Review Buku The Fourth Monkey - J.D. Barker

Published: Saturday, 09 February 2019 Written by Dipidiff

 

Judul : The Fourth Monkey (4MK Thriller #1) 

Penulis : J.D. Barker

Redesain : Yanyan Wijaya

Penyunting : Ani Nuraini Syahara

Jenis Buku : Psychological Thiller – Detective Mystery

Penerbit : Bhuana Ilmu Populer 

Tahun Terbit : Mei 2018

Jumlah Halaman :  576 halaman

Dimensi Buku :  13.5 x 20 cm

Harga : Rp. 108.000

 

ISBN :9786024555740      

Edisi Terjemahan

Pengalih Bahasa : Endang Sulistyowati

Softcover

 


Goodreads Choice Award Nominee for Mystery & Thriller (2017)

The Fourth Monkey – Best Suspense/Thriller of 2017 – Winner Audie Award

 

 

Sekelumit Tentang Isi

 

Jangan berhenti membaca
Aku ingin kau memahami apa yang telah kulakukan
-      BUKU HARIAN

 

Selama lebih dari lima tahun, Pembunuh Empat Monyet telah meneror penduduk Chicago. Ketika mayatnya ditemukan tewas tertabrak dengan membawa kotak berisi potongan telinga, polisi dengan cepat menyadari bahwa dia sedang dalam perjalanan untuk menyampaikan satu pesan terakhir, yang juga membuktikan bahwa dia telah mengambil korban lain yang mungkin masih hidup.

Sebagai penyelidik utama pada kasus 4MK, Detektif Sam Porter tahu bahkan dalam kematiannya pun si pembunuh masih jauh dari kata selesai. Ketika ia membaca buku harian pribadi si pembunuh yang ia temukan di saku jaket mayatnya, Porter mendapati dirinya terperangkap dalam pikiran seorang psikopat, mengurai sejarah yang terpelintir dengan harapan menemukan petunjuk yang mengarah pada lokasi korban terakhir berada.

Dengan hanya sedikit petunjuk, identitas pembunuh yang sulit dipahami tetap menjadi misteri. Waktu hampir habis dan Pembunuh Empat Monyet mengejek dari balik kuburnya.


 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya


Saya mengakui bahwa saya bukan penggemar warna putih untuk sebuah disain sampul buku. Maka sudah jelas sampul buku ini buat saya terlihat sangat biasa. Tapi pilihan warna dan ukuran huruf judul diakui membuat buku ini terpindai seketika sebagai novel bergenre suspense atau thriller. Ilustrasi gambarnya yang tidak begitu jelas - itu siluet tubuh atau apa (?) - justru membangkitkan rasa penasaran. Lalu ada telapak tangan berdarah (?) juga agak membingungkan apakah itu monyet atau manusia. Secara keseluruhan sampulnya memang sudah punya unsur misteri sendiri. Satu-satunya yang jelas adalah latar kalimat yang ada di disainnya. Itu diambil dari filosofi tiga monyet yang juga merupakan salah satu ide cerita novel thriller ini.

 

Disain cover versi english nya ternyata mirip dengan sampul buku terjemahannya. Ada satu dua variasi disain tapi tampaknya warna putih memang cukup mendominasi di semua disain yang ada.

 

 

 

Tokoh dan Karakter


Samuel Porter, detektif berusia paruh baya, berdedikasi, berusaha menyelesaikan kasus di tengah permasalahan pribadinya sendiri.

Nash, rekan sekaligus sahabat Porter, tidak biasa menghadapi kasus pembunuhan sekejam Pembunuh Empat Monyet.

Clair, anggota tim Porter yang menangani kasus empat monyet. Bisa jadi ada semacam chemistry antara dirinya dengan Nash. Kebagian tugas memeriksa identitas di pusat kanker.


Emory, gadis cantik korban terakhir pembunuh empat monyet. Cerdas tapi tidak secerdas itu juga ternyata.


Tyler Mathers, pacar emory yang punya peran tidak langsung dalam kasus.


Arthur Talbot, punya bisnis kotor dan rahasia busuk sehingga menjadi target pembunuh.


Watson, cerdas, ahli IT, tapi mencurigakan.


dll

 

Sejauh ini Sam Porter adalah karakter yang positif. Kemungkinan akan disukai oleh pembaca. Humor sarkasme yang sering ada di antara Porter, Nash, dan Clair juga membuat tiga karakter detektif polisi ini tidak kaku.

 

Alur dan Latar


Alur cerita menjadi campuran jika kita mempertimbangkan bab buku harian sebagai bagian dari alurnya. Cerita bergulir dengan cepat dari satu adegan ke adegan lain, dan mengalir dengan baik. Sudut pandang cerita berubah-ubah (kadang Porter, kadang Emory, dan tokoh lainnya), meski demikian pergantian sudut pandangnya tidak membingungkan.

Ide ceritanya menarik, ketegangan diolah dengan baik. Misteri - teka-teki buku ini bagus, plotnya rumit tapi bertaut dengan baik dan logis di akhir cerita. Endingnya memang memberikan celah buat kisah ini bersambung ke buku sekuelnya, tapi juga cukup untuk bisa menutup cerita di buku pertamanya. Ada sisi emosinya, sehingga cerita tidak melulu soal kesadisan berikut sensasinya.

 

Latar cerita berlokasi di Chicago. Deskripsinya detail, misalnya,

Ruangan itu tidak besar, hanya sekitar sembilan kali tujuh meter. Selain meja Porter, masih ada lima meja metal lain yang diatur secara sembarangan oleh staf Metro di sekeliling ruangan itu. Di ujung terjauh ada meja konferensi kayu yang ditemukan Porter di gudang yang ada di ujung lorong. Permukaannya sudah penuh goresan dan congkelan; lapisan catnya tertutup lingkaran kecil dari ratusan gelas, mug, dan kaleng yang pernah diletakkan di atasnya selama bertahun-tahun. Ada noda cokelat besar di atasnya yang menurut Nash menyerupai Yesus (menurut Porter, noda itu hanya terlihat mirip kopi). Sudah sejak lama mereka menyerah berusah membersihkannya.

Di belakang meja konferensi tergantung tiga papan tulis. Pada papan tuils pertama terpajang foto korban P4M dan sejumlah TKP; saat ini papan yang ketiga masih kosong. ...

Halaman 117

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

 

Untuk sebuah buku psychological thriller yang dipenuhi adegan sadis dan gila, humor menjadi sisi yang jarang ditemui. Tapi buku ini ternyata punya sisi itu. Misalnya,

Kau menelpon Heather Porter. Karena ini pesan suara, kemungkinan besar aku sudah melihat namamu di layar dan memutuskan untuk tidak bicara denganmu. Jika kau ingin menyogok dalam bentuk kue cokelat dan aneka camilan sehat lain, SMS aku detailnya dan aku akan mempertimbangkan ulang posisimu di jadwal harianku dan mungkin aku akan menghubungimu lagi nanti. Jika kau penjual yang mencoba membujukku mengganti penyedia layanan selularku, mungkin sebaiknya kau tutup teleponnya sekarang. Aku masih menjadi pelanggan setia AT&T setidaknya selama setahun lagi. Yang lain, silakan tinggalkan pesan. Harap diingat bahwa suamiku tersayang adalah polisi pemarah, dan dia membawa pistol besar.

Halaman 10

 

 
Deskripsi korban yang detail sangat sesuai untuk sebuah buku bergenre thriller. Menjijikkan memang, tapi ini sebuah 'keharusan'.

Porter memakai sarung tangan karet lagi dari kotak yang ada di sebelah kirinya dan dengan perlahan mengangkat kepala mayat itu. Kulit wajahnya tertarik dari aspal dingin, dengan lendir yang menyerupai permen karet saat diangkat dari plastik. Perut Porter bergemuruh, dan ia sadar belum makan sama sekali. Mungkin itu lebih baik.

...

“Oh Tuhan. Itu menjijikkan.” Mata Nash terfokus pada wajah di mayat. Lebih tepatnya, ke tempat yang seharusnya berisi wajahnya. Bagian pipinya sudah hilang, hanya tersisa kulit mengelupas. Tulang rahangnya masih terlihat jelas tapi patah – mulutnya melongo seolah seseorang membuka rahangnya seperti perangkap beruan. Satu matanya pecah, mengeluarkan cairan bening. Mata yang lain menatap kosong ke arah mereka, terlihat hijau di bawah sorotan lampu terang.

Halaman 23

 

Hal-hal yang berkaitan dengan kecanggihan teknologi lab forensik juga ada. Cek saja di google, metode ini memang nyata.

Porter menunduk lebih dekat. “Menurutmu kau bisa merekonstruksi wajahnya?”

Eisley mengangguk. “Aku akan meminta seseorang mengerjakannya segera setelah kami membawanya ke labku.”

“Sulit untuk dipastikan, tapi berdasarkan perawakan dan sedikit uban di rambutnya, tebakanku usianya akhir empat puluhan, atau setidaknya awal lima puluhan.”

“Nantinya aku akan bisa menentukan usia persisnya juga untukmu,” kata Eisley. Eisley memeriksa mata itu dengan senter pena. “Kornea matanya masih utuh.”

Porter tahu mereka bisa mengukur usia mayat dari bahan organik mata mayat melalui proses carbon dating; namanya metode Lynnerup. Proses itu bisa mempersempit usia sampai rentang satu atau dua tahun.

Halaman 24

 

Situasi dan istilah-istilah tertentu ada penjelasannya di catatan kaki yang tersebar di sepanjang halaman.

 

Fakta-fakta kasus diungkapkan secara khusus dalam poin-poin, seolah mengundang pembaca untuk turut memikirkan misteri pembunuhan yang ada. Ini mengingatkan kita pada buku-buku detektif populer lainnya ya, yang kerap kali menuliskan fakta-fakta pembunuhan juga.

Picture: fakta kasus Pembunuhan Empat Monyet

 

Bab khusus BUKU HARIAN benar benar membuat penasaran, karena benar-benar 'gila', menjijikkan, sadis, dan penuh sensasi. Ide buku harian ini saya anggap sangat bagus, mengimbangi alur yang melambat dan tanpa kejutan saat proses penyelidikan berlangsung sehingga terasa lebih dinamis dan punya warna.

 
Humor sarkasme antar tokoh menjadi bagian yang saya sukai juga.

Mereka menemukan kantor Hosman, dua pintu dari ujung lorong di sebelah kiri. Pintu kantor Hosman terbuka dan lelaki itu meminta mereka masuk. “Siapa yang bersiap untuk berhitung?”

Clair menunjuk Nash. “Ini orangnya. Nash memenangkan kejuaraan matematika tingkat nasional di SMU, tiga tahun berturut-turut.”

Hosman menatap Nash dengan alis terangkat. “Benarkah?”

“Tentu saja. Tepat setelah aku memenangkan medali emas untuk lompat galah,” jawab Nash, menganggukkan kepalanya. “Aku juga bisa memanggang pai ceri. Kau harus melihat pita yang kuterima.”

“Jadi, bukan penggemar matematika?”

“Bukan.”

Halaman 315

 

Tidak melulu berisi sensasi, di dalam cerita ada sisi emosinya juga yang ditonjolkan. Misalnya,

Tapi sekarang, semua itu terasa seperti omong kosong. Saat aku kehilangan... aku kehilangan Heather... ya Tuhan, aku bahkan tdak bisa mengatakannya tanpa tercekat. Heather pasti tidak mau aku tercekat. Dia ingin aku fokus pada semua kenangan indah dan melupakan kejadian beberapa minggu terakhir ini, tidak membiarkan kejadian itu mendefinisikan hubungan kami. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku ingin melakukannya. Setiap kali aku melihat barang miliknya – buku yang sedang dia baca dan tidak akan pernah dia selesaikan, sikat gigi yang tidak akan pernah digunakannya lagi, pakaian kotornya, suratnya. Kami bermain Scrabble seminggu sekali, dan permainan terakhir masih ada di papannya; aku tidak sanggup menyingkirkannya. Aku menatap papan bagiannya, bertanya-tanya apa kata berikutnya. Aku terbangun tengah malam dan menggapai sisi tempat tidurnya, tapi hanya menemukan sprei dingin.”

Halaman 349

 

Sesuatu tentang film Seven? Itu judul film psychological thriller kan ya.

“Tidak, aku bersikeras. Aku menonton film Seven – jika kepala Gwyneth ada di dalam sana, penggambarannya akan menempel di dalam otakku selama berbulan-bulan. Kau yang harus membukanya. Jadilah lelaki jantan.”

Bab 72

 

Ada tulisan yang menarik perhatian saya di bab ucapan terima kasih dari penulis. Memunculkan spekulasi tersendiri terhadap penulis.

Yang pertama dan terpenting, aku ingin menegaskan bahwa aku tumbuh di keluarga yang bahagia di South Florida; kami bahkan tidak punya ruang bawah tanah. Tidak ada satu pun keputusan salah yang dibuat oleh ayah dan ibu 4PM yang didasari pada kehidupan nyata, setidaknya bukan kehidupan nyataku. Kisah ini lahir dari “bagaimana jika” dan imajinasi yang kehilangan kendali bertahun-tahun yang lalu, tidak lebih.

Halaman 567

 

The Fourth Monkey mendapatkan tanggapan yang sangat bagus di Amazon. Pembaca menyukai alur ceritanya, idenya, kesadisannya, keanehannya, ketegangannya, yang didukung oleh narasinya yang mengalir - page turner. Rating goodreads untuk novel ini lebih rendah daripada amazon tapi masih tetap di atas 4. Mereka yang memberikan rating rendah mengatakan bahwa unsur penokohan di buku ini tidak kuat sehingga tidak berhasil menanamkan kesan kepada pembacanya, misterinya bisa ditebak, adegan sadis dan sakit jiwanya berlebihan sehingga malah terasa menggelikan dan tidak masuk akal.

 

Secara pribadi, untuk genre psychological thriller, saya menyukai buku ini. Segala sesuatunya memang harus demikian jika masuk ke dalam genre ini. Adegannya harus sadis, absurd, benar-benar sakit jiwa, dan sensasi ketegangannya harus ada. Narasinya yang mengalir memang membuat buku ini menjadi page-turner. Saya juga suka sisi humor sarkasme percakapan tokohnya dan permainan alurnya. Untuk penokohan memang kurang berkesan, mungkin memang demikian adanya, mungkin juga nanti di buku sekuelnya akan berbeda. Tokoh Emory bahkan membuat saya bingung karena digambarkan cerdas tapi tidak bertindak cerdas. Tentu adegan khas thriller tetap ada seperti percakapan antara pembunuh dan detektif utama yang biasanya selalu panjang karena berisi penjelasan. Sisi emosi melengkapi kisah secara keseluruhan. Beberapa kalimat dalam buku ini ada yang sulit saya pahami karena terjemahannya, tapi hanya sedikit jumlahnya dan tidak berpengaruh besar terhadap total bacaan.

 

 

Siapa J.D. Barker

J.D. Barker (Jonathan Dylan Barker) adalah seorang penulis internasional terlaris genre thriller suspense asal Amerika. Ia sering kali memasukkan unsur-unsur horor, kejahatan, misteri, fiksi ilmiah, dan supranatural di dalam buku-bukunya. Novel debutnya, Forsaken, adalah finalis untuk Bram Stoker Award pada 2014.

Barker lahir 7 Januari 1971 di Lombard, Illinois dan menghabiskan empat belas tahun pertama hidupnya di Crystal Lake, Illinois. Pada usia empat belas, keluarga Barker pindah ke Englewood, Florida. Dia bersekolah di Lemon Bay High School dan lulus pada tahun 1989, lalu mendaftar di Institut Seni Fort Lauderdale di mana dia kemudian memperoleh gelar dalam bisnis. Saat di perguruan tinggi, aktifitas menulis 'datang' dalam hidupnya dari Circus Magazine. Gallotta dari Circus Magazine mengulurkan tangan ke Barker dan memintanya untuk bergabung dengan staf Paralel ke-25 (majalah) tempat ia bekerja bersama pria yang kemudian menjadi Marilyn Manson. Pekerjaan ini menenggelamkannya ke dalam dunia pusat budaya pop dan pada tahun 1991 Barker mulai mewawancarai selebriti untuk orang-orang, seperti Seventeen, TeenBeat, serta publikasi nasional dan lokal lainnya. Pada tahun 1992, Barker membuat sindikasi kolom surat kabar kecil bernama Revealed yang berpusat di sekitar penyelidikan tempat berhantu dan kejadian supranatural. Ia mulai bekerja sebagai penulis dan membantu penulis lain untuk publikasi. Stephen King, Dean Koontz, John Saul, dan Neil Gaiman adalah sederet penulis populer yang memberikan pengaruh besar dalam karya-karyanya.

Stephen King membaca bagian-bagian dari Forsaken sebelum diterbitkan dan memberikan izin kepada Barker untuk menggunakan karakter Leland Gaunt of King's Needful Things dalam novel. Novel ini diterbitkan oleh Indie pada akhir 2014, dan mencapai beberapa prestasi penting, yakni # 2 di Audible (Harper Lee dengan Go Set a Watchman memegang # 1), # 44 di Amazon AS, # 2 di Amazon Kanada, dan # 22 di Amazon UK. Novel Forsaken juga dinominasikan untuk Bram Stoker Award (Best Debut Novel) dan memenangkan beberapa lainnya termasuk New Apple Medalist Award.

Kesuksesan buku indie Barker menarik perhatian agen dan penerbit tradisional dan pada awal 2016 film thriller perdananya, The Fourth Monkey dijual dalam serangkaian pre-empts dan lelang di seluruh dunia. Buku ini juga diadaptasi untuk film dan televisi. Pada bulan September 2017, Putnam membeli hak penerbitan untuk Dracul dalam lelang lima rumah dengan penerbit tambahan di seluruh dunia dan Paramount Pictures memilih hak filmnya.

Novels
·         Forsaken (2014)
·         The Fourth Monkey (2017)
·         The Fifth to Die (2018)
·         Dracul with Dacre Stoker (2018)

Short Stories

·         Mondays (1993 - Last Exit Press)
·         Among Us (1995 - Dark Crossing Magazine)
·         The Sitter (1996 - Hidden Fears Magazine)
·         Wicked Ways (1997 - Hidden Fears Magazine)
·         A Caller's Game (1997 - Hidden Fears Magazine)
·         Room 108 (1998 - Hidden Fears Magazine)
·         Hybrid (2012 - Among The Shadow Entertainment)
·         Of The Lake (2016 - Ancient Enemies Anthology - Good Dog Publishing)

Filmography

Television
The Fourth Monkey (CBS)

 

Feature films
Dracul (Paramount Pictures)

 

Award

2014 – Forsaken – Superior Achievement a First Novel – Nominasi Bram Stoker Awards

2014 – Forsaken – Best Debut Author – Nominasi Goodreads

2014 – Forsaken – Best Horror of 2014 – Nominasi Goodreads

2015 – Forsaken – Excellence in Independent Publishing – Winner Apple E-Book Award

2018 – The Fourth Monkey – Best Suspense/Thriller of 2017 – Winner Audie Award

2018 – Dracul – Best Horror of 2018 – Nominasi Goodreads

2019 – The Fifth To Die Audiofile 2019 – Winner Earphones Award Winner

 

J.D. Barker adalah penulis terlaris internasional dari banyak novel, termasuk FORSAKEN dan THE FOURTH MONKEY. Novel terbarunya, DRACUL, ditulis bersama dengan Dacre Stoker, dirilis Oktober 2018. Barker saat ini berkolaborasi dengan James Patterson. Novel-novelnya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan diadaptasi untuk film dan televisi. Barker tinggal di Pennsylvania bersama istrinya, Dayna, dan putrinya, Ember.

 

Novel The Fourth Monkey mendapatkan rating 4.6 di Amazon dan 4.2 di Goodreads
 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada 'hanya pembaca dewasa' yang menyukai novel genre psychological thriller yang narasinya mengalir, alur ceritanya menarik, cepat, dan rapi. Cerita disampaikan dari sudut pandang beberapa tokoh cerita. Unsur ketegangannya tinggi, sadis, benar-benar sakit jiwa (sehingga ada kemungkinan terasa tidak nyata dan berlebihan), teka-teki pembunuhannya tidak mudah ditebak, deskripsi korban dan tindakan penyiksaannya detail, ada sedikit humor (sarkasme), dan konten dewasa +++. Endingnya menutup sebagian cerita tapi juga terbuka untuk lanjut ke buku sekuelnya. Penyelesaiannya logis. Ada satu dua adegan klise thriller, tapi itu tidak masalah. Penokohannya mungkin akan terasa kurang berkesan di buku pertama ini. Terjemahannya termasuk bagus, meski ada beberapa kalimat yang kurang jelas maksudnya apa.

Trigger Warning : Adegan kekerasan, sadis, kejam, konten seksual dan penyimpangannya.

My Rating: 4.6/5

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku How To See - Thich Nhat Hanh

17-09-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : How To See Penulis : Thich Nhat Hanh Jenis Buku : Self Improvement Penerbit : Ebury Publishing  Tahun Terbit : Juli 2019 Jumlah Halaman :  128 halaman Dimensi Buku : 11.00 x 15.60 x 0.70 cm Harga :...

Read more

Review Buku How To Own The Room - Viv Gr…

27-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : How to Own The Room Women and The Art of Brilliant Speaking Penulis : Viv Groskop Jenis Buku : Communication – Public Speaking Penerbit : Transworld Publishers Ltd  Tahun Terbit : Desember 2018 Jumlah Halaman : ...

Read more

Review Buku Wabi Sabi (Japanese Wisdom f…

27-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Wabi Sabi Japanese Wisdom for a Perfectly Imperfect Life Penulis : Beth Kempton Jenis Buku : Philosophy – Self Improvement Penerbit : Harper Design Tahun Terbit : Desember 2018 Jumlah Halaman :  256 halaman Dimensi Buku : ...

Read more

Review Buku Money - Yuval Noah Harari

18-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Money Penulis : Yuval Noah Harari Jenis Buku : Non Fiction History - Economy Penerbit : Vintage Publishing Tahun Terbit : April 2018 Jumlah Halaman : 144 halaman Dimensi Buku :  11.20 x 27.40 x 1.60 cm Harga...

Read more

TERBARU - Buku Indonesia & Terjemahan

Review Buku #MO - Rhenald Kasali

18-09-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : #MO Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham Penulis : Rhenald Kasali Jenis Buku : Ekonomi - Bisnis Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman :  446 halaman Dimensi Buku :  15...

Read more

Review Buku Wild Hearts (Ancaman Masa La…

28-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Wild Hearts (Ancaman Masa Lalu) * Harlequin Penulis : Sharon Sala Disain Sampul : Marcel A.W. Jenis Buku : Fiksi Romance Suspense - Misteri Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku A Song of Shadows (Kidung Ba…

14-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : A Song of Shadows (Kidung Bayang-Bayang) Penulis : John Connolly Disain Sampul : Edward Iwan Mangopang Jenis Buku : Detektif Kriminal – Misteri - Suspense Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah...

Read more

Review Buku 64 Tips dan Trik Presentasi …

31-03-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : 64 Tips dan Trik Presentasi Public Speaking Mastery in Action Penulis : Ongky Hojanto Disain Sampul : Orkha Creative Jenis Buku : Non Fiksi - Komunikasi Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit :...

Read more

TERBARU - LIFE STORY

The Best Way to Start a New Habit

18-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Banyak orang termasuk saya yang hidupnya penuh rencana perbaikan diri. Fokus pada menemukan kebiasaan baru dan berusaha menghilangkan kebiasaan lama seolah sudah jadi agenda sehari-hari. Tapi niat dan realisasi kadang...

Read more

How To Deal with Anger, Anxiety, and Lon…

17-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Ini artikel pertama di blog saya yang membahas satu topik tertentu dalam buku yang saya baca. Harapan saya sederhana, yakni semoga ilmu dan wawasan positif yang saya dapatkan dari buku-buku...

Read more

The Five Things Your Website Should Incl…

17-08-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Website dan blog adalah portal wajib perusahaan masa kini. Penyebabnya tentu saja adalah kemajuan teknologi seperti internet dan gadget. Jaman sekarang memiliki bisnis tak harus memiliki bangunan fisik, cukup dengan...

Read more