Review Buku Dilarang Bercanda Dengan Kenangan - Akmal Nasery Basral

Published: Monday, 04 February 2019 Written by Dipidiff

 

Judul : Dilarang Bercanda Dengan Kenangan

Penulis : Akmal Nasery Basral

Editor : Triana Rahmawati

Cover : Resoluzy Media

Jenis Buku : Novel Roman Religi

Penerbit : Republika Penerbit

Tahun Terbit : November 2018

Jumlah Halaman :  470 halaman

Dimensi Buku :  13.5 x 20.5 cm

Harga : Rp. 90.000

ISBN : 9786025734458

 

Softcover

 

Sekelumit Tentang Isi

Johansyah Ibrahim, seorang pemuda Indonesia yang sedang belajar ilmu PR (Public Relations) di University of Leeds, Inggris, tak pernah menyangka keputusannya untuk datang ke London melihat prosesi pemakaman Putri  Diana Spencer bersama beberapa teman kampusnya, akan menjadi titik balik dalam kisah cinta dan mengubah jalan hidupnya selamanya.

Di tengah murung musim gugur yang mengurung kota, Jo mengalami beragam peristiwa yang bersentuhan dengan bermacam jenis hati wanita, selama sepekan yang riuh oleh liputan media dan ziarah jutaan manusia. Ketika prosesi pemakaman usai, Jo harus menetapkan pilihan siapa wanita yang akan bertakhta dalam singgasana cintanya. Dia tak bisa bermain hati karena setiap pesona romansa memancarkan elegi dan tragedinya sendiri. 
  

Seputar Fisik Buku dan Disainnya


Saya suka pilihan warna dan ilustrasi disain covernya. Sejujurnya, gara-gara disain sampul bukunya lah saya tertarik melihat novel ini saat berada di display toko buku. Bukunya memang tebal, tapi tidak jadi masalah buat saya. Beberapa orang bahkan lebih suka buku yang tebal ketimbang yang tipis dan sekali baca.

 

Tokoh dan Karakter


Johansyah Ibrahim, laki-laki yang cerdas dan berprestasi sehingga di sekolahkan oleh perusahaannya ke luar negeri. Dalam hal karir ia berdedikasi dan hampir tanpa cela, tapi soal cinta dan perasaan tampaknya kurang dewasa dan terkesan plin plan.

Aida, gadis cantik yang jatuh cinta pada Johansyah saat bertemu dengannya pertama kali di Inggris, setia pada perasaannya, sensitif, dan spontan. Aida juga seorang jurnalis.

Tiara, sepupu yang mencintai Johansyah sedari kecil, dan juga dicintai oleh Johansyah. Taat pada agama, keras hati, berambisi pada studi dan jenjang karirnya, pada dasarnya Tiara perempuan yang baik.

Karakter tokoh-tokoh utama dalam novel ini tampaknya memang sengaja dibuat kontroversial oleh penulis. Rupanya ciri khas sastra versi cerpennya tak hilang, pembaca diharapkan merenungkan dan menyimpulkan sendiri mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang menurut pembaca benar dan mana yang tidak.

 

Deskipsi fisik tokohnya kadang tidak terkumpul dalam satu alinea, tapi justru terasa luwes.

Kutengadahkan kepala untuk menatap pemilik suara. Sosok cantik dengan tubuh indah. Wajahnya bukan seperti wajah Arab atau Eropa, tapi memiliki ciri eksotisme Arab dan romantisme Eropa sekaligus.

“Excuse me,” ujarnya sekali lagi, “Maaf kalau kau sedang menunggu orang lain.”

“O, tidak. Silakan.” Ujarku sambil mengambil ransel dari kursi dan memindahkannya ke dekat kaki. “Kursi ini kosong. Silakan pakai.”

“Terima kasih,” katanya sambil meletakkan badan dan melepaskan syal serta overcoat musim gugur yang dipakainya. “Jalanan penuh, semua resto dan cafe penuh. Kedukaan bagi orang lain adalah keberuntungan bagi orang lainnya lagi. Dunia yang aneh, bukan?”

“Aku tak pernah berpikir seperti itu sebelum kamu mengatakannya sekarang. Pendapat yang menarik.”

Namun dia tidak menjawab karena sedang menyebutkan pesanannya kepada pelayan. Aku mencuri pandang wajahnya yang sedang menoleh, sehingga yang terlihat hanya pipi bagian kanan. Rambutnya hitam kecoklatan dengan bola mata besar sepeti perempuan Arab namun memiliki warna hijau layaknya orang Eropa.

Halaman 41

 

Alur dan Latar

Alur novel ini maju, hanya bagian prolognya saja yang memang menceritakan masa depan sehingga terkesan mundur saat masuk ke bab awal. Untuk yang suka cerita beralur cepat novel ini memenuhi ekspektasi itu. Hati-hati, mungkin akan ada adegan tertentu dalam cerita yang jadi seperti tergesa-gesa, demikian pula dengan pesan moral dan religinya. Sudut pandang cerita disampaikan dari orang pertama yaitu aku - Johansyah.

Prolog novel ini berkesan buat saya karena tidak biasa. Itu baru bisa diketahui begitu kita sudah beres membaca ceritanya. Maka epilognya pastilah menyimpan kejutan. Endingnya tertutup dengan menyisakan renungan buat pembacanya. Pas untuk sebuah novel yang dikembangkan dari sebuah cerpen sastra.

Latar cerita mengambil cukup banyak lokasi di Inggris, sedikit di Paris, dan sisanya di Indonesia. Deskripsi latarnya bukan cuma menggambarkan fisik lingkungan tapi juga suasana yang cukup detail pada situasi tertentu, termasuk latar peristiwa yang bersejarah, mulai dari prosesi pemakaman Lady Diana hingga periode pergolakan bangsa ketika Suharto hendak dilengserkan dari kedudukannya. Di setengah bagian novel, kehidupan tokoh utamanya berlokasi di Inggris. Jadi, membaca novel ini berasa seperti kita sedang berada di sana juga, meski kita tidak tahu tempat-tempat yang dideskripsikan di novel memang benar ada atau tidak.

 

Berikut saya kutipkan satu latar yang ada di buku.

Dalam perjalanan itulah aku dan Tiara menyaksikan satu persatu keajaiban alam yang menakjubkan, seperti warna air laut yang berlapis-lapis dari hijau muda, hijau tua, biru muda, biru tua yang terlihat seperti agar-agar lunak; rombongan paus yang berimigrasi di kejauhan dan sesekali menunjukkan kehadiran mereka; bukit-bukit kapur karst yang eksotis – setelah boat mereka mendekat baru terlihat adanya motif prasejarah berupa bekas telapak tangan atau smbol-simbol kuno dalam warna merah kirmizi yang khas. Dan pada beberapa bagian samudera kami merasa seperti setitik debu di tengah luasnya hamparan samudera yang menyambung dengan cakrawala. Sungguh, ke mana pun mata memandang, yang terlihat hanya gelinjang permukaan laut dan gugusan awan putih pada biru langit terhebat yang pernah kulihat...

Halaman 324

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, novel ini memiliki prolognya menarik karena klise dan memiliki tipuan alur cerita. Lokasinya di Neuheun, Aceh bulan April 2006.

 

Narasinya unik. Mungkin buat sebagian pembaca akan agak terasa janggal karena Akmal Nasery kadang memasukkan kata-kata bernuansa puisi ke dalam rangkaian kalimat yang ia susun. Tapi jangan terlalu heran juga sebab versi cerpen novel ini sebenarnya masuk nominasi ajang bergengsi untuk karya sastra Indonesia di tahun 2007, jadi wajar kalau bahasanya kadang seperti bait dalam puisi.

“Assalamualaikum. Apa kabar, Brother?” Seuntai suara lembut mengalungi telingaku dari sisi kiri. Aku menoleh. Seorang perempuan berhijab cokelat senada dengan kulitnya bertanya. “Kamu Jo, bukan? Dulu kuliah di Leeds?”

Halaman 2

 

Ada catatan kaki yang membantu kita untuk memahami istilah atau situasi tertentu.

 
Novel ini sangat berisi karena beberapa faktor. 'Isu' paling klise tapi paling sesuai realita ada di buku ini. Misalnya,

Kenapa seorang lulusan IPB, fakultas kehutanan pula, bisa diterima di perusahaan humas? Pertanyaan itu lumayan sering kuterima, dan biasanya kutanyakan balik, “Kenapa tidak?” Sebab dalam kenyataannya, alumni kampusku memang tersebar di banyak bidang pekerjaan yang sering tak ada kaitannya dengan pertanian. Ada yang masuk media massa dan berkarir sebagai jurnalis, tak sedikit yang bekerja di sektor perbankan dan menjadi bankir profesional, selain ada juga yang menggeluti industri manufaktur dan menjadi pengusaha makmur.

Halaman 10

 

Lalu teori-teori tokoh terkemuka (sebagian besar penulia juga) dipakai sebagai bagian dari alur cerita. Membaca buku ini membuat kita bertambah ilmu dan wawasan dan bisa menginspirasi juga.

Ada satu kalimat Dale Carniege, motivator tersohor yang begitu mengobarkan semangatku, yakni “Keberhasilan itu terjadi 15 persen karena pengetahuan profesional dan 85 persen karena kemampuan menyampaikan gagasan, menunjukkan kepemimpinan, dan membangkitkan antusiasme orang lain.”

Halaman 12

 

Teori Personality Plus ini bahkan bukan cuma disebutkan sekali lewat, tapi juga menjadi penghubung dan alasan bagi 'kekontroversial-an' tokoh-tokoh cerita yang ada.

Untunglah kemudian seniorku menyuruhku mempelajari Teori Personality Plus yang mengelompokkan karakter manusia ke dalam empat jenis: sanguinis (penampil), koleris (pemimpin), melankolis (perasa), dan plegmatis (pemerhati).

Dengan memahami empat karakter manusia yang sudah dirumuskan sejak lama oleh Hippocrates, filsuf dan pakar kesehatan Yunani Kuno, aku jauh lebih mudah dalam memahami keinginan klien.

Halaman 13

 

Selain latar peristiwa pemakaman Lady Diana dan isu seputarnya, latar situasi politik juga ada di sini. Tidak begitu ditonjolkan seperti novel Amba - Laksmi Pamuntjak, tapi cukup terasa sehingga saya teringat untuk menandai bagian latar ini. Misalnya,

Menjelang keberangkatanku ke Inggris, suhu politik domestik di tanah air semakin naik karena apda akhir Mei, berlagsung pemilihan umum yang diikuti tiga partai politik: Partai Persatuan Pembangunan, Partai Demokrasi Indonesia, dan Golongan Karya – yang tak pernah mau menyebut diri sebagai partai politik, meski dilihat dari sudut apa pun tak ada bedanya dengan dua parpol lainnya. Ketiganya sudah berlaga sejak Pemilu 1971 sampai Pemilu 1997 dalam enam kali pemungutan suara yang selalu dimenangkan Golkar, pilar utama Orde...

Halaman 15

 

Bagian yang ini benar nyata, setidaknya dulu setiap kali bercakap-cakap dengan kenalan dari luar negeri, pasti mereka lebih familar dengan Bali ketimbang nama negara kita.

Aku sudah terlalu malas menjelaskan kepada setiap orang bahwa Bali yang berada di Indonesia, bukan sebaliknya.

Halaman 42

 

Menarik sekali bahwa lewat percakapan para tokoh dan konflik yang ada, penulis seolah selalu ingin mengajak kita merenungkan banyak hal, mulai dari kehidupan secara umum, situasi politik, prinsip-prinsip, dan nilai moral dan ajaran agama yang kita anut. Misalnya,

“Aku pernah mengikuti pertukaran mahasiswa selama satu semester di University of London beberapa tahun lalu.” Aida menatapku sambil kami kembali melangkah perlahan. “Salah satu yang kupelajai dari keunggulan bangsa ini adalah kebanggaan menggunakan produk buatan mereka sendiri. Semangat itu yang kuserap dan praktikkan sepulang dari London. Jika ada produk Rumania yang bisa dipakai, mengapa aku haru mengonsumsi produk bangsa lain? Menurutku inilah penerapan nasionalisme dari sudut pandang seorang konsumen.”

“Sebentar. Bukankah patriotisme adalah ketika rasa cinta terhadap bangsa seniri muncul pertama kali, sedangkan nasionalisme adalah ketika rasa benci terhadap bangsa lain muncul pertama kali?”

Aida menghentikan langkahnya dan menatapku. “Siapa yang mengatakan itu?”

“Charles de Gaulle kalau aku tidak keliru.”

Halaman 50

 

Luck is not chance. It’s toil; fortune’s expensive smile is earned.”

“Menurutmu begitu?”

“Itu pendapat Emily Dickinson, tapi aku setuju.”

“Betul juga. Kalau dilihat sekitar seakan-akan kita beruntung karena sampai di tempat ini persis ketika pasangan tua itu pergi. Tapi kalau dilihat lebih jauh, hal itu bisa terjadi karena kerja keras kita berjalan ke tempat ini. Tanpa kita berusaha, keberuntungan tak akan datang.”

Halaman 56

 

Meski dia sudah berada di pucuk tiang, eksistensinya tidak maksimal jika tak ada angin yang mendera. Sebalik jika angin sudah menghajarnya dari segala penjuru, semakin keras siksaan angin pada tubuh bendera, justru akan membuat eksistensinya semakin nyata karena kibarannya.

Halman 98
 

 

Jangan lupa, buku ini punya cukup banyak kutipan buku. Misalnya,

Saya telah belajar bahwa mendapatkan kebahagiaan adalah dengan membatasi keinginan, bukan dengan berusaha melampiaskannya

Halaman 51

 
Soal makanan juga disebutkan dengan jelas. Buat yang suka novel yang memasukkan unsur menu makanan berikut deskripsi detail atau tambahannya, boleh coba baca buku ini.  Misalnya,

Makanan kami datang. Aida memesan vegetable somosa dan mushroom sashlik sebagai menu pembuka, serta menu utama lamb passanda untuku dan Bengal fish curry untuk dirinya, ditambah dua porsi nasi pilau untuk kami berdua.

Halman 59

 

Untuk sebuah novel roman, Dilarang Bercanda dengan Kenangan bagi saya tidak terlalu berhasil memunculkan emosi indahnya cinta atau kesedihan. Tapi mungkin teman-teman ada yang sebaliknya. Saya kutipkan satu bagian yang memiliki sisi emosi di bawah ini.

Peristiwa beberapa menit terakhir ini jauh lebih berat dibandingkan semua kesengsaraanku memendam rindu selama 8 tahun lebih terhadap Tiara-ku. Di tengah serbuan angin musim gugur, dan posisi tegak mematung selama beberapa menit yang terasa seperti berabad-abad, untuk pertama kalinya aku menangis dengan hati berlumuran luka selama di Inggris. Kelopak cintaku yang baru mekar dan menyebarkan harum kini gugur helai per helai, sebelum waktunya tiba.

Halaman 225

 

Baca Bab Takrif di bagian akhir buku, sebab ini penting untuk disimak.

Bab Takrif

Novel Dilarang Bercanda dengan Kenangan ini  adalah pengembangan dari cerpen berjudul sama yang terdapat pada antologi Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006). Antologi yang berisi 13 cerpen ini termasuk dalam 5 Besar nominasi prosa Khatulistiwa Literary Award (kini Kusala Sastra Khatulistiwa) 2007.

Cerpen Dilarang Bercanda dengan Kenangan pada antologi itu, sebelumnya dimuat sebagai cerpen di harian Riau Pos edisi Minggu, 31 Juli 2006.

 

Novel Dilarang Bercanda dengan Kenangan masih berjuang di Goodreads dengan perolehan rating 3.8. Beberapa pembaca merasa ketidaknyamanan pada unsur tokoh dan alur cerita sehingga memberikan rating yang rendah atau sedang saja.

 

Secara pribadi, buku ini memang bukan favorit saya, dan sisi-sisi yang menjadi ketidaknyamanan para pembaca memang benar adanya. Tapi disitulah justru peran para tokoh novel yang kontroversial ini, sebab buku ini merupakan pengembangan cerpen - sastra dan bukan roman manis romantis. Baik alur dan tokohnya diatur demikian karena judulnya saja Dilarang Bercanda dengan Kenangan bukan Kenangan di Inggris berbuah Manis.

Di luar dari unsur itu, saya menyukai bobot tulisannya yang berisi, ada banyak pesan, ada banyak bahan perenungan, dan tersimpan banyak tambahan wawasan. Pesan buku ini saya kira gamblang saja, sangat sesuai dan sejalan dengan judulnya.

 

Siapa Akmal Nasery Basral

Akmal Nasery basral pernah mengalami kehidupan sebagai wartawan majalah berita (Gatra dan tempo) sejak lulus kuliah di paruh pertama dekade 90-an. Dia juga salah seorang pendiri dan Pemimpin Redaksi pertama majalah musik MTV trax, sebelum emmutuskan berkiprah sebagai penulis penuh waktu pada 2010.

Karya-karyanya adalah Imperia, Ada Seseorang di Kepalaku yng Bukan Aku (antologi cerpen), Nagabonar Jadi 2, Sang Pencerah, Presiden Prawiranegara, Batas: Antara Harapan dan Kenyataan, Anak Sejuta Bintang, Simfoni Untuk Negeri (buku dokumentasi perjalanan Twilite Orchestra dan Magenta Orchestra), Tadarus Cinta Buya Pujangga, Napoleon dari Tanah Rencong, Trilogi Imperia (Ilusi Imperia, Rahasia Imperia, Coda Imperia), dan Dilarang Bercanda dengan Kenangan.

Selain meluncurkan buku, dia juga menulis kolom dan opini untuk beragam media massa, serta memberikan kajian keislaman baik untuk jamaah perkantoran/pemukiman, maupun jamaah umum.

 

Novel Dilarang Bercanda dengan Kenangan mendapatkan rating 3.8 di Goodreads.

 

Rekomendasi

Saya rekomendasikan novel ini kepada pembaca dewasa yang suka pada karya sastra roman modern yang tidak keberatan pada tokoh-tokoh berkarakter tidak sempurna, kontroversial, alur yang cepat (mungkin beberapa bagian terasa tergesa-gesa) dan ide cerita yang tidak sebahagia yang diharapkan. Latarnya detail, sebagian besar berlokasi di Inggris dan di Indonesia. Banyak wawasan yang bisa didapatkan dari buku ini, dan itu belum termasuk pesan religinya. Untuk mereka yang suka pada cerita yang mengangkat jurnalisme, novel ini memenuhi ekspektasi itu.

 

My Rating : 4/5

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku The Silent Patient - Alex Mi…

19-02-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Silent Patient Penulis : Alex Michaelides Jenis Buku : Psychological Suspense Penerbit : Celadon Books Tahun Terbit : February 2019 Jumlah Halaman : 352 halaman Dimensi Buku :  23.37 x 15.75 x 2.29 cm Harga : Rp. 275.000*harga...

Read more

Review Buku The Tattooist of Auschwitz

18-02-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Tattooist of Auschwitz (Based on the powerful true story of Lale Sokolov) Penulis : Heather Morris Jenis Buku : Historical Fiction Penerbit : Zaffre Publishing  Tahun Terbit : Januari 2018 Jumlah Halaman :  288 halaman Dimensi...

Read more

Review Buku Why Men Love Bitches - Sherr…

18-01-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Judul : Why Men Love Bitches From Doormat to Dreamgirl – A Woman’s Guide to Holding Her Own in a Relationship Penulis : Sherry Argov Jenis Buku : Relationship Penerbit : Adams Media Corporation Tahun Terbit :...

Read more

Review Buku The Power of Nunchi - Euny H…

16-01-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Power of Nunchi The Korean Secret to Happiness and Success Penulis : Euny Hong Jenis Buku : Self Improvement Penerbit : Penguin Random House UK Tahun Terbit : September 2019 Jumlah Halaman :  240 halaman Dimensi...

Read more

TERBARU - Buku Indonesia & Terjemahan

Review Buku Sentra - Rhenald Kasali

18-01-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Sentra – Membangun Kecerdasan dan Kemampuan Anak Sejak Usia Dini, Demi Masa Depan yang Cemerlang Series on Education Penulis : Prof. Rhenal Kasali Jenis Buku : Edukasi Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku #MO - Rhenald Kasali

18-09-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : #MO Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham Penulis : Rhenald Kasali Jenis Buku : Ekonomi - Bisnis Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman :  446 halaman Dimensi Buku :  15...

Read more

Review Buku Wild Hearts (Ancaman Masa La…

28-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Wild Hearts (Ancaman Masa Lalu) * Harlequin Penulis : Sharon Sala Disain Sampul : Marcel A.W. Jenis Buku : Fiksi Romance Suspense - Misteri Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku A Song of Shadows (Kidung Ba…

14-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : A Song of Shadows (Kidung Bayang-Bayang) Penulis : John Connolly Disain Sampul : Edward Iwan Mangopang Jenis Buku : Detektif Kriminal – Misteri - Suspense Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah...

Read more

TERBARU - LIFE STORY

Decluttering Finances

24-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Inginkah teman-teman memiliki kemampuan mengelola keuangan dengan bijak? Pasti jawabannya ingin. Saya pikir tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak ingin memiliki skill memanajemen keuangan, sebab sebesar apapun...

Read more

Work Coffee Cafe (a Review)

17-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Familiar kah teman-teman dengan nama cafe ini? Saya sih tidak. Tapi itu kemungkinan karena kami domisili di Bandung Timur dan jarang main ke daerah ini. Padahal tempatnya asyik bahkan klasik...

Read more

Marka Cafe + Kitchen (a Review)

16-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Untuk mereka yang biasa ngafe atau duduk-duduk nongkrong sambil menikmati kopi pasti sudah kenal kafe yang satu ini. Saya juga tahu Marka cafe karena diajak partner saya ngobrol-ngobrol tukar pikiran...

Read more