Review Buku The Infinite Game - Simon Sinek

Published: Monday, 16 December 2019 Written by Dipidiff

 

Judul : The Infinite Games

Penulis : Simon Sinek

Jenis Buku : Self Improvement - Leadership

Penerbit : Portfolio/Penguin

Tahun Terbit : Oktober 2019

Jumlah Halaman :  272 halaman

Dimensi Buku :  22.86 x 15.24 x 1.60 cm

Harga : Rp. 330.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9780735213500

Hardcover

Edisi Bahasa Inggris

No.1 New York Times Bestseller

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

The Infinite Game adalah buku yang mengubah mindset para pemimpin dan pelaku bisnis masa kini di era disrupsi. Hidup bukan kompetisi, tapi memiliki rival itu esensial, bisnis bukan kompetisi yang berakhir dengan menang dan kalah, tapi bisnis adalah permainan yang tidak ada batasnya, sehingga punya tujuan yang lebih dari sekadar laba (that is 'make the world a better place'). Pertanyaannya adalah bagaimana cara agar sukses dalam permainan yang tidak ada habisnya yang kita ikuti?

Simon Sinek menawarkan kerangka kerja untuk bisa memimpin dengan pola pikir yang tak terbatas. Para pemimpin yang menganut pola pikir tak terbatas membangun organisasi yang lebih kuat, lebih inovatif, dan lebih menginspirasi. Pada akhirnya, merekalah yang memimpin kita ke masa depan.

 

 

Yuk kita intip daftar isinya:

Why I Wrote This

Winning

Chapter 1 Finite and Infinite Games

Chapter 2 Just Cause

Chapter 3 Cause. No Cause.

Chapter 4 Keeper of The Cause.

Chapter 5 The Responsibility of Business (Revised)

Chapter 6 Will and Resources

Chapter 7 Trusting Teams

Chapter 8 Ethical Fading

Chapter 9 Worthy Rival

Chapter 10 Existential Flexibility

Chapter 11 The Courage to Lead

Afterword

Acknowledgements

Notes

Index

 

 

Seperti yang disampaikan Simon Sinek dalam kata pengantar bukunya, The Infinite Game adalah buku yang diperuntukkan kepada mereka yang siap menantang status quo dan menggantinya ke situasi yang baru yang lebih kondusif di jaman sekarang, jaman di mana semua orang harus punya kontribusi positif yang tak hanya sebatas diri sendiri dan keluarga. 

"I wrote this book not to convert those who defend the status quo, I wrote this book to rally those who are ready to challenge that status quo and replace it with a reality that is vastly more conducive to our deep-seated human need to feel safe, to contribute to something bigger than ourselves and to provide ourselves and our families. A reality that works for out best interests as individuals, as companies, as communities and as a species.

If we believe in a world in which we can feel inspired, safe and fulfilled every single day and if we believe that leaders are the ones who can deliver on that vision, then it is our collective responsibility to find, guide and support those who are committed to leading in a way that will more likely bring that vision to life. And one of the steps we need to take is to learn what it means to lead in the Infinite Game."

Page xiv

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Disain sampul buku ini sederhana sekali dengan fokus yang terarah pada judul buku plus nama penulisnya. 'Untung'nya nama Simon Sinek sudah ternama dan memang ditunggu banyak orang, sehingga dengan segera kesederhanaan disain sampul buku ini malah menjadi poin lebih karena menonjolkan judul dan penulis. Simon Sinek adalah penulis dari buku-buku bestseller Start With Why, Leaders Eat Last, Together Is Better, dan Find Your Why.

Apakah saya suka disain sampul buku ini? Hmmm... sekali lagi menjaga sampul buku berwarna putih itu sulit. Harus ekstra hati-hati.

  

Opini - Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Apakah kita termasuk orang-orang yang terus bertumbuh, pembelajar seumur hidup, dan memainkan 'the infinite game' dalam kehidupan kita? Pertanyaan ini adalah pertanyaan mendasar dalam kehidupan setiap orang, termasuk saya, yang juga menjadi pertanyaan saat mula membaca buku ini. Apalagi ketika menyimak tulisan personal Simon Sinek yang ada di halaman paling depan buku. Sudah waktunya kita merenung bersama.

A signpost stands at a fork in the road.

Pointing in one direction, the sign says “Victory.”

Pointing in another direction, the sign says “Fulfillment.”

We must pick a direction.

Which one will we choose?

 

If we choose the path to Victory,

The goal is to win!

We will experience the thrill of competition

As we rush toward the finish line.

Crowds gather to cheer for us!

And then it’s over.

And everyone goes home.

(Hopefully we can do it again)

 

If we choose the path to Fulfillment,

The journey will be long.

There will be times in which we must watch our step

There will be times we can stop to enjoy the view

We keep going.

We keep going.

Crowds gather to join us on the journey.

 

And when our lives are over,

Those who joined us on the path to Fulfillment

Will keep going without us and

Inspire others to join them too.

 

 

Buku ini dibuka dengan kisah perang Vietnam dan Amerika pada Januari 1968. Saat itu perang sedang 'berkecamuk'. Jumlah korban jiwa dari pihak Vietnam jauh lebih besar dari yang diderita Amerika tapi pada akhirnya Amerika memutuskan untuk berhenti. Dari cerita sejarah ini kita dibawa oleh Simon Sinek ke balik layar peristiwa tersebut. Bagi Vietnam inilah infinite game mereka, tapi buat Amerika belum tentu.

Here’s the amazing thing: the United States repelled every single attack. Every single one. And American troops didn't just repel the onslaughts, they decimated the attacking forces.  After most of the major fighting had come to an end, about a week after the initial attack, America had lost fewer than a thousand troops. North Vietnam, in stark contrast, lost over 35,000 troops! In the city of Hue, where fighting continued for almost a month, America lost 150 Marines compared to an estimated 5,000 troops the North Vietnamese lost!

Page 2

 

Kompetisi sudah bukan lagi hal utama dalam pola pikir orang-orang masa kini, yakni masa disrupsi. Mereka yang ternama di dunia saat ini terbukti sebagai orang-orang yang tidak meletakkan kompetisi dalam urusan utama bisnis dan kehidupan mereka, tapi inspirasilah yang menjadi api yang membakar semangat mereka yang tak pernah berhenti. Sebut saja Apple yang dengan tenangnya menghadapi terobosan terbaru The Zune - Microsoft di bawah pimpinan Steve Ballmer, yang digadang-gadang jauh lebih bagus dari produk yang Apple luncurkan saat itu. Ini disebabkan karena para executive Apple adalah orang-orang dengan pola pikir infinite game, sehingga fokus mereka tidak hanya soal kompetisi saja. Terbukti sekian tahun kemudian produk iPhone mereka luncurkan dan diterima oleh pasar sekaligus menenggelamkan Zune ke titik yang paling dasar. Harus diakui iPhone mengubah dan menginspirasi teknologi smartphone di dunia.

Di buku ini bukan cuma Apple yang diangkat ceritanya oleh Simon Sinek sebagai studi kasus tapi juga beberapa tokoh ternama dan persahaan kelas dunia. Melalui cerita-cerita tersebut kita bisa mengambil intisari - hikmah tiap kesuksesan dan kejatuhan para tokoh dan perusahaan, bahwa mereka yang berpola pikir infinite - lah yang pada akhirnya terus bertahan dan memiliki pengaruh besar dalam perkembangan dunia.  Misalnya, cerita tentang Steve Ballmer, CEO Microsoft yang menurut Simon Sinek termasuk leader yang berpikiran 'finite' dan Bill Gates yang kebalikannya adalah tipe pemimpin yang berpikiran tak terbatas (infinite).

After my talk at the Apple event, I shared a taxi back to the hotel with a senior Apple executive, employee number 54 to be exact, meaning he’d been at the company since the early days and was completely immersed in Apple’s culture and belief set. Sitting there with him, a captive audience, I couldnt help myself. I had to stir the pot a little. So I turned to him and said, “You know... I spoke at Microsoft and they gave me their new Zune, and I have to tell you, it is SO MUCH BETTER than you iPod touch.” The executive looked at me, smiled, and replied, “I have no doubt.” And that was it. The conversation was over.

The Apple exec was unfazed by the fact that Microsoft had a better product. Perhaps he was just displaying the arrogance of a dominant market leader. Perhaps he was putting on an act (a very good one). Or perhaps there was something else at play. Although I didnt know it at the time, his response was consistent with that of a leader with an infinite mindset.

Page 8

 

In 2013, at his final press conference as CEO of Microsoft, Steve Ballmer summed up his career in a most finite-minded way. He defined success based on the metrics he selected within the time frame of  his own tenure in the job. “In the last five years, probably Apple has made more money than we have,” he said. “But in the last thirteen years, I bet we ve made more money than almost anybody in the planet. And that, frankly, is a great source of pride to me.” It seems Ballmer was trying to say that under the thirteen years of his leadership, his company had “won.” Imagine how different the press conference could have been if, instead of looking back at a balance sheet, Ballmer shared all the things Microsoft had done and could still do to advance Bill Gate’s original infinite vision: “To empower every person and every organization on the planet to achieve more.”

Page 19

  

Microsoft’s experience is not unique. Business history is littered with similar cautionary tales. General Motor’s obsession with market share over profit, for example, would have put them out of business if it weren't for a government bail out. Sears, Circuit City, Lehman Brothers, Eastern Airlines and Blockbuster Video were not so lucky. They are just a few ...

Page 21

 

Mengapa sebuah perusahaan besar yang sudah tepat berada di jalan infinite game kadang salah arah di kemudian hari saat foundernya meninggal dunia (?). Jawabannya ada di buku ini.

A Just Cause that is preserved on paper can be handed down from generation to generation; a founder’s instinct cannot. Like the Declaration of Independence, a written statement of Cause dramatically increases the chances that the Cause will survive to guide and inspire future generations beyond the founders and those who knew the founders. It s the difference between a verbal contract and a written contract. Both are legal and enforceable, but when a contract is written it prevents any confusion or disagreement about the terms of the deal... especially for people who weren't there when the deal was made.

...

Page 49

 

 

Ada riset ilmiah yang dimunculkan Simon Sinek sebagai bagian latar ilmiah yang menguatkan teorinya, misalnya penelitian McKinsey yang menyebutkan bahwa masa hidup rata-rata perusahaan besar telah menurun sejak 1950 dari 70 tahun menjadi delapan belas tahun saja. Menarik ya untuk disimak ^^

According to a study by McKinsey, the average life span of an S&P 500 company has dropped over forty years since the 1950s, from an average of sixty-one years to less than eighteen years today. And according to Professor Richard Foster of Yale University, the rate of change “is at a faster pace than ever.” I accept there a multiple factors that contribute to these  numbers, but we must consider that too many leaders today are building companies that are simply not made to last. ..

Page 22

“Part of safety,” said Professor Robin Ely, coauthor of the Harvard Business Review article about the URSA, “is being able to admit mistakes and being open to learning – to say, “I need help, I can t lift this thing by myself, I m not sure how to read this meter.” What the URSA crew discovered is that the more psychologically safe they felt around each other, ...

Page 107

 

Selain pemaparan yang bentuknya narasi - story, yang artinya kita harus pandai-pandai mengambil hikmah sendiri dari penjabarannya, ada beberapa poin penting yang dituliskan Simon Sinek berkaitan dengan how to be infinite leader, di antaranya 'three factors we must always consider when deciding how want to lead', 'five essential practices for a leader', 'A Just Cause must be', dan 'how to find the courage to change our mindset'. Ini ditulis dalam bentuk poin-poin, yang mana sangat saya sukai karena terasa lebih mudah terskema.

Five essential practices yang harus diikuti oleh setiap pemimpin yang ingin mengadopsi pola pikir infinite: (1) advance a just cause, (2) build trusting teams (3) study your worthy rivals (4) prepare for existential flexibility (5) demonstrate the courage to lead. Kelima poin ini dibahas oleh Simon Sinek dengan cukup detail, disertai contoh cerita, data, dan bahasa yang mudah dicerna. Personally, saya berharap ada ringkasan singkat di tiap akhir bab yang dibuat poin per poin mengingat model pemaparan buku yang padat dengan kalimat.

Any leader who wants to adopt an infinite mindset must follow five essential practices:

  • Advance a Just Cause
  • Build Trusting Team
  • ...
  • ...

Page 24

 

A Just Cause must be:

  • For something – affirmative and optimistic
  • Inclusive – open to all those who would like to contribute
  • Service oriented – for the primary benefit of others
  • ...
  • ...

Page 37

 

Ada beberapa gambar pelengkap di buku ini tapi jumlahnya sedikit saja.

Picture: gambar pelengkap di buku

 

Cerita-cerita inspiratif tak hanya melulu tentang tokoh bisnis dan pemimpin perusahaan, tapi ada juga yang berkiprah di bidang yang berbeda. Seperti Nikolai Vavilov yang hidup di jaman kekejaman Nazi, yang seumur hidupnya mendedikasikan diri untuk mengumpulkan koleksi benih tanaman yang berharga di seluruh dunia. Nikolai Vavilov adalah seorang botanis muda kala itu. Tujuan koleksi benihnya di luar pemikiran umumnya, yakni memiliki cadangan benih tanaman pangan dan melindungi kelestariannya dari bencana dan tangan-tangan manusia yang tidak bertanggungjawab demi kelangsungan hidup manusia. Inilah yang dimaksud dengan infinite game.

This Just Cause, “a mission for all humanity,” as Vavillov called it, gave their work and their lives purpose and meaning beyond any one individual or the very real struggles they faced in the moment of the siege. To have fed themselves or event to have fed the masses of starving residents in the city would have been a finite solution to a finite problem. Though they may have helped prolong the lives of some who would likely still have died or even saved the lives of others, they were looking beyond the immediate horizon. They weren't imagining the relatively few lives they could save in Leningard; they imagined a future state in which their work might save entire civilizations. Their work was not devoted to getting to the end of the siege; they were playing to keep the human race going for as long as possible.

Page 32

  

Ada juga bagian dalam buku yang membahas topik ekonomi. Misalnya bapak ekonomi Adam Smith dan Milton Friendman (pemenang Noble Prize - winning economist).  

Capital Before Friedman

For a more infinite-minded alternative to Friedman’s definition of the responsibility of business, we can go back to Adam Smith. The eighteenth-century Scottish philosopher and economist is widely accepted as the father of economics and modern capitalism. “Consumption,” he wrote in The Wealth of Nations, “is the sole end and purpose of all production and the interest of the producer ought to be attended to, only so far it may be necessary for promoting that of the consumer.” He went on to explain, ...

Page 72

 

Untuk apa sih kita hidup? Membaca The Infinite Game adalah salah satu cara untuk menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Meski genre buku ini bukan di filosofi, tapi bagi saya apa yang dibahas di dalam buku banyak membahas pola pikir kehidupan, ada muatan perenungan yang panjang akan makna dan peran diri kita sebagai manusia bersejajar dengan alam semesta, terutama manusia masa kini di jaman disrupsi dan kemajuan teknologi. Selain itu sudah saatnya pemimpin dan perusahaan itu mengedepankan kesejahteraan para pekerjanya dan menguatkan timnya.

The art of good leadership is the ability to look beyond the growth plan and the willingness to act prudently when something is not ready or not right, even if it means slowing things down.

Page 80

If our goal is to build companies that can keep playing for lifetimes to come, then we must stop automatically thinking of shareholders as owners, and executives must stop thinking that they work solely for them. A healthier way for all shareholders to view themselves is as contributors, be they near-term or long-term focused.

Page 82

The reason a service orientation is so important in the Infinite Game is because it builds a loyal base of empoyees and customers (and investors) who will stick with the organization through thick and thin. It is this strong base of loyalty that gives any organization a kind of strength and longevity that money alone cannot provide. The most loyal empoyees ...

Page 44

 

 

"Do good making money".

Saat ini pemikiran bahwa "Make money to do good," sudah tidak relevan lagi. Menurut Simon Sinex "Do good making money"-lah yang seharusnya menjadi prinsip leadership bahkan company culture. Agak menghenyakkan juga sebenernya ketika mindset bisnis yang saya pahami berkutat erat pada urusan profit ternyata seharusnya tidak seperti itu juga. Namun inilah insight dan wisdom yang bisa kita dapatkan dari buku The Infinite Game.

Some may say my view – that the purpose of a company is not just to make money but to pursue a Just Cause – is naive and anticapitalist. First, I would urge us all to beware of the messenger. My assumption is that those who most fiercely defend Friedman’s views on business, and many of the current and accepted business practices he inspired, are the ones who benefit most from them. But business was never just about making money. As Henry Ford said, “A business that makes nothing but money is a poor kind of business.” ...

Page 75

 

 

The Infinite Game sejauh ini banyak mengambil contoh penerapan di bidang bisnis. Tapi intisarinya menurut saya sangat bisa digunakan dalam tiap sendi kehidupan, sebab kita semua pada hakikatnya adalah pemimpin, seminimal-minimalnya pemimpin bagi diri kita sendiri.

The finite-minded leader tends to show a bias for the score. As a result, they often opt for choices tat demonstrate results in a short time frame, even if doing so, “regretabbly,” comes at a cost to the people. These are leaders who, during hard times, for instance, will turn first to layoffs and extreme cost cutting measures rather than explore alternatives that my not demonstrate the same immediate results, even if they have longer-term benefits. If a leader  has a bias for resources, it is much easier for them to calculate the immediate savings of reducing 10 percent of their workforce next week than it is to choose an option in which the savings take longer to hit the balance sheet.

Page 95

 

 

Menarik pula untuk menyimak bab yang membahas Rival. Menurut Simon Sinek seorang pemimpin atau perusahaan yang berpola pikir infinite harus memiliki "worthy rival" dan fleksibilitas. Rival bukan kompetitor, rival adalah mereka yang bisa membuat kita berkembang dan menjadi inspirasi sekaligus semangat bagi kita untuk maju.

A Worthy Rival is another player in the game worthy of comparison. Worthy Rivals may be players in our industry or outside our industry. They may be our sworn enemies, our sometimes collaborators or colleagues. It doesnt even matter whether they are playing with a finite of an infinite mindset, so long as we are playing with an infitite mindset. ...

Page 161

 

Menjadi pemimpin yang berpikiran infinite membutuhkan keberanian, dan di bab terakhir dibahas cara untuk menemukan keberanian itu.

So how are we to find the courage to change our mindset?

  1. We can wait for a life-altering experience that shakes us to our core and challenges the way we see the world
  2. Or we cn find a Just Cause that inspires us; surround ourselves with others with whom we share ..
  3. ..
  4. ...

Page 200

 

 

So far, buku ini sangat menarik buat saya yang selalu menyukai bahasan mindset. Untuk mereka yang mencari panduan praktis, jelas ini bukan bukunya. Dan untuk mereka yang sering membaca buku management dan leadership sepintas isi buku ini tak banyak berbeda dengan buku lainnya. Tapi untuk buku Simon Sinek saya selalu menyukai gaya penyampaiannya yang terus terang, tajam, dan jelas dalam menyampaikan pesan positif bahwa hidup itu tidak selalu soal uang, bahkan pada akhirnya memang bukan.

We only get one choice in the Infinite Game of life. What will you choose? (p.224)

 

Siapa Simon Sinek

Simon Oliver Sinek (lahir 9 Oktober 1973) adalah seorang penulis Inggris-Amerika dan pembicara motivasi. Dia adalah penulis lima buku, termasuk Start With Why (2009) dan The Infinite Game (2019). Sinek lahir di Wimbledon, London, Inggris dan sebagai seorang anak tinggal di Johannesburg, Afrika Selatan, London, dan Hong Kong sebelum menetap di Amerika Serikat. Ia lulus dari Northern Valley Regional High School di Demarest pada tahun 1991. Sinek belajar hukum di London's City Univeristy, tetapi meninggalkan sekolah hukum untuk beriklan. Dia menerima gelar BA dalam antropologi budaya dari Brandeis University.

Sinek memulai karirnya di biro iklan New York Euro RSCG dan Ogilvy & Mather. Dia kemudian meluncurkan bisnisnya sendiri, Mitra Sinek. Sinek telah menulis lima buku. Start With Why, buku pertamanya, diterbitkan Oktober 2009. Buku keduanya, berjudul Leaders Eat Last, muncul di daftar buku terlaris dari Wall Street Journal dan The New York Times. Sebagai pembicara motivasi, Sinek telah memberikan ceramah pada KTT Pemimpin Global Compact PBB, dan pada konferensi TEDx. 

Pada bulan Juni 2018, The Young Turks melaporkan kontrak tanpa penawaran $ 98.000 dari Immigration and Customs Enforcement (ICE) AS untuk "pelatihan kepemimpinan Simon Sinek" pada tahun 2018.vSinek juga seorang instruktur komunikasi strategis di Universitas Columbia, dan merupakan anggota staf tambahan dari RAND Corporation. Sinek memulai Optimism Press, yang merupakan cetakan dari Penguin Random House.

 

 

Buku-buku Simon Sinek

  • (2009). Start With Why: How Great Leaders Inspire Everyone to Take Action.
  • (2014). Leaders Eat Last: Why Some Teams Pull Together and Others Don't.
  • (2016). Together Is Better: A Little Book of Inspiration.
  • (2017). Find Your Why: A Practical Guide for Discovering Purpose for You and Your Team.
  • (2019). The Infinite Game.

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca yang mencari buku leadership dan self improvement yang membahas mindset pemimpin dan perusahaan sukses masa kini. Pemaparannya bergaya story telling, dan mengangkat banyak kisah tokoh pemimpin dan perusahaan kelas dunia baik kesuksesan maupun kegagalannya. Well written and smooth read. Tidak ada gambar, tidak ada summary per poin. Ide yang disampaikan sebenarnya tidak baru, tapi ketika dipaparkan dari sisi dunia bisnis dan kepemimpinan membuat ide ini menjadi penting bahkan krusial.

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

 

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk Order Dipidiff Snack Book

atau Informasi Reseller dan Kerjasama

 

 

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku House of Earth and Blood (Cr…

31-07-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  A #1 New York Times bestseller!   Judul : House of Earth and Blood (Crecent City #1) Penulis : Sarah J. Maas Jenis Buku : Adult Fantasy Penerbit : Bloomsbury Publishing (UK)  Tahun Terbit : Maret...

Read more

Review Buku Make Noise - Eric Nuzum

21-07-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Make Noise A Creator’s Guide to Podcasting And Great Audio Storytelling Penulis : Eric Nuzum Jenis Buku : Self Improvement Penerbit : Workman Publishing Tahun Terbit : Desember 2019 Jumlah Halaman : 264 halaman Dimensi Buku : ...

Read more

Review Buku All the Rage - Cara Hunter

14-07-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : All The Rage Penulis : Cara Hunter Jenis Buku : Detective Crime Penerbit : Penguin Random House UK Tahun Terbit : Desember 2019 Jumlah Halaman :  464 halaman Dimensi Buku :  12.90 x 19.70 x 3.50...

Read more

Review Buku Minimal - Madeleine Olivia

07-07-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

Judul : Minimal How to Simplify Your Life and Live Sustainably Penulis : Madeleine Olivia Jenis Buku : Self Improvement Penerbit : Penguin Random House UK Tahun Terbit : Januari 2020 Jumlah Halaman :  320 halaman Dimensi Buku : ...

Read more

TERBARU - Buku Indonesia & Terjemahan

Review Buku The Fifth To Die - J.D. Bark…

21-07-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Fifth To Die Penulis : J.D. Barker Editor : Ani Nuraini Syahara Jenis Buku : Psychological Thriller Penerbit : Bhuana Sastra Tahun Terbit : 2019 Jumlah Halaman :  740 halaman Dimensi Buku :  13.5 x 20...

Read more

Review Buku Sentra - Rhenald Kasali

18-01-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Sentra – Membangun Kecerdasan dan Kemampuan Anak Sejak Usia Dini, Demi Masa Depan yang Cemerlang Series on Education Penulis : Prof. Rhenal Kasali Jenis Buku : Edukasi Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku #MO - Rhenald Kasali

18-09-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : #MO Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham Penulis : Rhenald Kasali Jenis Buku : Ekonomi - Bisnis Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman :  446 halaman Dimensi Buku :  15...

Read more

Review Buku Wild Hearts (Ancaman Masa La…

28-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Wild Hearts (Ancaman Masa Lalu) * Harlequin Penulis : Sharon Sala Disain Sampul : Marcel A.W. Jenis Buku : Fiksi Romance Suspense - Misteri Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah Halaman...

Read more

TERBARU - LIFE STORY

Decluttering Finances

24-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Inginkah teman-teman memiliki kemampuan mengelola keuangan dengan bijak? Pasti jawabannya ingin. Saya pikir tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak ingin memiliki skill memanajemen keuangan, sebab sebesar apapun...

Read more

Work Coffee Cafe (a Review)

17-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Familiar kah teman-teman dengan nama cafe ini? Saya sih tidak. Tapi itu kemungkinan karena kami domisili di Bandung Timur dan jarang main ke daerah ini. Padahal tempatnya asyik bahkan klasik...

Read more

Marka Cafe + Kitchen (a Review)

16-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Untuk mereka yang biasa ngafe atau duduk-duduk nongkrong sambil menikmati kopi pasti sudah kenal kafe yang satu ini. Saya juga tahu Marka cafe karena diajak partner saya ngobrol-ngobrol tukar pikiran...

Read more