat dan realisasi kadang...

Read more

How To Deal with Anger, Anxiety, and Lon…

17-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Ini artikel pertama di blog saya yang membahas satu topik tertentu dalam buku yang saya baca. Harapan saya sederhana, yakni semoga ilmu dan wawasan positif yang saya dapatkan dari buku-buku...

Read more

The Five Things Your Website Should Incl…

17-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Website dan blog adalah portal wajib perusahaan masa kini. Penyebabnya tentu saja adalah kemajuan teknologi seperti internet dan gadget. Jaman sekarang memiliki bisnis tak harus memiliki bangunan fisik, cukup dengan...

Read more