Review Buku The Land Trap - Mike Bird + Insight

Financial Times Business Book of the Year 2025 Longlist
Judul : The Land Trap: A New History of The World s Oldest Asset
Penulis : Mike Bird
Jenis Buku : Economic History, Politics & Government,
Economics
Penerbit : Hodder Press, Penguin Random House
Tahun Terbit : 2025
Jumlah Halaman : 326 halaman
Dimensi Buku : 23.2 x 15.3 x 2.70 cm
Harga : Rp.418.000 *harga sewaktu-waktu dapat berubah
ISBN : 9781399733687
Paperback
Edisi Bahasa Inggris
Available at Periplus Bookstore
Sekelumit Tentang Isi
Bagaimana Aset Tertua di Dunia Secara Senyap Membentuk Ekonomi Modern
Dalam The Land Trap, Mike Bird—editor bidang Wall Street di The Economist—mengungkap pengaruh luar biasa yang masih dimiliki aset kuno ini terhadap tatanan dunia kontemporer. Mulai dari perebutan lahan spekulatif di masa kolonial Amerika hingga krisis properti yang melanda Tiongkok saat ini, Bird memaparkan bagaimana kekayaan besar dibangun sekaligus runtuh di atas fondasi tanah.
Melalui narasi sejarah selama tiga abad, ia mengurai peran tak terlihat namun sentral tanah dalam sistem perbankan global, sebuah kekuatan yang mendorong melambungnya harga hunian hingga memperuncing ketegangan geopolitik. Ketika negara-negara berjuang mengatasi ketimpangan dan ketersediaan lahan semakin menyusut, The Land Trap hadir dengan perspektif segar untuk memahami kekuatan tersembunyi di balik tantangan paling mendesak masa kini.
Buku ini ditujukan bagi siapa pun yang ingin melihat lebih dalam dari sekadar pasar dan uang menuju permainan sesungguhnya yang berlangsung di atas fondasi setua peradaban itu sendiri.
Yuk cek dulu daftar isinya.
Contents
- The Lie of The Land
- The Making of Nations
- Land Wars
- Shaky Ground
- To The Tiller
- Collateral and Damage
- The Land Standard
- Learning The Hard Way
- The Biggest Bubble in History
- Singapore Fever
- Falling Stars and Superstars
Epilogue
Author
Mike Bird adalah editor Wall Street untuk The Economist. Bird memimpin liputan berbagai topik di seluruh industri keuangan Amerika dan berkontribusi pada liputan keuangan secara global. Ia juga menjadi salah satu pembawa acara podcast keuangan Money Talks. Sebelumnya, Mike Bird adalah kolumnis keuangan dan reporter pasar di The Wall Street Journal. Bird mempelajari sejarah dan politik di Universitas Exeter di Inggris. Saat ini ia tinggal di New York City.
Review
Saya suka buku ini karena ditulis dengan piawai, ringkas, mudah dicerna, narasi yang terampil tanpa bertele-tele, cakupan luas namun tetap mempertahankan ritme yang stabil, menyenangkan saat disimak, mudah diakses meskipun topiknya kompleks. Tidak kering secara akademis, konkret, disertai ilustrasi cerita yang menarik. Kontennya memicu pemikiran dan membangkitkan perspektif baru. Selain itu terdapat kedalaman analitis yang orisinal dan memiliki lensa sejarah multidimensional. Topiknya mengandung relevansi yang mendesak terhadap isu-isu kontemporer, seperti krisis perumahan, ketidaksetaraan, dan kekuatan geopolitik.
Salah satu kutipan yang paling berkesan buat saya adalah "beyond every other common source of wealth, land is symbolic and stirs powerful emotions". Kutipan ini menyentuh sisi psikologis manusia. Bagi banyak orang, memiliki rumah atau tanah bukan sekadar investasi finansial, melainkan simbol kedewasaan, keamanan, dan status sosial sebagai anggota masyarakat yang mandiri.
Menurut saya, buku ini berhasil membawa pembaca pada kesadaran akan pentingnya pengelolaan tanah karena memiliki dampak yang sangat besar dan luas. Di akhir Mike Bird juga memberikan saran berupa aksi yang bisa ditindaklanjuti.

Picture: Buku The Land Trap
Rekomendasi
Saya rekomendasikan buku ini untuk siapa pun yang ingin memahami sejarah ekonomi dengan cara yang mudah diakses, terutama mengenai mengapa harga rumah terus melonjak dan bagaimana tanah menjadi aset tunggal terbesar di dunia. Selain itu buku ini juga tepat untuk kalangan praktisi dan investor. Sangat relevan bagi mereka yang bergerak di bidang real estat dan keuangan untuk memahami risiko "jebakan tanah", di mana ketergantungan pada agunan lahan dapat memicu siklus krisis keuangan. Yang pasti bacaan ini akan lebih memiliki dampak bagi pembuat kebijakan. Buku ini memberikan studi kasus yang sangat kontras antara model Singapura yang sukses menyediakan perumahan terjangkau dengan memisahkan kepemilikan lahan dari bangunan, dibandingkan dengan krisis properti di Tiongkok dan Hong Kong. Insight-nya akan menarik bagi orang tua dan generasi muda mengingat buku ini membahas "efek donat" dan krisis keterjangkauan hunian, materi ini penting untuk memahami dinamika geografi ekonomi yang menentukan kemakmuran keluarga di masa depan

Picture: Acara Buku BREED Insight Eps. The Land Trap
More Review + Insight
Tujuan dan Audiens
The Land Trap memiliki tujuan utama untuk menginformasikan dan mengedukasi pembaca mengenai peran krusial tanah dalam sistem keuangan global yang sering kali terabaikan. Mike Bird berusaha menunjukkan bagaimana tanah, sebagai aset tertua, menjadi "jantung berdetak" dari sistem kredit modern namun sekaligus menjadi ancaman bagi stabilitas ekonomi.
Buku ini bisa dibaca oleh pembaca umum yang mencari pengenalan yang mudah diakses tentang sejarah ekonomi, serta para praktisi atau pengambil kebijakan yang mencari wawasan tentang krisis perumahan dan ketimpangan. Misalnya, penjelasan konsep kompleks seperti "proporsi nilai tanah terhadap total nilai properti" bisa dipahami masyarakat awam.
Tema Utama dan Poin Penting
Tema sentral The Land Trap adalah "Jebakan Tanah" (The Land Trap), di mana ketergantungan finansial dunia pada tanah menciptakan siklus kemakmuran dan kehancuran.
Poin mendalam dalam buku ini terdapat pada ide sentralnya, yakni tanah yang memiliki tiga ciri unik yang melanggar hukum kapitalisme biasa: pasokannya tetap (tidak bisa ditambah), tidak bisa dipindahkan, dan tidak mengalami depresiasi (tidak bisa rusak/lapuk). Hal ini menciptakan sistem zero-sum di mana keuntungan pemilik tanah sering kali menjadi kerugian bagi pihak lain, memicu ketimpangan yang mendalam.
Kekuatan dan Kelemahan
Menurut saya konten buku ini kuat dalam hal penelitian dan bukti. Mike Bird menggabungkan data historis kuno dengan analisis ekonomi modern yang kredibel (disclaimer: ini bukan bidang yang saya pahami secara detail).
Contoh: Penggunaan kisah Munnabittu dari Babilonia kuno (3.200 tahun lalu) sebagai pembuka memberikan landasan historis yang kuat bahwa tanah selalu menjadi simbol kekuasaan.
Materi juga disusun secara logis, mulai dari sejarah kepemilikan tanah, transisi menuju sistem kredit berbasis lahan, hingga studi kasus spesifik seperti Singapura dan Tiongkok. Gaya penyampaiannya juga menarik karena luwes dan mengalir.
Namun, bagi pembaca yang tidak memiliki minat pada sejarah ekonomi, detail mengenai sistem pajak lahan abad ke-19 mungkin terasa terlalu mendalam atau teknis.
Suara dan Gaya Kepenulisan
Mike Bird menggunakan teknik bercerita atau anekdot, seperti kisah "Traitorous Eight" di Silicon Valley atau perbandingan antara Detroit yang runtuh dan San Francisco yang meroket, membuat topik ekonomi yang kering menjadi hidup. Konsep abstrak seperti "elastisitas pasokan" dijelaskan melalui contoh nyata kegagalan pembangunan perumahan di kota-kota besar sehingga pembaca bisa dengan mudah memahaminya.
Konten dan Nilai Praktis
Buku ini memberikan wawasan yang dapat ditindaklanjuti (aplikasi praktis) bagi pembaca untuk memahami dinamika pasar properti saat ini. Ada aplikasi praktis yang membantu pembaca memahami mengapa harga rumah di “kota superstar” tetap tinggi meskipun ada kemajuan teknologi komunikasi. Lalu, ada perbandingan yang relevan, misalnya “efek donat” yang menjelaskan migrasi penduduk ke pinggiran kota selama pandemi.
Pertimbangan Konteks yang Lebih Luas
Buku ini menempatkan masalah tanah dalam konteks sosial yang mendesak saat ini, terutama mengenai ketimpangan kekayaan.
Ada perbandingan antar pemikir besar seperti Henry George dan Thomas Piketty, namun Mike Bird memberikan sudut pandang unik bahwa sebagian besar ketimpangan modal sebenarnya berasal dari nilai tanah, bukan sekadar akumulasi modal perusahaan.
Buku ini juga menyinggung budaya generasi muda saat ini yang relevan yang mencerminkan keprihatinan masyarakat masa kini tentang sulitnya generasi muda memiliki hunian (affordability crisis).
Insight
Delapan puluh tahun telah berlalu sejak Wolf Ladejinsky tiba di Tokyo untuk memulai kampanye globalnya demi reforma agraria. Hampir 150 tahun sejak Henry George mencapai puncak pengaruhnya, 400 tahun sejak John Smith mendarat di pesisir Amerika, dan 3.500 tahun sejak Munnabittu memperjuangkan kepemilikan tanahnya di Babilonia, namun benang merah yang menyatukan kisah-kisah ini tetap sama: tanah sebagai fondasi kekuasaan ekonomi dan sosial. Meski dunia kini tampak semakin digital dan tak berwujud, justru dalam sistem keuangan global modern, tanah menjadi lebih dominan dan lebih berbahaya dari sebelumnya.
Negara-negara di seluruh dunia kini terjebak dalam dilema tanah. Ketika aset ini menjadi tulang punggung kekayaan nasional dan sistem perbankan, fluktuasi harganya membawa risiko sistemik yang besar. Kenaikan harga tanah menciptakan ketimpangan struktural: mereka yang “beruntung” memiliki properti di kawasan yang tiba-tiba menjadi strategis menikmati kekayaan luar biasa, sementara yang tinggal di daerah tertinggal atau membeli di lokasi yang salah terpinggirkan secara ekonomi. Lonjakan nilai tanah juga mendorong rumah tangga dan perusahaan untuk meminjam lebih banyak, karena agunan mereka meningkat nilainya. Hal ini memperluas kredit, namun sekaligus menanam benih krisis keuangan, baik di tingkat nasional maupun global.
Ironisnya, ketika harga tanah turun, solusi yang tampak seperti “penyamarataan kekayaan” justru bisa lebih merusak. Sistem keuangan yang telah lama bergantung pada kenaikan harga tanah yang terus-menerus akan goyah. Penurunan nilai agunan memicu macetnya pinjaman, pengetatan likuiditas, dan resesi yang bisa berlangsung bertahun-tahun, seperti yang dialami Jepang sejak awal 1990-an. Dalam konteks ini, mengandalkan apresiasi tanah sebagai mesin pertumbuhan ekonomi jangka panjang adalah taruhan berisiko tinggi.
"The land trap" adalah fenomena di mana suatu negara terjebak dalam dilema ekonomi berbahaya akibat ketergantungan yang berlebihan pada kekayaan tanah. Hal ini berakar pada tiga ciri unik tanah: jumlahnya tetap, tidak dapat dipindahkan, dan tidak mengalami penyusutan nilai (depresiasi). Negara dianggap terjebak karena jika harga tanah terus melonjak, akan tercipta ketimpangan sosial yang ekstrem dan spekulasi yang merusak; namun, jika harga tanah turun, sistem keuangan yang sangat mengandalkan tanah sebagai agunan berisiko kolaps dan dapat melumpuhkan seluruh perekonomian selama puluhan tahun.
Kisah-kisah sejarah yang tampak terpisah; kolonisasi Amerika, kebangkitan Jepang pasca-Perang Dunia II, pembangunan Hong Kong dan Singapura oleh birokrat Inggris, atau transformasi ekonomi Tiongkok, semuanya memiliki satu kesamaan: peran sentral tanah sebagai aset strategis. Dalam setiap periode transformasi besar, tanah tampak memberikan kemakmuran luas. Air pasang seolah mengangkat semua perahu: penemuan benua baru, revolusi transportasi, inovasi pertanian, atau transisi dari komunisme ke kapitalisme menciptakan ledakan optimisme. Namun, di balik kemakmuran itu, utang menumpuk dan ketegangan sosial-politik mulai mengendap, hingga akhirnya meledak dalam bentuk krisis: penutupan wilayah perbatasan Amerika, gelembung aset Jepang, krisis keuangan global 2008, atau perlambatan ekonomi Tiongkok saat ini.
Pada dasarnya, tanah adalah aset zero-sum. Pasokannya tetap, sehingga kenaikan nilainya tidak menciptakan kekayaan baru, melainkan hanya mendistribusikan ulang kekayaan yang sudah ada. Ketika geografi ekonomi menjadi kaku karena kebijakan zonasi ketat, kurangnya infrastruktur, atau resistensi politik terhadap pembangunan, kota-kota paling produktif tidak bisa berkembang. Akibatnya, pertumbuhan melambat, dan masalah struktural yang selama ini tersembunyi menjadi nyata.
Di Amerika Serikat, isu ini kini memasuki pusat wacana politik. Buku Abundance karya Ezra Klein dan Derek Thompson berargumen bahwa kota-kota liberal justru menghambat kemajuan melalui regulasi yang membatasi pembangunan perumahan dan infrastruktur. Akibatnya, negara bagian “biru” (cenderung Demokrat) tumbuh lebih lambat daripada negara bagian “merah” (cenderung Republik), yang berpotensi mengurangi pengaruh politik mereka di Electoral College dan Kongres. Ini menunjukkan bahwa kebijakan tanah bukan hanya soal ekonomi, tapi juga kekuasaan politik jangka panjang.
Pandemi Covid-19 sempat mengguncang tatanan ini. Revolusi kerja dari rumah (WFH) mengubah wajah kota-kota global. Di AS, proporsi hari kerja dari rumah melonjak dari 5% menjadi lebih dari 60% pada 2020, dan meski telah normalisasi, angka tersebut tetap stabil di 25–30%. Akibatnya, 20% ruang kantor di AS masih kosong pada 2024 (rekor tertinggi sepanjang sejarah). Pusat kota mengalami penurunan sewa komersial dan tingkat hunian yang rendah, menciptakan “krisis perlahan” bagi bank dan investor properti, mirip dengan nasib bank-bank Jepang pasca-1990.
Namun, daya tarik kota secara keseluruhan tetap kuat. Terjadi fenomena yang disebut “efek donat”: penduduk meninggalkan pusat kota, tetapi pindah ke pinggiran luar yang masih dalam jangkauan komuter. Di 12 kawasan metropolitan terbesar AS, nilai rumah di pusat kota turun sejak 2020, sementara di pinggiran luar naik lebih dari 40%. Ini menunjukkan bahwa permintaan akan kedekatan fisik belum hilang, pekerja paling produktif tetap ingin berinteraksi langsung, meski hanya beberapa hari seminggu. Teknologi komunikasi canggih belum sepenuhnya menggantikan manfaat aglomerasi perkotaan.
Perubahan teknologi masa depan (seperti kecerdasan buatan (AI) atau kendaraan otonom) mungkin akan mengganggu tatanan tanah lagi, seperti halnya kereta api atau mobil pribadi di masa lalu. Namun, karena begitu banyak kekayaan dan sistem keuangan bergantung pada status quo, setiap gangguan besar pasti akan menimbulkan biaya sosial dan ekonomi yang signifikan.
Tidak ada solusi ajaib untuk negara-negara yang “mabuk” oleh utang berbasis tanah, ketimpangan kekayaan, dan alokasi sumber daya yang tidak efisien. Namun, beberapa langkah dapat meringankan dampak terburuk. Mike Bird menyatakan bahwa untuk mengatasi jebakan ini, pemerintah dapat meniru model sukses Singapura dengan memisahkan kepemilikan unit bangunan dari lahan melalui sistem hak sewa jangka panjang (seperti skema 99 tahun). Langkah-langkah strategis lainnya mencakup:
- Meningkatkan pasokan perumahan dan infrastruktur di kota-kota termahal. Kelangkaan buatan (melalui regulasi ketat) telah mendorong harga tanah ke level tidak wajar. Perluasan pasokan akan mengurangi proporsi kekayaan yang ditentukan semata oleh lokasi.
- Menerapkan pajak atas nilai tanah, bahkan dalam skala moderat. Berbeda dengan pajak kekayaan lainnya, pajak ini tidak menghukum investasi atau inovasi, karena nilai tanah terutama ditentukan oleh faktor eksternal (aktivitas komunitas, infrastruktur publik). Ini merupakan warisan gagasan Henry George, yang kini relevan kembali.
- Mengurangi insentif pajak dan perlakuan istimewa bagi pemilik tanah. Selama puluhan tahun, kebijakan pemerintah; seperti pembebasan pajak capital gain atas properti utama, telah menjadikan tanah investasi “tanpa risiko” dengan imbal hasil tinggi. Menghapus distorsi ini bisa mengembalikan keseimbangan pasar.
- Mengembangkan pasar modal alternatif. Di negara seperti Tiongkok, tanah menjadi satu-satunya saluran investasi yang andal karena pasar saham dan instrumen keuangan lainnya dibatasi. Membuka akses ke instrumen keuangan yang sehat dapat mengurangi tekanan spekulatif pada pasar tanah.
Namun, semua solusi ini menghadapi hambatan politik yang sangat besar. Di dunia Barat, tidak satu pun kota global berhasil membangun perumahan sesuai permintaan. Warga yang telah memiliki properti (meski hanya rumah sederhana) secara alami menentang kebijakan yang mengancam nilai aset utama mereka. Ini berbeda dengan abad ke-19, ketika kepemilikan rumah rendah dan kekayaan tanah terkonsentrasi di tangan segelintir aristokrat. Saat itu, gerakan “Pajak Tunggal” Henry George menemukan dukungan luas karena menargetkan elite yang jelas. Kini, musuhnya tidak lagi segelintir tuan tanah, melainkan jutaan pemilik rumah biasa yang selama puluhan tahun menikmati keuntungan tak terduga dari kenaikan harga tanah.
Tiongkok mewakili kasus ekstrem. Lima tahun setelah pemerintah menghentikan boom properti, ekonomi negeri itu terjebak dalam stagnasi. Pembatasan industri properti dilakukan tanpa menyediakan alternatif investasi bagi rumah tangga atau sumber pendapatan baru bagi pemerintah daerah yang selama ini sangat bergantung pada penjualan tanah. Akibatnya, meski sistem keuangan negara mencegah krisis mendadak ala 2008, pertumbuhan ekonomi melambat drastis. Lebih buruk lagi, kemerosotan properti terjadi bersamaan dengan penyusutan populasi usia kerja, masalah demografis yang akan memperparah tekanan ekonomi di masa depan.
Di tingkat global, tantangan lain muncul. Sebagian besar negara masih berada di tahap awal dalam memanfaatkan potensi finansial tanah. Rata-rata sistem pendaftaran tanah nasional baru berusia 45 tahun, dan puluhan negara bahkan belum memiliki register resmi kepemilikan tanah. Akibatnya, triliunan dolar aset yang disebut Hernando de Soto sebagai “modal mati”, tidak bisa digunakan sebagai agunan atau diinvestasikan secara produktif. Tanah di negara-negara miskin sering kali tidak tercatat, sehingga tidak bisa berfungsi sebagai mesin inklusi keuangan.
Namun, bahkan negara yang berhasil mengaktifkan potensi tanah pun rentan jatuh ke dalam “jebakan tanah”: ketergantungan pada apresiasi nilai tanah sebagai penggerak ekonomi, yang pada akhirnya menciptakan ketimpangan dan kerentanan finansial. Tidak ada negara yang benar-benar lolos dari jebakan ini setelah roda mulai berputar.
Oleh karena itu, langkah pertama yang paling penting, baik bagi negara kaya maupun miskin, adalah pengakuan eksplisit bahwa jebakan ini nyata. Tanah bukan sekadar aset biasa; ia unik karena pasokannya tetap, tidak bisa dipindahkan, dan tidak mengalami depresiasi. Karena sifat-sifat ini, tanah dapat menciptakan kekayaan besar, tetapi juga menghasilkan distorsi ekonomi dan ketidakadilan sosial jangka panjang jika dibiarkan tanpa pengaturan.
Dalam dunia yang terus berubah, tanah tetap menjadi simbol identitas, stabilitas, dan status. Namun, keterikatan emosional dan finansial terhadapnya tidak boleh mengaburkan fakta bahwa sistem yang terlalu bergantung pada apresiasi tanah rentan runtuh. Masa depan yang adil dan berkelanjutan membutuhkan kebijakan yang bijak: bukan menghancurkan nilai tanah, tetapi mengelolanya agar tidak menjadi sumber ketimpangan, melainkan fondasi inklusi dan pertumbuhan yang seimbang.
*detail insights ada di buku
Bagi saya pribadi, buku ini memberikan wawasan berharga bahwa tanah adalah aset yang luar biasa sekaligus berbahaya. Nilai tanah tidak ditentukan oleh kerja keras pemiliknya, melainkan oleh aktivitas masyarakat di sekitarnya. Dan tulisan Mike Bird membuka wawasan saya bahwa stabilitas keuangan global sangat rentan karena bank lebih banyak menyalurkan kredit berbasis hipotek tanah daripada investasi produktif lainnya.
The Land Trap adalah karya bestseller yang layak dibaca karena berhasil membongkar "inti tersembunyi" dari sengketa politik dan ekonomi dunia melalui lensa yang sangat kuno namun tetap relevan: tanah.
-------------------
-------------------------------------------------------------------------

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.
Diana Fitri, biasa dipanggil Dipi, adalah seorang ibu yang gemar berkebun, dan rutin berolahraga. Gaya hidup sehat dan bervibrasi positif adalah dua hal yang selalu ia upayakan dalam keseharian. Sambil mengasuh putra satu-satunya, ia juga tetap produktif dan berusaha berkembang secara kognitif, sosial, mental dan spiritual.
Lulusan prodi Pemuliaan Tanaman Universitas Padjadjaran, Dipi lalu melanjutkan studi ke magister konsentrasi Pemasaran, namun pekerjaannya justru banyak berada di bidang edukasi, di antaranya guru di Sekolah Tunas Unggul, sekolah International Baccalaureate (IB), dan kepala Kemahasiswaan di Universitas Indonesia Membangun. Setelah resign tahun 2016, Dipi membangun personal brand Dipidiff hingga saat ini.
Sebagai Certified BNSP Public Speaker dan Certified BNSP Trainer, serta certified IALC coach, (certified BNSP Master Trainer, certified BNSP NLP, certified BNSP Komunikasi, certified internasional coach ICF, certified EQ, dan certified Pengembangan Kurikulum dan Fasilitas Pelatihan -- on planning 2026). Dipi diundang oleh berbagai perusahaan, komunitas dan Lembaga Pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereviu buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Kementrian Keuangan, Universitas Negeri Semarang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, BREED, Woman Urban Book Club, Lions Clubs, Bandung Independent School, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, Mega Andalan Kalasan, Manulife Indonesia, SERA ASTRA, dan lain-lain. Selama dua tahun menjadi pemateri rutin di platform edukasi Cakap.com. Dipi meng-coaching-mentoring remaja dan dewasa di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka.
Berstatus bookblogger, reviu-reviu buku yang ia tulis selalu menempati entry teratas di halaman pertama mesin pencari Google, menyajikan ulasan terbaik untuk ribuan pembaca setia. Saat ini Dipi adalah brand ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di berbagai event literasi. Dipi juga pernah menjadi Official Reviewer untuk Republika Penerbit dan berpartner resmi dengan MCL Publisher. Kolaborasi buku-bukunya, antara lain dengan One Peach Media, Hanum Salsabiela Rais Management, KPG, Penerbit Pop, Penerbit Renebook, dan Penerbit Serambi. Reviu buku Dipi bisa dijumpai di www.dipidiff.com maupun Instagram @dipidiffofficial. Dulu sempat menikmati masa menjadi host di program buku di NBS Radio dan menulis drop script acara Indonesia Kemarin di B Radio bersama penyiar kondang Sofia Rubianto (Nata Nadia). Podcast Dipi bisa diakses di Youtube Dipidiff Official.
Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation.
Contact Dipidiff at DM Instagram @dipidiffofficial
Hits: 2107
TERBARU - SELF EDUCATION
MINDSET: Cara Berpikir Positif, Produkti…
19-02-2026
Dipidiff

Cara Berpikir Positif, Produktif, dan Bermanfaat dengan Menguasai Mindset "In a growth mindset, challenges are exciting rather than threatening. So rather than thinking, oh, I'm going to reveal my weaknesses, you...
Read moreCara Mewujudkan Impian dengan Manifestas…
03-11-2024
Dipidiff

Updated 24 Februari 2025 I think human beings must have faith or must look for faith, otherwise our life is empty, empty. To live and not to know why the cranes...
Read moreMengapa Ringkasan Buku Itu Penting?
19-06-2022
Dipidiff

Pernah ga sih teman-teman merasakan suatu kebutuhan yang sebenarnya mendesak namun seringkali diabaikan? Mungkin karena rasanya kebutuhan ini sepele, atau mungkin dia tidak terasa mendesak sampe ketika waktunya tiba mendadak...
Read more10 Tips Mengatasi Kesepian
05-12-2021
Dipidiff

Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...
Read moreCara Membuat Perpustakaan Pribadi di Rum…
25-09-2020
Dipidiff

Perpustakaan sendiri punya kenangan yang mendalam di benak saya. Saya yakin teman-teman juga punya memori tersendiri ya tentang library. Baca juga "Arti Perpustakaan Bagi Para Pecinta Buku" Baca juga "Perpustakaan Luar...
Read more








