Review Buku Notre Dame - Ken Follett

Published: Friday, 28 February 2020 Written by Dipidiff

 

Judul : Notre-Dame

A Short History of The Meaning of Cathedrals 

Penulis : Ken Follett

Jenis Buku : Non Fiksi - History

Penerbit : Viking

Tahun Terbit : Oktober 2019

Jumlah Halaman :  80 halaman

Dimensi Buku :  5.2 x 0.5 x 7.6 inci

Harga : Rp. 195.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 978-1984880253

Hardcover

Edisi Bahasa Inggris

The No. 1 Bestselling Author of The Pillars of The Earth

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Buku yang terdiri dari 100 halaman ini, 63 halaman di antaranya berisi pengalaman Ken Follett saat mengetahui katedral termegah Notre Dame de Paris mengalami kebakaran. Ia menggambarkan emosi yang mencekamnya saat itu. Follett kemudian menceritakan kisah katedral, dari pembangunannya hingga peran yang dimainkannya sepanjang waktu dan sejarah, dan ia memaparkan pengaruh yang dimiliki Notre-Dame terhadap katedral di seluruh dunia dan pada penulisan salah satu bukunya yang paling terkenal, The Pillars of the Earth. Sisa halamannya berisi cuplikan draft buku terbarunya The Evening and The Morning yang merupakan prekuel dari novel The Pillars of The Earth yang baru akan dirilis September 2020. Hasil penjualan buku Notre-Dame akan disumbangkan ke badan amal La Fondation du Patrimoine.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Buku ini seketika mengingatkan saya pada buku Sea of Prayer-nya Khaled Khoseini bukan hanya karena kedua buku ini buku yang bernilai charity, tapi juga karena fisik bukunya yang mirip-mirip, dicetak hardcover dengan sampul lepas yang cantik, tipis, tapi tetap berkualitas. Saya suka warna birunya, dan kombinasi warna gold-nya yang membuat otak saya mencerna keeleganan katedral Notre Dame. Siluet pada cover saya duga adalah bagian dari bangunan katedral. 

 

Opini - Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Kalau saya suka topik sejarah, buku ini pasti sangat menarik untuk disimak. Tapi 'history book is not my cup of tea'. Tapi, nyatanya buku ini tidak sulit kok buat dipahami dan 'dinikmati'.

Nama Ken Follet sendiri sempat populer sebagai penulis thriller saat ia menerbitkan bukunya yang berjudul Eye of the Needle yang kemudian memenangkan penghargaan dan menjadi international bestseller. Tapi bukunya The Pillars of the Earth membawa predikat baru bagi Ken Follet sebagai 'The Master of Historical Fiction'.

Jadi, sudahkah teman-teman membaca buku-buku Ken Follet, khususnya The Pillars of the Earth? By the way, buku Notre-Dame ini ternyata mengisahkan pula pengaruh sejarah katedral tersebut dalam penulisan The Pillars of the Earth. Menarik ya ☺.

... burning and how the fire was gathering force, but the journalists commenting did not – and why should they? They had not studied the construction of Gothic cathedrals. I had, in doing research for The Pillars of the Earth, my novel about the building of a fictional medieval cathedral. A key scene in Chapter Four describes the old cathedral of Kingsbridge burning down, and I had asked myself: Exactly how does a great stone church catch fire?

Page 3

 

Cwew

Before I flew home from Paris, my French publisher asked me if I would think about writing something new about my love of Notre-Dame, in light of the terrible event of 15 Apriil. Profits from the book would go to the rebuilding fund, and so would my royalties. ‘Yes,’ I said. ‘I ll start tomorrow.’

That is what I wrote.

Pge 10

 

Tentu saja ada nama-nama tokoh penting, tahun, dan peristiwa sejarah yang dijelaskan di dalam buku ini. Misalnya tentang Bishop Maurice yang pertama kali menggagas pembangunan Notre Dame bahkan mendanai pembangunan awal katedral tersebut. Sejarah katedral Notre Dame ternyata begitu 'tua', Bishop Maurice sendiri tidak sempat menyaksikan akhir dari pembangunan katedral. Nama katedral ini sepertinya suci ya untuk umat Kristiani. Salah satu buku fiksi yang saya baca baru-baru ini, judulnya Imaginary Friend, salah satu tokohnya berulangkali menyebutkan Notre Dame sebagai destinasi suci.

Whenever human beings manage to produce more than they need to survive, someone comes along to take the surplus away from them. In medieval Europe there were two such groups; the  aristocracy and the Church. The noblemen fought wars and, between battles, went hunting to maintin their equestrian skills and their bloodthristy spirit. The church built cathedrals. Bishop Maurice had money for his project – or, at least, to begin it.

..

Page 15

The twin towers were in place by 1250. Probably the last phase was the casting of the bells. As these were well-night impossible to transport over any distance, they were cast on site, and the builders of Notre-Dame probably made a bell pit near the base of the west front, so that the finished article could be hauled up directly into the tower.

The cathedral was more or less built by 1260. But Bishop Maurice had died in 1196. He never saw his great cathedral finished.

Page 22

 

 

Sejarah selalu memikat hati saya ketika penulisnya bisa mengungkapkan hal-hal menarik yang tak melulu soal tahun, kronologi kaku, dan berderet nama-nama tokoh yang tidak saya kenali. Dan buku Notre-Dame - Ken Follet ini menarik buat saya.

Dari buku ini saya baru tahu kalau pembangunan katredal Notre-Dame di awal tahun pendiriannya melibatkan para wanita juga. Rupanya keluarga pekerja kala itu umum terlibat sebagai tim. Fisik wanita yang tidak sekuat pria ternyata tak menjadi halangan untuk menjadi bagian dari sejarah pembangunan katedral termegah dan tertinggi di jamannya. Para pekerjanya juga berdatangan dari berbagai negara, seperti Italia, Belanda, dan Inggris.

Ada pula diceritakan tentang hal-ikhwal mengapa pembangunan katedral di mulai dari ujung Timur dan asal mula 'flying buttresses' yang indah bisa ada di dinding katedral Notre-Dame. Ternyata alasannya sederhana, yakni menutupi bagian dinding yang retak saat konstruksi bangunan memburuk di sekitar tahun 1163.

More stone was ordered. This was not the famous creamy-grey ‘Paris stone’, technically Lutetian limestone, used for the Louvre, the Invalides, the Hollywood homes of movie millionaires, and for Giorgio Armani’s stores all over the world today. That was not discovered until the seventeeth century, and comes from quarries twenty-five miles north of Paris in the Department of the Oise. In the Middle Ages the cost of transporting stone could be prohobitive.

...

Page 17

There were women as well as men. Jean Gimpel, mentioned earlier, read the thirteenth-century tax register of the municipality of Paris and found many female names on the list of craftspeople who paid taxes. Gimpel was the first historian to note the role of women in building our great cathedrals. The idea that ...

Page 19

Most cathedrals were built by an international effort. The designer of England’s premier cathedral, Canterbury, was a Frenchman, Guillaume de Sens. Men and women of different nations worked side by side on these building sites, and foreigners are right to see Notre-Dame as their heritage as well as that of the French nation.

The work was dangerous. Once the wall grew taller than the mason, he had to work on a platform, and as the wall rose higher, so did the platform.

...

Page 20

 

The builders of Notre-Dame started at the east end, as usual. There was a practical reason for this. As soon as the choir was finished, the priests could start holding service there, while the rest of the church was going up.

...

Page 21

 

Even then then choir was not finished, because cracks appeared in the stones. The master-mason decided that the vault was too heavy. However, the solution was a happy once; to reinforce the walls, he added the elegant flying buttresses that today make the view from the east so enchanting, like a flock of birds rising into the air.

From then on the work went even more slowly. ...

Page 21

 

 

 

Ada gambar-gambar dokumentasi berupa foto hitam putih, sketsa dekorasi masa restorasi Notre-Dame 1848, dan gambar arsitek yang memantik rasa keingintahuan yang lebih dalam.

Picture: Beberapa gambar yang ada di dalam buku

 

Kita juga bisa memahami dunia kepenulisan (klasik) masa itu melalui secuplik sejarah kehidupan Victor Hugo (Bab 3 1831) dan pengaruhnya kelak pada renovasi Notre-Dame besar-besaran di tahun 1844 di bawah komando arsitek tersohor Eugene Viollet-le-Duc. Di bab ini nama-nama penulis klasik berseliweran seperti Ian Fleming dan Jane Austin. Mungkin buat teman-teman yang suka karya klasik buku ini bakal menarik juga untuk disimak.

He produced a short semi-fictional work called The Last Day of a Condemned Man, a strikingly compassionate account of the final of a man condemned to death, based on a real-me murderer. He was beginning to see French society as sometimes hars and cruel, and his imagination was more and more occupied by the despised: prisoners, orphans, cripples, beggars and murderers. And like every novelist he burned to transform his obsessions into stories. He was moving rapidly towards the social criticism that thirty years later would produce his masterpiece, Les Miserables.

Page 27

 

On 1 September 1830  he sat down to write Chapter One. His wife recalled: ‘He bought himself a bottle of ink and a huge grey knitted shawl, which covered him from head to foot; locked away his formal clothes, so that he would not be tempted to go out; and entered his novel as if it were a prison.’ (Writers are often swathed in wool, by the way; we sit still all day, so we get cold).

..

Page 28

 

In order to tell his highly coloured tale of angry confrontations and incessant crises, Hugo developed a style of extraordinary vividness and power, muscular enough to carry the weight of all that melodrama. The greatest and most popular novelists, from Jane Austen to Ian Fleming, have often created highly individual prose tailored to suit the material of their stories.

...

Page 32

 

Bagi yang mengikuti atau sudah membaca buku The Pillars of The Earth buku Notre-Dame ini jadi makin menarik dibaca bukan hanya karena sisi sejarah katedral Notre-Dame yang diceritakan oleh Ken Follet, tapi juga karena buku ini punya 'exclusive extract' buku The Evening and The Morning yang merupakan prekuel The Pillars of The Earth yang baru akan dirilis bulan September 2020 nanti.

Sebagai prekuel, The Evening and The Morning jelas merupakan cerita yang dikembangkan dari buku awalnya, karya yang ceritanya berlatar sebelum karya sebelumnya, yang berfokus pada kejadian yang terjadi sebelum kisah aslinya. Menyimak sinopsisnya, buku The Evening and The Morning memiliki tokoh utama seorang wanita dan seorang pemuka agama, sama seperti The Pillars of The Earth. Buku ini akan membawa kita ke perjalanan epik masa lalu yang penuh dengan ambisi dan persaingan, kematian dan kelahiran, cinta dan kebencian, yang akan mengakhiri kisah yang dimulai oleh novel The Pillars of The Earth. Tampaknya buku ini konfliknya bakalan rumit ya.

Cuplikan cerita The Evening and The Morning yang ada di buku Notre Dame hanya satu bab saja, yang merupakan draft dan menurut Ken Follet ada kemungkinan berbeda dengan isi buku yang nanti dirilis September. Diceritakan di sana, Viking menghancurkan kota tempat Edgar tinggal, dan menewaskan wanita yang dicintainya.

Picture: Cuplikan buku terbaru Ken Follett

 

Meski buku ini tipis, tapi unsur sejarahnya menurut saya cukup menyeluruh. Tentu buat para pecinta buku sejarah, apa yang ada di buku Notre Dame akan dinilai kurang detail. Sepertinya ini bukan buku untuk referensi yang demikian. Sentuhan personal penulis ada di buku ini. Dan itu sangat terasa terutama saat menceritakan peristiwa kebakaran di katedral. Unsur emosinya jadi terekspos. Buku ini menurut saya juga jadi menarik karena merupakan kombinasi beberapa 'materi', yakni sejarah katedral, pengalaman nyata Ken Follett di seputar kejadian kebakaran Notre Dame, dan bonus buku terbarunya. Layak dicoba baca, karena saya yang tidak begitu suka buku bergenre sejarah, nyatanya menikmati buku ini.

 

Siapa Ken Follett

Ken Follett berusia dua puluh tujuh ketika ia menulis Eye of the Needle, sebuah film thriller pemenang penghargaan yang menjadi bestseller internasional. Dia kemudian mengejutkan semua orang dengan mempublikasikan The Pillars of the Earth, sebuah karya fiksi tentang pembangunan sebuah katedral di Abad Pertengahan, yang terus menawan jutaan pembaca di seluruh dunia. Sekuelnya, World Without End and A Column of Fire, adalah buku terlaris nomor satu di Inggris, AS, dan Eropa.

 

Also by Ken Follett

The Modigliani Scandal

Paper Money

Eye of the Needle

Triple

The Key to Rebecca

The Man from St Petersburg

On Wings of Eagles

Lie Down with Lions

The Pillars of the Earth

Night Over Water

A Dangerous Fortune

A Place Called Freedom

The Third Twin

The Hammer of Eden

Code to Zero

Jackdaws

Hornet Flight

Whiteout

World Without End

Fall of Giants

Winter of the World

Edge of Eternity

A Column of Fire

Source: Buku Notre Dame

 

Awards

2018 - Komandan Ordo Kerajaan Inggris (CBE) Tahun 2018 untuk pengabdiannya kepada literatur.
2013 - Grand Master di Edgar Awards di New York.
2012 - Winter of the World memenangkan the Qué Leer Prize untuk The Best Translated Book di Spanyol.
2010 - Fall of Giants memenangkan the Libri Golden Book Award untuk JBest Fiction Title di Hongaria.
2010 - Grand Master di ThrillerfestV di New York.
2008 - Pemenang Olaguibel Prizefor yang berkontribusi pada promosi dan kesadaran arsitektur.
2008 - Doktor Kehormatan Sastra oleh The University of Exeter.
2007 - Doktor Kehormatan Sastra oleh The University of Glamorgan.
2007 - Doktor Kehormatan Sastra oleh Universitas Negeri Saginaw Valley.
2003 - Jackdaws memenangkan Corine Literature Prize di Bavaria.
1999 - Hammer of Eden memenangkan Premio Bancarella Literary Prize di Italia.
1979 - Eye of the Needle memenangkan the Edgar Best Novel Award dari Mystery Writers of America.

Sumber: Wikipedia

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan pembaca yang menyukai topik sejarah, dengan katedral Notre Dame sebagai fokus bahasannya. Ada sejarah, konstruksi, dan kisah-kisah di balik pembangunan katedral tersebut. Ada gambar-gambar disain, dokumentasi lama, dan gambar pelengkap lainnya yang membuat buku ini meskipun tipis (dan tidak lengkap menilik usia katedral yang ratusan tahun lamanya) tapi tetap terasa berisi dan menarik untuk disimak. Ada kisah pengalaman pribadi Ken Follett saat kebakaran terjadi di katedral tahun 2019.

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk Order Dipidiff Snack Book

atau Informasi Reseller dan Kerjasama

 

 

 

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku House of Earth and Blood (Cr…

31-07-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  A #1 New York Times bestseller!   Judul : House of Earth and Blood (Crecent City #1) Penulis : Sarah J. Maas Jenis Buku : Adult Fantasy Penerbit : Bloomsbury Publishing (UK)  Tahun Terbit : Maret...

Read more

Review Buku Make Noise - Eric Nuzum

21-07-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Make Noise A Creator’s Guide to Podcasting And Great Audio Storytelling Penulis : Eric Nuzum Jenis Buku : Self Improvement Penerbit : Workman Publishing Tahun Terbit : Desember 2019 Jumlah Halaman : 264 halaman Dimensi Buku : ...

Read more

Review Buku All the Rage - Cara Hunter

14-07-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : All The Rage Penulis : Cara Hunter Jenis Buku : Detective Crime Penerbit : Penguin Random House UK Tahun Terbit : Desember 2019 Jumlah Halaman :  464 halaman Dimensi Buku :  12.90 x 19.70 x 3.50...

Read more

Review Buku Minimal - Madeleine Olivia

07-07-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

Judul : Minimal How to Simplify Your Life and Live Sustainably Penulis : Madeleine Olivia Jenis Buku : Self Improvement Penerbit : Penguin Random House UK Tahun Terbit : Januari 2020 Jumlah Halaman :  320 halaman Dimensi Buku : ...

Read more

TERBARU - Buku Indonesia & Terjemahan

Review Buku The Fifth To Die - J.D. Bark…

21-07-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Fifth To Die Penulis : J.D. Barker Editor : Ani Nuraini Syahara Jenis Buku : Psychological Thriller Penerbit : Bhuana Sastra Tahun Terbit : 2019 Jumlah Halaman :  740 halaman Dimensi Buku :  13.5 x 20...

Read more

Review Buku Sentra - Rhenald Kasali

18-01-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Sentra – Membangun Kecerdasan dan Kemampuan Anak Sejak Usia Dini, Demi Masa Depan yang Cemerlang Series on Education Penulis : Prof. Rhenal Kasali Jenis Buku : Edukasi Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku #MO - Rhenald Kasali

18-09-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : #MO Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham Penulis : Rhenald Kasali Jenis Buku : Ekonomi - Bisnis Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman :  446 halaman Dimensi Buku :  15...

Read more

Review Buku Wild Hearts (Ancaman Masa La…

28-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Wild Hearts (Ancaman Masa Lalu) * Harlequin Penulis : Sharon Sala Disain Sampul : Marcel A.W. Jenis Buku : Fiksi Romance Suspense - Misteri Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah Halaman...

Read more

TERBARU - LIFE STORY

Decluttering Finances

24-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Inginkah teman-teman memiliki kemampuan mengelola keuangan dengan bijak? Pasti jawabannya ingin. Saya pikir tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak ingin memiliki skill memanajemen keuangan, sebab sebesar apapun...

Read more

Work Coffee Cafe (a Review)

17-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Familiar kah teman-teman dengan nama cafe ini? Saya sih tidak. Tapi itu kemungkinan karena kami domisili di Bandung Timur dan jarang main ke daerah ini. Padahal tempatnya asyik bahkan klasik...

Read more

Marka Cafe + Kitchen (a Review)

16-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Untuk mereka yang biasa ngafe atau duduk-duduk nongkrong sambil menikmati kopi pasti sudah kenal kafe yang satu ini. Saya juga tahu Marka cafe karena diajak partner saya ngobrol-ngobrol tukar pikiran...

Read more