Review Buku Padang Bulan (Dwilogi Padang Bulan #1) - Andrea Hirata

Published: Sunday, 10 March 2019 Written by Dipidiff

 

Judul : Padang Bulan

Dwilogi Padang Bulan #1

Penulis : Andrea Hirata

Disain Sampul : The Lovers, karya Budi Gugi

Penata Sampul : Kuswanto

Foto Sampul Luar : Dini Berry

Penata Aksara : Titis & Pritamaeni

Jenis Buku : Fiksi - Roman

Penerbit : Penerbit Bentang

Tahun Terbit : Cetakan Kelima belas, Mei 2018

Jumlah Halaman :  310 halaman

Dimensi Buku :  13 x 20.5 cm

Harga : Rp. 58.000

ISBN : 9786028811309   

   

  

Sekelumit Tentang Isi

Novel Padang Bulan bermula dari kisah seorang gadis kecil berusia 14 tahun, Enong namanya, yang sangat gemar pada pelajaran bahasa Inggris, namun secara mendadak terpaksa harus berhenti sekolah dan mengambil alih seluruh tanggung jawab keluarga. Enong jatuh, bangun, jatuh lagi, dan bangun lagi. Kisah Enong tidak sekadar kisah sebuah keluarga yang sederhana, namun tentang impian seorang anak kecil, tentang keberanian menjalani hidup.

Sementara itu Ikal menjadi berantakan hidupnya karena tragedi cinta pertamanya dengan A Ling. Cemburu adalah perahu Nabi Nuh yang tergenang di dalam hati yang karam. Lalu, naiklah ke geladak perahu itu, binatang yang berpasang-pasangan: perasaan tak berdaya-ingin mengalahkan, rencana jahat-penyesalan, dan kesedihan-gengsi. Dengan dibantu sahabatnya yang detektif merangkap pelatih merpati, Ikal berjuang sekuat tenaga untuk merebut kembali cinta A Ling.

Cinta, akan membawa pelakunya pada kegilaan dan kesengsaraan yang tak terbayangkan. Cinta, adalah sebuah tempat di mana orang dapat menyakiti dirinya sendiri. Cinta, dapat pada seseorang, atau pada cinta itu sendri, dan keduanya mengandung bahaya yang tidak kecil." Halaman 265

Melalui pergolakan nasib seorang perempuan dan huru-hara kecemburuan, Andrea Hirata kembali memilih sudut yang tidak terduga untuk menampilkan kisah yang inspiratif tentang kegigihan karakter-karakter di dalam novelnya. Dengan menceritakan kisah Enong seperti sebuah epos, Andrea berhasil memperlihatkan kepada pembaca kekuatan-kekuatan besar yang tersembunyi di dalam diri manusia, kekuatan yang sering tidak disadari seseorang berada di dalam dirinya. 

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Baik warna maupun ilustrasi gambarnya sangat saya sukai. Itu kemungkinan gambar merpati yang kerap digunakan Ikal berkomunikasi dengan sang detektif dalam cerita. Atau bisa juga kedua merpati itu menggambarkan cinta Ikal terhadap A Ling, toh merpati sudah sejak lama menjadi simbol romantisme. Atau tentu saja itu gambar burung punai kesukaan A Ling.

Mengapa buku ini diberi judul Padang Bulan tetap masih misteri bagi saya. Mungkin ada bagian yang terlewat saat membaca bukunya. Tapi Ikal memang suka merenung-renungi cintanya di pagi, siang maupun malam terang bulan. Dan puisi yang Ikal tulis untuk A Ling memang memasukkan kata Padang Bulan dalam syairnya. Mungkin ide judul dan gambar ilustrasi lingkaran besar serupa bulan berasal dari sana. Entahlah.

Ada ilustrasi gambar mirip pohon di awal buku.

 

Tokoh dan Karakter

Enong adalah gadis yang gigih berjuang, tak kenal menyerah, optimis, dan setia kawan.

Ikal, pemuda yang hancur hidupnya karena cinta. Sebentar rendah diri, lalu bersemangat kembali. Tak kenal putus asa memperjuangkan cintanya. Semoga keberuntungan ada padamu, Kal.

Jose Rizal, burung merpati milik M. Nur yang setia memfasilitasi korespondensi M. Nur dengan Ikal.

Detektif M. Nur, pemuda polos, tak tampan, gemar menyelidiki, memilih karir sebagai detektif di kampung, tidak pintar hanya kadang beruntung, sahabat setia Ikal.

Zinar, diduga kekasihnya A Ling, tampan, berbakat di berbagai bidang, punya toko sendiri, ramah disukai banyak orang.

 

Mungkin karena ini buku pertama dari dwilogi jadi ada kesan tokoh-tokoh yang ada di dalam dalam cerita muncul sepenggal-sepenggal. Contohnya tokoh A Ling yang tidak diceritakan asal mulanya, dan mendapat porsi yang sangat sedikit di dalam novel. 

 

Sebaliknya deskripsi beberapa tokoh diceritakan dengan cukup detail dan unik. Misalnya,

Mari kuceritakan sedikit tentang Ichsanul Maimun bin Nurdin Mustamin padamu, kawan. Ia seumur denganku dan adalah tetanggaku. Badannya kecil. Maka, bolehlah ia disebut kontet. Kulitnya gelap, rambutnya keriting kecil-kecil. Alisnya hanya satu setengah. Maksudnya, setengah alis mata kirinya tak ada sebab terbakar ketika ia meniup karbit yang menyala di dalam dalam meriam bambu. Sisa alis itu hanya berupa bulu yang remang-remang. Kurasa semua itu akibat kualat pada guru ngaji di masjid.

Namun, alis satunya lebat sekali. Rahangnya seperti manusia Neanderthal. Matanya, sudah mata manusia modern meski agak juling. Namun, mata itu seperti mata anak kecil, jenaka sekali, dan selalu berbinar.

...

Halaman 49

 

Alur dan Latar

Alur cerita maju, dengan sudut pandang orang pertama. Konflik biasa tapi dibawakan dengan cara yang unik dan bahasa yang menarik sehingga secara total membuat novel ini enggan untuk dilepaskan begitu saja. Ending tertutup, tapi tentu saja sebenarnya berlanjut ke buku sekuelnya, Cinta di Dalam Gelas.

 

Cerita mengambil lokasi di kampung Melayu setempat, dengan rumah, sekolah, pasar, lokasi tambang timah, dan lain-lain. Deskripsi latar detail dan bisa menghadirkan suasana perkampungan Melayu yang khas. Ada Kampung Numpang Miskin, Pelabuhan Tanjung Pinong, Pasar Manggar, Toko Gula dan Tembakau, dan masih banyak lagi.

 

Namun, bangunan toko itu berbeda dengan toko kelontong orang Khek atau Hokian biasa. Ia lebih seperti kafe sederhana di luar negeri yang sering kulihat di gambar majalah-majalah traveling. Kusennya bagus. Daun jendelanya kaca gelap kecil segi empat dalam bingkai reng berwarna cokelat. Dudukan jendela sedikit menjorok ke depan. Di situ ditenggerkan pot-pot keramik berisi kembang sekulen dan ardisia.

Halaman 119

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Tulisan dalam bab pengantar menyimpan bagian yang menarik juga untuk dibaca. Sebenarnya nama Andrea Hirata berikut pencapaiannya sudah tidak asing untuk pembaca Indonesia. Saya setuju bahwa beliau adalah cultural novelist yang sekaligus periset sosial dan budaya. Penulis seperti beliau tak banyak jumlahnya, apalagi yang gaya menulisnya bisa disandingkan dengannya. Lucu juga ketika membaca deskripsi Andrea Hirata di bab pengantar yang ditulis oleh Chloe Meslin ini, tapi buku-buku Andrea Hirata memang kental dengan parodi, jadi kelucuan ini justru memperkuat perspektif saya akan novel Padang Bulan itu sendiri.

Novel-novel Andrea Hiraa setelah Tetralogi Laskar Pelangi adalah Dwilogi Padang Bulan, yaitu dua karya Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas, dengan urutan Padang Bulan terlebih dulu. Dwilogi itu meneguhkan Andrea Hirata sebagai cultural novelist sekaligus periset sosial dan budaya. Watak manusia yang penuh kejutan, sifat-sifat unik sebuah komunitas, parodi, dan cinta, ditulis dengan cara membuka pintu-pintu baru bagi pembaca untuk melihat budaya, diri sendiri, dan memahami cinta dengan cara yang tak biasa.

...

Kadang-kadang ia mengisi waktu dengan sukarela mengajar matematika dan  bahasa Inggris untuk anak-anak kecil, dan sesekali keluar dari Pulau itu untuk menghadiri undangan festival buku dan film di luar negeri. Ia juga sering mencoba suaranya sebagai tukang azan di masjid. Selain itu, dia banyak melamun saja. Tapi, dari kejauhan ia melihat-lihat jika di kampung ada komidi putar. Naik komidi putar adalah hobinya dari dulu hingga sekarang

Chloe Meslin

Diterjemahkan oleh Paulina Tjai

Halaman xii

 

Seperti novel Ayah yang menyimpan duka dalam parodi kehidupan, novel Padang Bulan pun demikian. Episode kisah hidup Enong membuat saya sedih. Misalnya,

 

Buku ini untuk anakku, Enong

Kamus satu miliar kata.

Cukuplah untukmu sampai bisa menjadi guru bahasa

Inggris seperti Ibu Nizam.

Kejarlah cita-citamu, jangan menyerah, semoga

Sukses.

Tertanda,

Ayahmu

 

Enong terdiam, lalu ia menangis untuk sebuah alasan yang ia tidak mengerti.

Halaman 17

 

Pilihan kata yang digunakan begitu enak dibaca. Bukan cuma mengalir tapi juga rumit, unik, namun menarik. Misalnya, 

Aku benci pada diriku karena tak bisa melupakan A Ling. Tapi, aku juga benci pada diriku sendiri karena membenci diriku sendiri yang tak bisa melupakan A Ling. Sungguh membingungkan keadaan ini. Aku dan kebencianku telah menjelma menjadi dua makhluk dengan kehendak masing-masing dan keduanya saling menyalahkan. Dengan terpaksa menempatkan diri, sebagai orang yang harus membenci diri sendiri karena mencintai seseorang, nilainya sama dengan rasa sesal sebesar kepala yang dibelesakkan ke dalam tenggorokan. Mengapa di dunia ini tak ada cara untuk menggurah cinta? Lalu, menggelontorkannya ke sungai.

Halaman 163

 

 

Perumpamaan yang dikemas dalam parodi menjadi salah satu gaya menulis Andrea Hirata yang saya sukai. Misalnya,

Bagiku, situasi dengan Bu Indri menjadi dilematis. Ia menarik. Daya tarik terbesarnya terletak pada keberaniannya untuk jujur. Di sisi yang lain, aku melihat diriku seperti seekor kucing yang malu-malu didekati ikan goreng. Kucing itu naik mimbar, lalu menyampaikan pidato penolakan. Andai kata Bu Indri datang dalam situasi yang berbeda, dan dalam hidupku tidak pernah ada perempuan bernama A Ling, aku takkan ambil tempo untuk mengakuisisinya.

Halaman 267.

 

Ada kutipan yang sama antara buku ini dengan buku Andrea Hirata lainnya. Membuat saya bertanya-tanya. 

Dunia ini penuh dengan orang yang kita inginkan, tapi tak menginginkan kita, dan sebaliknya.

Halaman 239

 

Saya juga suka bagian puisi-puisinya.

Love walks on two feet just like a human being

It stands up on tiptoes of insanity and misery.

Halaman 264

 

Di bagian akhir buku, ada bonus Penggalan Cerita Cinta di Dalam Gelas yang merupakan buku sekuel Padang Bulan. Total ada 8 halaman.

 

Novel Padang Bulan mendapatkan rating yang tidak mencapai 4 di Goodreads. Orang-orang menyukai novel ini, menyukai sisi humornya, pesan cerita yang dibawa karakternya, tapi juga mengritisi kelemahan alur cerita dan tokoh-tokohnya. Tidak 'wah', Padang Bulan 'bagus tapi biasa'.

 

Saya yang kebetulan penggemar karya-karya Andrea Hirata sebenarnya agak terkejut juga begitu mengecek rating buku Padang Bulan di Goodreads yang ternyata tidak mencapai 4. Buku ini bagi saya sangat menghibur, lucu, tapi punya pesan melalui karakter tokohnya, terutama Enong. Saya setuju jika tokoh A Ling sangat sedikit dibahas latar belakangnya, tapi ekspektasi saya pada novel ini memang tidak begitu banyak mengingat ini buku dwilogi. Alur ceritanya yang ringan tapi membingungkan saya anggap telah menjadi gaya Andrea Hirata yang menyimpan semuanya untuk dirangkaikan di akhir kisah. Kalimatnya yang terkadang 'lucu tapi berlebihan' juga sudah menjadi ciri khas penulis yang satu ini. Setidaknya lewat Padang Bulan, saya menemukan sebuah kisah cinta yang sebenarnya penuh derita, tapi herannya bisa diparodikan, bisa dilihat dari dari sudut pandang yang berbeda dari novel-novel romance kebanyakan.

 

 

Siapa Andrea Hirata

Andrea Hirata adalah pemenang pertama penghargaan sastra New York Book Festival 2013, untuk The Rainbow Troops, Laskar Pelangi edisi Amerika, Penerbit Farrar, Straus & Giroux, New York, kategori general fiction, dan pemenang pertama Buchawards 2013, Jerman, untuk Die Regenbogen Truppe, Laskar Pelangi edisi Jerman, Pnerbit Hanser, Berlin. Dia jga pemenang seleksi short story majalah sastra terkemuka di Amerika, Washingtong Square Review, New York University, edisi winter/spring 2011 untuk short story pertamanya Dry Season. Tahun 2015 dia dianugerahi gelas Doktor Honoris Causa di bidang sastra oleh University of Warwick, UK, dan tahun 2017  menerima penghargaan budaya dari pemerintah Prancis untuk karyanya Les Guerriers de L’arc-en-ciel (Laskar Pelangi edisi Prancis, Penerbit Mercure de France). Laskar Pelangi telah diadaptasi dalam bentuk film, musikal, lagu, serial TV dan koreografi oleh CityDance Company, Washingtong, D.C., dilayarkan di Berlinalle dan Smithsonian.

Sejak tahun 2010, secara mandiri Hirata mempromosikan minat baca, minat menulis, dan mendirikan museum sastra pertama dan satu-satunya di Indonesia, Museum Kata Andrea Hirata di Belitong.

 

Novel karyanya

  • Laskar Pelangi (2005)
    ·         Sang Pemimpi (2006)
    ·         Edensor (2007)
    ·         Maryamah Karpov
    ·         Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas (2010)
    ·         Sebelas Patriot (2011)
    ·         Laskar Pelangi Song Book (2012)
    ·         Ayah (2015)
    ·         Sirkus Pohon (2017)

Penghargaan
·         Pemenang BuchAwards Jerman 2013
·         Pemenang Festival Buku New York 2013 (general fiction category)
·         Honorary Doctor of Letters (Hon DLitt) dari Universitas Warwick 2015

 

Padang Bulan mendapatkan rating 3.82 di Goodreads.

 

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan novel ini kepada pecinta karya Andrea Hirata yang menyukai genre roman bergaya Melayu dengan tokoh-tokoh dan kehidupan masyarakat biasa. Alur ceritanya maju dengan sudut pandang orang pertama - Ikal. Tokoh-tokohnya sebagian diceritakan dengan detail, membawa pesan dan berkarakter, tapi ada juga yang hanya seperti lewat sepintas. Konfliknya biasa, hanya gaya berceritanya yang unik dan penuh parodi - jika tidak bisa disebut ironi - yang membuat novel ini sangat menarik untuk disimak. Latarnya yang bernuansa Melayu terasa kental. Sebagai buku pertama dari dwilogi, ada baiknya tidak berekspektasi banyak pada alur cerita, karena mungkin kejutan memang disiapkan di buku lanjutannya, yakni Cinta di Dalam Gelas.

 

My Rating : 4.2/5

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku The Silent Patient - Alex Mi…

19-02-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Silent Patient Penulis : Alex Michaelides Jenis Buku : Psychological Suspense Penerbit : Celadon Books Tahun Terbit : February 2019 Jumlah Halaman : 352 halaman Dimensi Buku :  23.37 x 15.75 x 2.29 cm Harga : Rp. 275.000*harga...

Read more

Review Buku The Tattooist of Auschwitz

18-02-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Tattooist of Auschwitz (Based on the powerful true story of Lale Sokolov) Penulis : Heather Morris Jenis Buku : Historical Fiction Penerbit : Zaffre Publishing  Tahun Terbit : Januari 2018 Jumlah Halaman :  288 halaman Dimensi...

Read more

Review Buku Why Men Love Bitches - Sherr…

18-01-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Judul : Why Men Love Bitches From Doormat to Dreamgirl – A Woman’s Guide to Holding Her Own in a Relationship Penulis : Sherry Argov Jenis Buku : Relationship Penerbit : Adams Media Corporation Tahun Terbit :...

Read more

Review Buku The Power of Nunchi - Euny H…

16-01-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Power of Nunchi The Korean Secret to Happiness and Success Penulis : Euny Hong Jenis Buku : Self Improvement Penerbit : Penguin Random House UK Tahun Terbit : September 2019 Jumlah Halaman :  240 halaman Dimensi...

Read more

TERBARU - Buku Indonesia & Terjemahan

Review Buku Sentra - Rhenald Kasali

18-01-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Sentra – Membangun Kecerdasan dan Kemampuan Anak Sejak Usia Dini, Demi Masa Depan yang Cemerlang Series on Education Penulis : Prof. Rhenal Kasali Jenis Buku : Edukasi Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku #MO - Rhenald Kasali

18-09-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : #MO Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham Penulis : Rhenald Kasali Jenis Buku : Ekonomi - Bisnis Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman :  446 halaman Dimensi Buku :  15...

Read more

Review Buku Wild Hearts (Ancaman Masa La…

28-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Wild Hearts (Ancaman Masa Lalu) * Harlequin Penulis : Sharon Sala Disain Sampul : Marcel A.W. Jenis Buku : Fiksi Romance Suspense - Misteri Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku A Song of Shadows (Kidung Ba…

14-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : A Song of Shadows (Kidung Bayang-Bayang) Penulis : John Connolly Disain Sampul : Edward Iwan Mangopang Jenis Buku : Detektif Kriminal – Misteri - Suspense Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah...

Read more

TERBARU - LIFE STORY

Decluttering Finances

24-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Inginkah teman-teman memiliki kemampuan mengelola keuangan dengan bijak? Pasti jawabannya ingin. Saya pikir tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak ingin memiliki skill memanajemen keuangan, sebab sebesar apapun...

Read more

Work Coffee Cafe (a Review)

17-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Familiar kah teman-teman dengan nama cafe ini? Saya sih tidak. Tapi itu kemungkinan karena kami domisili di Bandung Timur dan jarang main ke daerah ini. Padahal tempatnya asyik bahkan klasik...

Read more

Marka Cafe + Kitchen (a Review)

16-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Untuk mereka yang biasa ngafe atau duduk-duduk nongkrong sambil menikmati kopi pasti sudah kenal kafe yang satu ini. Saya juga tahu Marka cafe karena diajak partner saya ngobrol-ngobrol tukar pikiran...

Read more