Review Buku Cinta di Dalam Gelas (Dwilogi Padang Bulan #2) - Andrea Hirata

Published: Thursday, 21 March 2019 Written by Dipidiff

 

Judul : Cinta di Dalam Gelas (Dwilogi Padang Bulan #2)

Penulis : Andrea Hirata

Editor : Imam Risdiyanto

Jenis Buku : Fiksi - Roman

Penerbit : Bentang Pustaka   

Tahun Terbit : Cetakan Kesebelas, November 2017

Jumlah Halaman :  316 halaman

Dimensi Buku : 13 x 20.5 cm

Harga : Rp.79.000

ISBN : 9786028811316      

 

Penulis Fenomenal Laskar Pelangi

Mega Bestseller - Terjual 25.000 eksemplar dalam 2 minggu

 

  


Sekelumit Tentang Isi

Sebagai kelanjutan kisah Enong di novel Padang Bulan, novel Cinta di Dalam Gelas menceritakan perjalanan nasib Enong. Ia kemudian berurusan dengan seorang preman pasar pagi, seorang lelaki yang bercita-cita menjadi teknisi antena parabola, dan seorang grand master perempuan tingkat duni yang berasal dari Georgia.

Bagaimana pula presiden perempuan Republik Indonesia, Kapten CHIP, dan dua ekor burung merpati tersangkut dalam urusan ini?
"Berikan aku sesuatu yang paling sulit, aku akan belajar," kata perempuan yang bahkan tidak tamat SD itu. Melalui kisah Enong pula sebuah pesan kehidupan tersirat bahwa belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan. Ilmu yang tak dikuasai akan menjelma di dalam diri manusia menjadi sebuah ketakutan. Belajar dengan keras hanya bisa dilakukan oleh seorang yang bukan penakut.


 
Seputar Fisik Buku dan Disainnya


Pink warna favorit saya. Jarang sekali saya menemukan buku dengan disain warna merah muda seperti novel ini. Gambar ilustrasinya juga unik. Itu pasti Maryamah dan Nochka, tapi dua gambar lagi agak membuat saya bingung. Mungkinkah itu A Ling dan Ikal (?).

Ada gambar ilustrasi yang hampir serupa dengan yang ada di sampul juga di bagian awal cerita. Kali ini ditambahi gambar catur, segelas kopi, toga, bulan purnama, dan carpe diem. Maka sudah jelas itu gambar A Ling dan Ikal. Apa alasannya bisa ditemukan dengan membaca isi buku ini terutama bab pertamanya.


Picture: gambar ilustrasi di awal cerita

 

Tokoh dan Karakter


Ikal, memutuskan untuk berjuang sekuat tenaga membantu Maryamah mengalahkan Matarom
Detektif M. Nur, sahabat ikal yang memata-matai semua lawan Maryamah dengan lihai.
Jose Rizal, merpati peliharaan M. Nur. Utusan surat-menyurat rahasia.
Preman Cebol, preman yang ditakuti di pasar pagi, punya merpati yang dilatih M. Nur bernama Ratna Mutu Manikam
Enong / Maryamah, gadis berhati teguh, penuh kasih sayang pada keluarganya, menikah tanpa cinta dengan Matarom yang jahat, dan bercerai seketika. Menantang Matarom di lomba catur sebagai bentuk pembalasan sakit hati dan demi harga diri.
Ninochka Stronovsky, perempuan cantik kawan Ikal waktu sekolah di luar negeri dahulu, grand master catur internasional.
Selamot, perempuan yang sedih kisah cintanya, ditinggal suami begitu saja, profesinya tukang cabut bulu ayam merangkap manajer catur Maryamah
Chip, hobi ngebut naik sepeda, bercita-cita menjadi pilot namun tak kesampaian, ia memilih memihak kubu Maryamah.
dan lain-lain.

 

Deskripsi fisik beberapa tokohnya detail bahkan disertai semacam sejarah singkat hidup tokohnya. Misalnya, deskripsi preman cebol di bawah ini,

Di mataku, ia tampak seperti pemberontak Germania yang takluk diperangi tentara Praetorian dalam film-film klasik Romawi. Ia terluka. Sabetan machete melintang di bawah ketiaknya. Luka yang dalam dan panjang membuatnya tak dapat menegakkan tubuh dengan sempurna.

Jika ia mengangkat wajah, menyorot dua bola mata yang keruh. Alisnya serupa bulan sabit, tatapannya ingin menelan. Kedua mata itu berbicara lebih lancang dari mulutnya, namun menyimpan rahasia yang dalam, seperti ada cinta yang juga terluka, hidup yang tersia-sia, dan dendam yang membara.

Rambutnya yang gondrong, tebal digulung angn laut beraroma garam, takd apat lagi disisir karena telah kaku. Badannya yang besar dan tegap seakan menguasai seluruh warung. Penampilannya semakin ganjil karena bahunya timpang. Konon karena ketika kecil ia membanting tulang seperti budak belian di bawa perintah pamannya yang kejam. Dari pamannya itulah ia mendapat semua keburukan dalam hidupnya, yang kemudian membawanya menjadi orang yang paling di takuti di pasar pagi – termasuk kawasan seputar kantor pegadaian sampai ke Jalan Sersan Munir. Adapun wilaya depan puskesmas sampai kantor pos berada di bawah kuasa Daud si muka codet.

Tato penjara, centang-perenang di kedua lengannya. Tato di tangan kanan, seperti almanak, menampakkan hari-hari agung yang ia lalui di balik kurungan. Yang terbaru, masih bulan lalu, angka 7 terukir di situ. Pasti ia telah mendekam 7 hari, berikut nomor pasal yang ia telikung: 170. Tak lain pasal soal ketertiban umum.

 

 

Alur dan Latar

Alur cerita maju, dengan sudut pandang cerita orang pertama (Ikal). Konfliknya sederhana tapi alur ceritanya menjadi menarik karena dialog dan narasinya yang unik serta banyak humornya. Ending tertutup dengan baik.

 

Nama-nama lokasi dan latar cerita unik, aneh, dan mengundang tawa, misalnya Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi tempat pertandingan catur diadakan. Semua lokasi masih berada di daerah Melayu yang sama.

Deskripsi latarnya detail dan suasananya digambarkan dengan baik. Misalnya lokasi Bitun, kampungnya tokoh Selamot berikut ini,

Aduh, minta ampun udiknya Bitun itu. Ke sana harus melewati tiga acam jalan mulanya aspal, terus batu merah, lalu jalan pasir yang meliuk-liuk sesuka hatinya seperti ular manau. Tempat itu adalah ujung dari ujung kampung orang Melayu yang paling ujung. Setelahnya hanya Laut China Selatan yang bergelora. Maka, bitun bisa disebut the last frontier kebudayaan Melayu. Lokasinya seperti tak sepenuh hati. Orang-orang yang pertama tinggal di sana pasti mencari-cari saja sekenanya daratan tak berawa untuk menancapkan empat tiang kayu gelam, lalu didindingi bambu dan diatapi daun nipah.

Maka, berdirilag belasan rumah yang mengelilingi tali air – sebutan lokal untuk sumber mata air. Bitun terpelecat dari peradaban dan terperosok ke dataran rendah dengan tepi barat ladang garam dan tepi timur rimba yang gelap. Jauh, jauh sekali. Jin saja tak mau buang anak di situ.

Semuanya serba sederhana di Bitun. Mereka yang bosan dengan ketam akan bertukar rebung dengan tentangganya. Mereka yang punya beras, bertukar dengan minyak kelapa. Mereka yang tak punya beras, etam, rebung, dan minyak kelapa, bertukar senyum dengan siapa saja. Jika laut tenang, mereka melaut dan memanen kerang. Jika laut garang, mereka masuk ke rimba yang lebat, mencari jamur. Beitu saja ekonomi mereka.

Bahkan cinta juga sederhana. Sepasang ...

Halaman 110

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Narasi selalu menjadi kekuatan novel-novelnya Andrea Hirata, termasuk novel Cinta di Dalam Gelas ini. Entah bagaimana topik yang serius dan logis pun bisa dibahasakan dengan cara yang ironis tapi juga humoris.

Sering kulamunkan, bagaimana aku, seorang anak Melayu udik dari keluarga Islam puritan, bisa jatuh cinta pada perempuan Tionghoa dari keluarga Konghucu sejati itu. Ia tentu memiliki semua hak untuk menempatkan dirinya dalam pikiran yang sama seperti pikiranku barusan. Namun, Kawan, seandainya kita bisa tahu dengan siapa kita akan berjumpa lalu jatuh cinta seperti tak ada lagi hari esok, maka beruk bisa melamar pekerjaan menjadi ajudan bupati.

Halaman 4

 

 
Jadi inilah sebabnya novel ini diberi judul Cinta di Dalam Gelas.


 
“Ia adalah lelaki yang baik dengan cinta yang baik. Jika kami duduk di beranda, ayahmu mengambil antip dan memotong kuku-kukuku. Cinta seperti itu akan dibawa perempuan sampai mati.”

Syalimah seperti tak sanggup melanjutkan ceritanya.

“Jika kuseduhkan kopi, ayahmu menghirupnya pelan-pelan lalu tersenyum padaku.”

Meski tak terkatakan, anak-anaknya tahu bahwa senyum itu adalah ucapan saling berterima kasih antara ayah dan ibu mereka untuk kasih sayang yang balas-membalas, dan kopi itu adalah cinta di dalam gelas.

Halaman 13

 

Bab demi bab yang membahas topik ngopi di masyarakat Melayu serta catur sebagai bagian dari semacam ritual pelengkap tradisi ngopi di sana terasa unik dan menarik.Tak tahu darimana ide-ide cerita sederhana dan kocak semacam ini didapatkan Andrea Hirata. Yang saya tahu novel ini menarik, gaya bahasanya asyik, parodinya kocak, dan saya penasaran dengan keseluruhan permainan alur ceritanya.

Mereka yang menghirup kopi pahit umumnya bernasib sepahit kopinya. Makin pahit kopinya, makin berlika-liku petualangannya. Hidup mereka penuh intaian mara bahaya. Cinta? Berantakan. Istri? Pada minggat. Bisnis? Kena tipu. Namun, mereka tetap mencoba dan mencipta. Mereka naik panggung dan dipermalukan. Mereka menang dengan gilang-gemilang lalu kalah tersuruk-suruk. Dalam dunia pergaulan zaman modern ini mereka disebut para player.

...

Halaman 40

Namun, ada pula yang suka minum air dengan gula saja. Tanpa susu dan kopi. Mereka adalah burung sirindit. Sedangkan mereka yang meminta kopi saja, tanpa air, dan memakan kopi itu seperti makan sagon, adalah penderita sakit gila nomor 29. Adapun mereka yang sama sekali tidak minum kopi adalah penyia-nyia hidup ini.

Halaman 43

 


Lalu, di tengah segala lelucon dan parodi cerita, selalu terselip satu dua adegan yang sedih. Misalnya,

“Ilham?”

Lelaki itu mengangguk. Maryamah terpana. Ilham mengenalkan anak-anaknya. Anak-anak itu tak peduli. Tak lama kemudian datang seorang wanita. Kedua anak tadi menghambur ke arah wanita itu. Ilham mengenalkan wanita itu sebagai istrinya. Mereka berbincang-bincang, kemudian keluarga itu berlalu.

Maryamah memandang Ilham sampai jauh. Ia tersenyum melihatnya memegang tali balon gas mainan anak-anaknya. Ia menyingkir ke samping warung sayur, ke tempat yang tak ada siapa-siapa. Ia malu dilihat orang karena ia menangis. Ia menangis sampai sesenggukan. Setelah berpuluh tahun berlalu, baru sekarang ia mengerti mengapa ketika masih kecil dulu, setiap kali berada di dekat Ilham, hatinya senang dengan cara yang tak bisa ia jelaskan. Baru sekarang ia mengerti bahwa itu adalah cinta.

Halaman 99

 

Pesan ceritanya bagus untuk dicamkan.

Aku terharu sekaligus malu. Sering kali kuratapi apa yang telah terjadi dan berlarut-larut menyesalinya. Kadang aku menyiksa diri sendiri dengan memikirkan berbagai kemungkinan yang seharusnya telah atau tidak kulakukan sehingga berakibat pada satu keadaan yang buruk. Padahal, semua kemungkinan itu telah hangus dibakar waktu. Tak mungkin terulang lagi.

Maryamah adalah pribadi istimewa yang tak punya tabiat mengasihani diri. Ia tak pernah mengiba-iba. Kupandangi guru kesedihan itu. Hari ini aku belajar satu hal penting darinya bahwa jika tidak bersedih atas sebuah kehilangan menimbulkan perasaan bersalah, hal itu merupakan kesalahan baru, sebab kesedihan harusnya menjadi bagian dari kebenaran.

Halaman 114

 
Ada tulisan semacam puisi di dalam buku ini. Jumlahnya tak banyak, dan seolah disisipkan secara serampangan saja di tengah-tengah cerita. Tapi tak heran juga, bukankah di buku pertama dwilogi ini tokoh Ikal memang senang menulis puisi. Beberapa puisi bahkan bernada sentilan untuk pemerintah. Misalnya,

Seribu Lima Ratus Perak

Kutengok di televisi
Kebenaran di Jakarta mahal sekali
Para koruptor pintar sembunyi
Padahal nyata-nyata, mereka telah mencuri
Kawan, di kampung kami
Kebenaran harganya hanya seribu lima ratus perak
Warnanya hitam, tergenang di dalam gelas, saban pagi

Sindiran ini juga ada dalam dialog tokohnya, tapi dilengkapi dengan pernyataan kebalikannya sehingga terasa netral.

“Terus terang,” ujar Paman dengan serius.
“Aku tak habis mengerti, mengapa orang-orang gampang sekali mengata-ngatai pemerintah. Kalau bicara, sekehendak hatinya saja. Apa mereka kira gampang mengelola negara? Mengurusi ratusan juta manusia? Yang semuanya tak..

Halaman 228

 

Buat yang rindu pada tokoh Lintang, nantikan peran Lintang sebagai 'Qui Genus Humanum Ingenio Superawit' dalam novel ini di sepertiga bagian akhir kisah. Tak banyak yang diceritakan, hanya satu bab saja, namun berperan penting dalam kesinambungan alur cerita.

Kuterangkan situasi yang kami hadapi. Inilah momen yang selalu kurindukan, yaitu saat ia tercenung memikirkan suatu soal. Kecerdasannya tergambar di dalam bola matanya, serupa permadani yang hijau. Si genius yang rendah hati itu berkata,

“Aku coba membuat hitungan kecil-kecilan, ya. Tapi, berhasilnya hitunganku tergantung dari lengkapnya data.”

Halaman 217

 
Bab yang ini unik sekali karena ada instruksi untuk memutar lagu Can't Get Enough-nya band Supergroove saat membaca satu paragraf khusus yang berisi adegan sengit pertandingan catur antara Maryamah melawan Patriot.

Kawan, masukkan kaset bad Supergroove ke dalam tape-recorder-mu. Paskan pada lagu Can't Get Enough. Tempelkan ujung jari telunjukmu pada tombol play. Nanti aku akan memberimu aba-aba untuk memencet tombol itu.

...

Kawan, persiapkan dirimu. Pencet tombol play, ikuti dentaman drum, dan mulailah membaca:

Maryamah melangkah dua kotak – Patriot membalas tiga kotak – Maryamah melangkahkan pion – Patriot mengeluarkan menteri --- Maryamah mengeluarkan kuda – patriot membalas dengan benteng – langkah cepat balas-membalas – kedua pecatur saling menggertak – Patriot pun  berteriak sekak! – Paman terlonjak dari tempat duduk, ...

Halaman 221

 

Endingnya epic dan mulus, epilognya per poin tokoh, dan bab akhirnya ditutup salah satunya dengan kalimat yang sangat mengena.

Seumpama catur, hidup sedikit banyak bak reaksi atas pilihan sulit yang silih berganti mem-fait accompli manusia, dan alasan selalu lebih mudah dilupakan ketimbang akibat.

Halaman 287

 

Buat yang ingin tahu seperti apa buku pertama dari dwilogi Padang Bulan ada Penggalan Cerita Padang Bulan di bagian akhir buku ini.

 

Novel Cinta di Dalam Gelas mendapatkan rating 4 tipis di Goodreads (3.96). Sebenarnya tidak mengherankan mengapa skornya tidak mencapai 4 bulat mengingat isinya yang unik. Menurut saya buku-buku Andrea Hirata yang Melayu sekali ini memang sedikit segmented, tak semua orang bakal suka, tak semua orang akan memahaminya. Mereka yang memberikan rating 4 ke atas untuk buku ini menyatakan kesukaan mereka akan pesan cerita yang disampaikan lewat tokoh Maryamah, akan gaya tulisannya yang jenaka, dan plot utamanya yang menarik. Mereka yang memberikan rating rendah mempertanyakan kesinambungan antara judul buku dengan isi, menganggap beberapa bab tidak efektif alias melantur, dan tidak begitu menyukai gaya tulisan Andrea Hirata yang kadang hiperbola alias berlebihan.

 

Saya sendiri, yang merupakan penggemar buku-buku Andrea Hirata, menganggap novel Cinta di Dalam Gelas adalah buku yang sangat layak dibaca, sangat mengibur, kreatif, imajinatif, dan sebenarnya mencerminkan kecerdasan dan wawasan luas penulisnya. Sama seperti pembaca lain, saya terkecoh karena mengira isi novel ini bakal bercerita tentang lanjutan kisah cinta A Ling dan Ikal alih-alih mengeksplor kehidupan Maryamah. Judul Cinta di Dalam Gelas sudah mendapatkan penjelasan sendiri di bab awal. Dengan ini mungkin Andrea Hirata seolah membayar lunas urusan judul dan latar belakangnya, sekaligus 'menipu' penikmat bukunya agar tetap penasaran hingga akhir. Penasaran bagian mana dari buku yang akan menyambung cerita kasih Ikal dan A Ling. Soal narasi, tak usahlah dibahas lebih banyak. Saya suka gaya menulisnya yang Melayu itu, jenaka, pintar, menyindir, kadang sedih, kadang mengajak kita merenung pula. Bila orang-orang lain menganggap beberapa kalimat yang ada berlebihan, itu juga benar, tapi orang-orang Melayu memang demikian seingat saya. Itulah warna yang sesungguhnya dari cara berkomunikasi orang Melayu asli, setidaknya Melayu tempo dulu. Pesan cerita novel ini juga mendalam, jauh lebih mengena dari pesan cerita Padang Bulan. Dan di novel inilah kita bisa mengetahui asal mula tokoh Maryamah Karpov. Berbeda dengan pembaca lain yang mungkin tidak menyukai ketidakteraturan isi novel ini yang tiba-tiba ada puisinya, atau tiba-tiba ada instruksi cara bacanya, saya pribadi justru menyukai selingan yang tidak biasa ini. Sebuah buku pada akhirnya memang soal selera.

 

Siapa Andrea Hirata

Andrea Hirata adalah pemenang pertama penghargaan sastra New York Book Festival 2013, untuk The Rainbow Troops, Laskar Pelangi edisi Amerika, Penerbit Farrar, Straus & Giroux, New York, kategori general fiction, dan pemenang pertama Buchawards 2013, Jerman, untuk Die Regenbogen Truppe, Laskar Pelangi edisi Jerman, Pnerbit Hanser, Berlin. Dia jga pemenang seleksi short story majalah sastra terkemuka di Amerika, Washingtong Square Review, New York University, edisi winter/spring 2011 untuk short story pertamanya Dry Season. Tahun 2015 dia dianugerahi gelas Doktor Honoris Causa di bidang sastra oleh University of Warwick, UK, dan tahun 2017  menerima penghargaan budaya dari pemerintah Prancis untuk karyanya Les Guerriers de L’arc-en-ciel (Laskar Pelangi edisi Prancis, Penerbit Mercure de France). Laskar Pelangi telah diadaptasi dalam bentuk film, musikal, lagu, serial TV dan koreografi oleh CityDance Company, Washingtong, D.C., dilayarkan di Berlinalle dan Smithsonian.

Sejak tahun 2010, secara mandiri Hirata mempromosikan minat baca, minat menulis, dan mendirikan museum sastra pertama dan satu-satunya di Indonesia, Museum Kata Andrea Hirata di Belitong.

 

Novel karyanya

Laskar Pelangi (2005)
Sang Pemimpi (2006)
Edensor (2007)
Maryamah Karpov
Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas (2010)
Sebelas Patriot (2011)
Laskar Pelangi Song Book (2012)
Ayah (2015)
Sirkus Pohon (2017)

Penghargaan
·         Pemenang BuchAwards Jerman 2013
·         Pemenang Festival Buku New York 2013 (general fiction category)
·         Honorary Doctor of Letters (Hon DLitt) dari Universitas Warwick 2015

 

Novel Cinta di Dalam Gelas mendapatkan rating 3.96 di situs Goodreads. 

 

Rekomendasi

Novel ini saya rekomendasikan kepada pecinta karya Andrea Hirata, yang menyukai genre roman bergaya Melayu dengan tokoh-tokoh dan kehidupan masyarakat biasa. Alur ceritanya maju (kadang cepat kadang lambat) dengan sudut pandang orang pertama (Ikal). Beberapa tokohnya dideskripsikan dengan detail. Latar Melayunya terasa kental. Gaya berceritanya yang unik dan jenaka membuat novel ini sangat menarik untuk disimak. Latarnya yang bernuansa Melayu terasa kental. Ada selipan puisi di dalamnya. Ada satu bab yang bahkan dilengkapi petunjuk cara baca (diringi lagu). Ada satu bab tentang Lintang. Pesan ceritanya sangat bagus, salah satunya tentang wanita dan perjuangan hidupnya, tentang semangat belajar yang tak kenal usia. Banyak bab di buku ini yang mengangkat topik kopi dan catur sebagai bagian dari kultur orang Melayu. Endingnya 'epic' dan tertutup dengan baik. Di sini diceritakan asal muasal tokoh Maryamah Karpov yang bukunya terbit lebih dulu dari dwilogi Padang Bulan. Hati-hati, mungkin gaya menulis Andrea Hirata yang bebas lepas itu akan membuat sebagian pembaca merasa beberapa babnya melantur. Dan terus terang saja, jangan berekspektasi apapun pada isi buku meski judul novel ini manis bernada cinta.

 

My Rating : 4.5/5

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku Puisi To Drink Coffee With A…

21-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : To Drink Coffee with A Ghost Penulis : Amanda Lovelace Jenis Buku : Poetry Penerbit : Andrews McMeel Publishing Tahun Terbit : September 2019 Jumlah Halaman :  160  halaman Dimensi Buku :  20.57 x 13.21 x...

Read more

Review Buku An Anonymous Girl - Greer He…

19-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : An Anonymous Girl Penulis : Greer Hendricks & Sarah Pekkanen Jenis Buku : Psychological Suspense Penerbit : Pan MacMillan   Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman : 464 halaman Dimensi Buku : 13.00 x 19.70 x 3.20 cm Harga...

Read more

Review Buku The Silence - Tim Lebbon

09-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : The Silence Penulis : Tim Lebbon Jenis Buku : Science Fiction Penerbit : Titan Books (UK)  Tahun Terbit : Maret 2019 Jumlah Halaman :  368 halaman Dimensi Buku : 20.32 x 13.21 x 2.54 cm Harga : Rp. 112.000*harga...

Read more

Review Buku Talking To Strangers - Malco…

07-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Talking to Strangers What We Should Know about the People We Don’t Know Penulis : Malcom Gladwell Jenis Buku : Non Fiksi - Psikologi Penerbit : Penguin Random House UK Tahun Terbit : September 2019 Jumlah...

Read more

TERBARU - Buku Indonesia & Terjemahan

Review Buku #MO - Rhenald Kasali

18-09-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : #MO Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham Penulis : Rhenald Kasali Jenis Buku : Ekonomi - Bisnis Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman :  446 halaman Dimensi Buku :  15...

Read more

Review Buku Wild Hearts (Ancaman Masa La…

28-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Wild Hearts (Ancaman Masa Lalu) * Harlequin Penulis : Sharon Sala Disain Sampul : Marcel A.W. Jenis Buku : Fiksi Romance Suspense - Misteri Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku A Song of Shadows (Kidung Ba…

14-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : A Song of Shadows (Kidung Bayang-Bayang) Penulis : John Connolly Disain Sampul : Edward Iwan Mangopang Jenis Buku : Detektif Kriminal – Misteri - Suspense Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah...

Read more

Review Buku 64 Tips dan Trik Presentasi …

31-03-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : 64 Tips dan Trik Presentasi Public Speaking Mastery in Action Penulis : Ongky Hojanto Disain Sampul : Orkha Creative Jenis Buku : Non Fiksi - Komunikasi Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit :...

Read more

TERBARU - LIFE STORY

Decluttering Finances

24-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Inginkah teman-teman memiliki kemampuan mengelola keuangan dengan bijak? Pasti jawabannya ingin. Saya pikir tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak ingin memiliki skill memanajemen keuangan, sebab sebesar apapun...

Read more

Work Coffee Cafe (a Review)

17-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Familiar kah teman-teman dengan nama cafe ini? Saya sih tidak. Tapi itu kemungkinan karena kami domisili di Bandung Timur dan jarang main ke daerah ini. Padahal tempatnya asyik bahkan klasik...

Read more

Marka Cafe + Kitchen (a Review)

16-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Untuk mereka yang biasa ngafe atau duduk-duduk nongkrong sambil menikmati kopi pasti sudah kenal kafe yang satu ini. Saya juga tahu Marka cafe karena diajak partner saya ngobrol-ngobrol tukar pikiran...

Read more