Review Buku How To Own The Room - Viv Groskop

Published: Tuesday, 27 August 2019 Written by Dipidiff

 

Judul : How to Own The Room

Women and The Art of Brilliant Speaking

Penulis : Viv Groskop

Jenis Buku : Communication – Public Speaking

Penerbit : Transworld Publishers Ltd 

Tahun Terbit : Desember 2018

Jumlah Halaman :  240 halaman

Dimensi Buku :  20.40 x 13.50 x 2.50 cm

Harga : Rp. 225.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9781787631120

Hardcover

Edisi Bahasa Inggris

 

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2) and

PERIPLUS YOGYA (ig @periplus-malioboro, @periplus_hartonomall, @periplus_bandara_adisucipto_periplusbas3)

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Sebagian besar buku tentang berbicara di depan umum tidak memberi tahu kita apa yang harus dilakukan ketika kita membuka mulut tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Dan mereka tidak memberi tahu kita cara mengatasi kecemasan yang dialami kebanyakan. Mereka tidak memberi tahu kita apa yang harus dilakukan pada saat-saat ketika kita, sebagai seorang wanita, dikecilkan dan diremehkan. Mereka tidak memberi tahu kita cara menguasai forum. Tapi buku ini akan memberitahukan kita semua hal tersebut.

Cara Michelle Obama memproyeksikan "happy high status," dan kekuatan gaya berbicara JK Rowling yang bersahaja, langkah Virginia Woolf yang santai, dan penguasaan keyakinan batin Oprah Winfrey, telah membuat kita duduk terpaku dan mendengarkan mereka berbicara dengan patuh. Bagaimana kita bisa mendapatkan kemampuan yang sama dengan para public speaker tersebut dalam kehidupan kita sendiri? Buku How to Own The Room akan menunjukkan kepada kita bagaimana persisnya.

 

Yuk kita intip daftar isinya

Chapter 1

The Art of Brilliant Speaking: What Does it Mean to Own the Room?

Chapter 2

Be More Michelle: Inside the World of Happy High Status (also starring George Clooney and the Fly-catcher)

Chapter 3

Be More Amy: Power Poses, Internal Strength and How to Project Presence

Chapter 4

Be More Virginia: Shakespeare’s Sister, the Angel in the House nad a Pace of One’s Own

Chapter 5

Be More Oprah: Time’s Up, Dry Gums and the Power of Conviction

Chapter 6

Be More Joan: The Value of Authenticity, Not Caring and Embracing Your Own Obnoxiousness

Chapter 7

Be More JK: The Commencement Speech and the Importance of Your Personal Story (with Help from Ellen DeGeneres and Amal Clooney)

Chapter 8

Be More Chimamanda: Chimamanda: Chimichanga, Quiet Passion and How to Bring a Written Speech to Life

Chapter 9

Be More Angela: Stillness, Temple Fingers and Gravitas (with Help from Hillary Clinton, Christine Lagarde, Gloria Steinem)

Chapter 10

Be More You: The Trouble with Nerves, Reading Your Speech Like Mr Bean, and the Women Drummers

Appendix

The dos and don’ts of owning the room

Cheat sheet: once you are in the room

FAQs

A guide to creating speaking opportunities

Further reading

Acknowledgements

 

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Saya suka disain cover buku ini. Cerah dan juga menonjolkan judul buku. Sederhana tanpa kehilangan sisi artistiknya.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Buku ini dibuka dengan sebuah bahasan singkat tentang satu adegan dalam film The Post yang diperankan oleh Meryl Streep. Di film itu Katherine Graham (Meryl Streep) mewarisi perusahaan besar milik mendiang suaminya dan betapa kesulitannya Graham untuk tampil sebagai pemimpin di rapat-rapat direksi yang semuanya dihadiri oleh para pria. Graham bukan wanita bodoh, ia memiliki idenya sendiri, dan perusahaan tersebut bisa dibilang miliknya, tapi ketika tiba saatnya ia untuk berbicara dan mengungkapkan pikirannya di suatu rapat besar, ternyata ia tak sanggup berkata-kata. Dari adegan itulah Groskop membawa kita kepada alasan dan ide mengapa buku How To Own The Room ini ditulis untuk para wanita. Menariknya adalah, kisah Graham ini dipotong sampai ke bagian tersebut saja, dan baru bersambung lagi di bab penutup buku, sehingga isi buku ini seolah dibingkai oleh satu ide cerita yang sesederhana itu tapi juga cerdik dalam kemasannya.

Peruntukan buku How to Own The Room yang khusus untuk wanita tidak mengherankan juga karena Viv Groskop memang sudah terkenal akan sudut padang feminisnya. Buku ini juga mengingatkan saya pada satu buku khusus wanita yang ditulis oleh Sarah Cooper berjudul How to Successful Without Hurting Men's Feelings yang saya baca beberapa bulan lalu dan di blog ini telah dibaca sebanyak 808 kali. Klik di sini untuk baca "Review Buku How to Successful Without Hurting Men's Feelings - Sarah Cooper".

 

Groskop sangat menekankan pentingnya berlatih dan berani dalam proses penguasaan kemampuan public speaking. Hal ini diungkapkannya secara eksplisit,

Lesson: the only way to do it is to do it. All you need is a voice and an idea of what you might like to say. No more excuses. Go and own the room.

Page 213

dan untuk mendukung hal tersebut, di tiap bab selalu ada kolom panduan latihan. Halaman ini berisi poin-poin dalam public speaking yang harus kita latih sesuai topik yang dibahas di bab bersangkutan. Viv Groskop meyakini kunci sukses utama seorang public speaker adalah berlatih. Jam terbangmu pada akhirnya menentukan kualitasmu. Misalnya kolom Exercise di chapter 1 The Art of Brilliant Speaking yang saya kutipkan di bawah ini, yakni sebuah panduan kita dalam melatih keberanian untuk berbicara di depan umum.

Exercises

  • Give yourself ten minutes to sit down and make notes (a) in answer to these questions and (b) about what comes up for you emotionally when you think about them.
  • What excuses are you making to yourself about your speaking? What excuse are you making not to find speaker opportunities? Write it all down.
  • What are your limiting beliefs about your speaking? ...
  • ...
  • ...

Page 25

 

 

Ternyata gaya tulisan Viv Groskop di buku ini memang lucu ya ☺, sesuai dengan latar belakangnya yang seorang stand-up comedian. Gara-gara itu, buku non fiksi bertopik public speaking ini jadi 'renyah' sekali buat dibaca. Selalu saja ada 'parodi' kehidupan yang ia bagikan di sela-sela keseriusan pembahasan yang sedang ia hantarkan. Misalnya, 'kasus imajiner' Goerge Clooney yang ketika berada di tengah pesta, disangka pramusaji gara-gara ia berjalan ke arah sekumpulan orang-orang sambil membawa gelas minuman, atau dengan berani 'men-sarkasme-kan' Donald Trump dengan kasus imajiner lainnya.

Who wouldn't want to be that person? Yes, this is a story about a male person, George Clooney. (And, let’s be honest, a lot of good stories are going to feature George Clooney). But the first thing I thought when I heard it was. This is absolutely what Michelle Obama would do. It's also, to be fair, probably what Barack Obama would do too. But if we’re talking about women, it's Michelle Obama who most fully and obviously embodies the idea of happy high status. If you could tell this cocktail story about a woman, Michelle could easily be in the Clooney role. The fact is, this story wouldn't work with a woman because women tend not to wear outfits to cocktail parties that get them mistaken for the staff. (Except me, of course. I once spent a wedding getting drinks for everyone because I spilled a full English breakfast all over the outfit I was going to wear and ended up going in a white blouse and black skirt. ‘Another bottle of dry white? Coming up.’)

Page 30

Look at Donald Trump. He is hight status but he is not happy high status. If you mistake him for a cocktail waiter, you are going to die.

Page 35

 

 

Tulisan Groskop tentang Michelle Obama sekali lagi mengingatkan betapa menginspirasinya sosok wanita ini di mata dunia. Sebagai 'high status public figure' yang berangkat dari wanita biasa saja, Michelle Obama mendapat kehormatan berada di bab paling awal contoh public speaker yang jujur, hangat, percaya diri, dan berbicara dari hati. Ini penting karena salah satu kunci menjadi the real public speaker adalah 'be your self, honest, happy, and humble.' Klik di sini untuk baca "Review Buku Becoming - Michelle Obama"

This is very much the person Michelle Obama became towards the end of her husband’s presidency. She transformed into the shiniest and most inspiring example of this quality: able to occupy the highest and most prestigious spot in the room while talking to children, charity workers, the homeless, hip-hop stars and the Queen all in exactly the same way. Remember how she got away with touching the Queen very lightly on the back? That, my friend, is happy high status. (The Queen, on the other hand, is high status but she is definitely not happy. This comes across in her public sepaking in the way that she seems to endure and tolerate it, not to enjoy it). What’s crucial, though, about Michelle is that – unlike her husband – she was not always this way. She has had to learn how to be happy high status. And if she can do it. We all can.

Page 31

 

Ada tips di tiap bab, beberapa di antaranya bisa kita temukan kesamaannya di buku-buku public speaking lainnya (misal buku public speaking Ongky Hojanto), tapi ada juga yang terasa baru.

Tips and Tricks

  • Happy high status is a state of mind as well as ease in your body. A lot of the time when people present, saying: “I am afraid of public speaking,” what they really mean is “Im afraid to take status.”
  • Michelle Obama’s upper arms are no coincidence. Lots of voice coaches will say that good speaking starts with looking after your body. ...
  • ...
  • ...
  • ...

Page 47

 

Saran-saran seputar public speaking juga tersebar di tiap pemaparan dengan mengaitkannya pada public speaker figure yang sedang dijadikan contoh. Misalnya Amy Cuddy di chapter 3 Be More Amy: Power Poses Internal Strength and How to Project Presence. Bab ini membahas bagaimana sebuah pose bisa memberikan impact yang besar dalam psikologis pembicara, di antaranya menguatkan rasa percaya diri. Saran-sarannya saya temukan menarik juga, setidaknya pendekatannya yang real berbasis tokoh-tokoh public speaker populer memberikan semacam jaminan bahwa tips ini akan berhasil jika diaplikasikan.

She calls this the ‘power pose’. There’s an imperceptible exchange that goes on between mind and body, explains Cuddy. You can fool your mind into thinking you’re more confident than you really are by taking a power pose for two minutes or more. (Stand, like Wonderwoman, with hands on hips or with your hands helf aloft, like Usain Bolt crossing the finishing line.) she advises taking yourself to one side before a nerve-racking event, like a job interview or a speaking opportunity, and taking the pose for a few minutes. It looks idiotic and makes you feel stupid (I advice doing it in a toilet cubicle, if you can find one large enough) but – from personal experience – it does work.

Page 54

 

Tiap bab dalam buku How to Own The Room selalu mengangkat satu tokoh public speaker tertentu untuk dibahas secara khusus gaya dan performanya. Topik ini tentunya juga dikaitkan dengan satu poin khusus materi public speaking yang akan dipelajari. Misalnya, JK. Rowling untuk topik commencement speech dan Oprah untuk the power of conviction. Selain tokoh-tokoh utama tersebut, ada juga tokoh-tokoh lainnya yang dibahas - disinggung gaya public speakingnya sekilas, biasanya untuk memperjelas maksud atau contoh kasus tertentu.

Sederet nama-nama pembicara terkenal disebut-sebut di buku ini, tidak hanya terbatas pada tokoh utama yang menjadi feature di bab-bab dalam buku. Misalnya Brene Brown, Amy Cuddy, dan Elizabeth Gilberth. Pembicara TED Talks yang terakhir ini bahkan baru saja saya tamatkan buku terbarunya yang berjudul City of Girls. Klik di sini untuk baca "Review Buku City of Girls - Elizabeth Gilberth."

You can see this very clearly in the TED Talks of Brene Brown, Amy Cuddy and Elizabeth Gilberth. They are all close to happy high status but they dont quite project the intensity and dynamism of Michelle Obama. I mean this as an observation, not as a criticism. The point is: all speakers are different. The tric is to find your own style.

Page 63

 

Bagian yang paling saya suka juga dari buku ini adalah poin dimana Groskop ingin kita menyadari bahwa gaya public speaking orang-orang bisa saja berbeda, dan tidak harus selalu sempurna untuk bisa menjadi public speaker yang baik. Tak masalah jika bicara pelan, tak apa jika secara fisik dan tampilan unik, dan sah-sah saja bagi pembicara untuk menggunakan catatan dan dibantu tim jika dirasa kesulitan atau demi menampilkan performa yang terbaik. Tapi semua hal tersebut ada 'caranya' agar tetap bisa diterima dengan baik oleh audiens.

But more importantly. It is achievable if you set your mind to it. Surely that is more inspiring than thinking she just got up on stage and behaved like that. Or that she wrote everything herself. Rivers is proof that we all need help, we all need discipline and we all a huge amount of practice. It takes a lot of work to be that successful at being funny.

Page 119

 

Menariknya adalah topik bahasan public speaking di buku ini cukup luas karena tak hanya membahas public speaking seorang motivator, tapi juga presenter, host, politician, artist, dan penulis, bahkan stand up comedian.

But... why stand-up is not like other speaking situations

The other important thing to bear in mind when you re giving a speech is context. Very often it is not acknowledged at work events that the speaker is set up in a position to fail or where, at the very least, they are pushing a boulder uphill. In stand-up comedy and in the theatre, many conventions exist to give the performers the best chance. They are beautifully lit in the theatre or a comedy club, which makes them easy to focus on (and, often, look more attractive than they are in harsher llight – and we all find it easier to focus on someone who is attractive). ..

...

Page 128

 

Ingat untuk membaca dengan seksama bagain The dos and don'ts of owning the room, sebab di sana ada poin-poin yang Groskop tuliskan tentang apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan jika ingin "menguasai forum", misalnya:

  • Don't make assumption about speaking before you have much experience of it. (Dont assume something is scary until you ve tried it several times yourself. maybe it s scary for other and not for you - how do you know until you ve tried it?)
  • Do watch TED Talks and YouTube speeches as much as you can. Find your favorite speakers. Work out what you like about them, and whay annoys you about the speakers you like less.
  • Don't watch these talks and despair. some of those speakers are stage-managed, produced and rehearsed to within an inch of their lives. use them for inspiration, not to beat yourself up.
  • Do find a speaker whose style closely mirrors what you'd aspire to.
  • ...
  • ...

Page 217

 

Baca juga bagian Cheat sheet: once you are in the room karena berisi poin-poin penting yang harus diingat kembali di menit terakhir sebelum berbicara di depan umum, misalnya:

  • Do a sound check, if you can. Never refuse one. Find out what the back-up system is in case there are any technical issues. Who will you look to if things go wrong? Do you wait for them to find you a back-up microphone? Or is it apporirate for you to continue meanwhile without one? (This is only going to work in a small room)
  • Where is your water going to be if you need it on stage? If you are speaking for longer than five minutes, build in a moment when you'll drink.
  • ...
  • ...
  • ...

Page 219

 

FAQs harus dibaca juga karena berisi pertanyaan-pertanyaan penting yang umum ditanyakan orang banyak, seperti:

  • Even after reading all this, I still feel completely nervous and sick about the idea of speaking. But I need to do it for work. What can I do? For people who have serious long-term issues and physical symptoms (uncontrollabel shaking, sweating, vomiting), I would suggest a workshop on speaking or presenting where you can practise on a small scale with supportive trained instructors. I've seen this work very well - and very quickly. Sometimes one attempt at speaking in front of a small group, with the right support, is enough to show people it won't kill them - and that the fear is bigger than doing the thing itself. It's also worth thinking about hypnosis, meditation or mindfulness training. I believe anyone can overcome their fear and become a good speaker. If you think you may have deeper issues around anxiety, it's certainly worth exploring this with you GP or a therapist. See www. welldoing. org for recommendations of therapists.
  • ...
  • ...
  • ...

Page 221

 

A guide to creating speaking opportunities akan memberikan ide kepada kita untuk mencari peluang dimana dan kapan kita bisa melatih kemampuan public speaking yang kita miliki, misalnya:

  • Make your own luck. Just as speakers are made not born, speaking opportunities don't just land in your lap. You need to create and cultivate them start small at social events. Propose a toast. give a vote of thanks. Offer congratulations. Get used to silencing a room and having everyone turn to look at you.
  • To want to do it is enough of a reason to do it. If you;re still thinking, But, Viv, no one has asked me to do this. Who am I to speak? I would reply yet again until it gets through: "Who are you not to?' No one wants you to stand up and give a twenty-minute speech at the school fair. But if you're at an event where you can clear your throat, clink you glass with a fork and say, "I'd just like to say... thank you to the committee for creating a fantastic event. We're all really grateul to you for your hard  work. Let's raise a glass... to the committee!' That will take ten seconds out of people's lives and you will have made the committee (or whoever it may be) feel special.
  • ...
  • ...

Page 225

 

Respon terhadap buku ini termasuk masih sedikit baik di Amazon maupun Goodreads. Mungkin karena buku ini segmented, diperuntukkan hanya buat para wanita saja. Banyak yang menyebutkan bahwa buku ini nyaman dibaca dan mudah dipahami. Beberapa pereview mengatakan mereka kemudian menonton YouTube dan TED tokoh-tokoh yang menjadi main feature buku ini, lalu menikmati proses observasi mereka berdasarkan apa yang telah diungkapkan oleh Viv Groskop juga di bukunya. Cara Groskop bertutur menyemangati para wanita untuk berani dan memiliki kepercayaan diri dalam melakukan public speaking. Tips triknya praktis dan kolom latihannya juga bermanfaat. Beberapa pembaca lainnya mengatakan bahwa tidak ada hal baru tentang public speaking yang diungkapkan oleh Viv Groskop, namun tetap saja mereka menyukai buku ini karena berfungsi sebagai 'reminder'. Sisanya menyatakan kekurangsukaan mereka terhadap buku ini karena tidak sesuai dengan kebutuhan atau ekspektasi mereka.

Personally, saya menyukai buku ini karena tulisannya yang renyah, karena format tulisannya yang menarik, karena pendekatan pembahasan topik public speakingnya yang berdasarkan public speaker populer. Saya menyukai tips trik dan kolom latihannya yang saya anggap bermanfaat dan menginspirasi. Saya sepakat dengan penulis bahwa gaya public speaking tiap orang tidak sama, tapi kita selalu bisa mengambil contoh gaya dan performa speaker lainnya (terutama yang telah terbukti sukses) untuk kita pelajari dan adaptasi menjadi style kita sendiri. Penekanan Groskop pada pentingnya latihan dan fakta bahwa memang ada orang-orang yang dilahirkan dengan kharisma saat berbicara juga 'fair' menurut saya. Poin pentingnya adalah dengan berlatih tak ada yang tak mungkin.

 

Siapa Viv Groskop

Viv Groskop adalah seorang penulis, stand up comedian serta presenter TV dan radio. Dia telah menyelenggarakan tur buku untuk Graham Norton dan Jo Brand, seorang veteran dari empat pertunjukan Edinburg Fringe. Groskop telah mempresentasikan BBC Radio 4’s Front Row dan Saturday Review  dan muncul secara teratur di BBCl's This Week. Sebagai pelatih eksekutif, ia bekerja dengan para wanita di berbagai bisnis, media, dan iklan, membantu mereka mengasah otoritas, kehadiran, dan kepemimpinan mereka.

Viv Groskop (lahir 8 Juli 1973) menulis untuk berbagai publikasi termasuk di antaranya The Guardian, Evening Standard, The Observer, Daily Mail, Mail on Sunday dan majalah Red. Groskop menulis tentang seni, buku, budaya populer dan fenomena masa kini, seringkali dari sudut pandang feminis. Viv Groskop merupakan finalis di Funny Women 2012 dan semi-finalis di So You Think You're Funny 2012. Groskop lahir di Hampshire dan, dengan adik perempuannya Trudy, dibesarkan di Bruton, Somerset. Dia memenangkan beasiswa ke Bruton School for Girls, dan kemudian membaca bahasa Rusia dan Prancis di Selwyn College, Cambridge, lulus dengan first-class degree.  

Groskop memulai karirnya di bidang jurnalisme di Esquire sebagai asisten editorial untuk Rosie Boycott pada usia 22 tahun. Ia bergabung dengan Daily Express sementara Boycott menjadi editor, ia kemudian menjadi kolumnis pada Sunday Express pada usia 25 tahun. Viv Groskop disebut-sebut sebagai seorang jurnalis lepas paling sukses di Inggris, dan telah dua kali terpilih sebagai Periodical Publishers AssociationColumnist of the Year.

Groskop adalah editor kontribusi di Russian Vogue. Untuk pers Inggris, ia telah mewawancarai penutur bahasa Rusia dalam bahasa ibu mereka - di antaranya Marina Litvinenko, janda Alexander Litvinenko yang terbunuh dan penyintas sandera sekolah yang selamat dari penyintas Fatima Dzgoeva. Ia juga mewawancarai putri yang masih hidup dari Suite Francaiseauthor Irène Némirovsky. 

 

Groskop adalah Direktur Artistik pada Bath Literature Festival, dimana event musim pertama di bawah tanggung jawabnya diadakan pada Februari 2014 dan yang terakhir pada 2016.

 

Buku How to Own The Room mendapatkan rating 3.9 di Goodreads dan 5 di situs Amazon.

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada mereka (terutama wanita) yang mencari buku tentang public speaking dengan cakupan bidang yang bervariasi meliputi pidato, presentasi, stand up comedy, host atau presenter, dengan menggunakan satu public speaker populer sebagai pusat observasi bersama terkait performanya dalam bidang public speaking. Teknik detail tiap bidang tersebut tidak dibahas, dan digunakan lebih tepatnya untuk menunjang pembahasan topik public speaking pada umumnya, seperti pose, sikap mental (keberanian dan kepercayaan diri), dan kecepatan berbicara. Tiap bab dilengkapi dengan tips trick praktis dan kolom exercise yang bermanfaat dan menginspirasi. Narasinya renyah dan diselingi humor. Ada bab singkat - bonus berisi The dos and don'ts of owning the room, Cheat Sheet, FAQs, dan A guide to creating speaking opportunities yang poin-poinnya menarik untuk disimak. Tidak ada gambar pelengkap. Buku ini juga akan sesuai untuk mereka yang mencari model public speaker yang hendak dipelajari gaya dan caranya (Michelle Obama, Chimamanda Ngozi Adichie, Amy Cuddy, Virginia Woolf, Joan Rivers, Oprah Winfrey, Angela Merkel, dan JK. Rowling). Buku ini tidak membahas teknik public speaking A to Z.

 

My Rating : 4.2/5.

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku An Anonymous Girl - Greer He…

19-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : An Anonymous Girl Penulis : Greer Hendricks & Sarah Pekkanen Jenis Buku : Psychological Suspense Penerbit : Pan MacMillan   Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman : 464 halaman Dimensi Buku : 13.00 x 19.70 x 3.20 cm Harga...

Read more

Review Buku The Silence - Tim Lebbon

09-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Silence Penulis : Tim Lebbon Jenis Buku : Science Fiction Penerbit : Titan Books (UK)  Tahun Terbit : Maret 2019 Jumlah Halaman :  368 halaman Dimensi Buku : 20.32 x 13.21 x 2.54 cm Harga : Rp. 112.000*harga...

Read more

Review Buku Talking To Strangers - Malco…

07-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Talking to Strangers What We Should Know about the People We Don’t Know Penulis : Malcom Gladwell Jenis Buku : Non Fiksi - Psikologi Penerbit : Penguin Random House UK Tahun Terbit : September 2019 Jumlah...

Read more

Review Buku The Ride of A Lifetime - Rob…

07-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Ride of A Lifetime Lessons Learned from 15 Years as CEO of The Walt Disney Company Penulis : Robert Iger Jenis Buku : Management Leadership Penerbit : Random House Publishing Group Tahun Terbit :...

Read more

TERBARU - Buku Indonesia & Terjemahan

Review Buku #MO - Rhenald Kasali

18-09-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : #MO Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham Penulis : Rhenald Kasali Jenis Buku : Ekonomi - Bisnis Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman :  446 halaman Dimensi Buku :  15...

Read more

Review Buku Wild Hearts (Ancaman Masa La…

28-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Wild Hearts (Ancaman Masa Lalu) * Harlequin Penulis : Sharon Sala Disain Sampul : Marcel A.W. Jenis Buku : Fiksi Romance Suspense - Misteri Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku A Song of Shadows (Kidung Ba…

14-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : A Song of Shadows (Kidung Bayang-Bayang) Penulis : John Connolly Disain Sampul : Edward Iwan Mangopang Jenis Buku : Detektif Kriminal – Misteri - Suspense Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah...

Read more

Review Buku 64 Tips dan Trik Presentasi …

31-03-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : 64 Tips dan Trik Presentasi Public Speaking Mastery in Action Penulis : Ongky Hojanto Disain Sampul : Orkha Creative Jenis Buku : Non Fiksi - Komunikasi Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit :...

Read more

TERBARU - LIFE STORY

Work Coffee Cafe (a Review)

17-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Familiar kah teman-teman dengan nama cafe ini? Saya sih tidak. Tapi itu kemungkinan karena kami domisili di Bandung Timur dan jarang main ke daerah ini. Padahal tempatnya asyik bahkan klasik...

Read more

Marka Cafe + Kitchen (a Review)

16-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Untuk mereka yang biasa ngafe atau duduk-duduk nongkrong sambil menikmati kopi pasti sudah kenal kafe yang satu ini. Saya juga tahu Marka cafe karena diajak partner saya ngobrol-ngobrol tukar pikiran...

Read more

The Best Way to Start a New Habit

18-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Banyak orang termasuk saya yang hidupnya penuh rencana perbaikan diri. Fokus pada menemukan kebiasaan baru dan berusaha menghilangkan kebiasaan lama seolah sudah jadi agenda sehari-hari. Tapi niat dan realisasi kadang...

Read more