Review Buku The Tattooist of Auschwitz

Published: Tuesday, 18 February 2020 Written by Dipidiff

 

Judul : The Tattooist of Auschwitz

(Based on the powerful true story of Lale Sokolov)

Penulis : Heather Morris

Jenis Buku : Historical Fiction

Penerbit : Zaffre Publishing 

Tahun Terbit : Januari 2018

Jumlah Halaman :  288 halaman

Dimensi Buku : 15.30 x 23.60 x 2.40 cm

Harga : Rp. 232.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah

ISBN : 9781785763656

Paperback

Edisi Bahasa Inggris

The International No.1 Bestseller

Available at PERIPLUS BANDUNG Bookstore (ig @Periplus_setiabudhi, @Periplus_husein1 , @Periplus_husein2)

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Lale Sokolov dipekerjakan sebagai Tätowierer (tukang tato) di kamp konsentrasi di Auschwitz-Birkenau. Pekerjaan ini ia dapatkan karena kemampuannya berbicara beberapa bahasa dan keberuntungannya saat ia dirawat oleh Tätowierer senior di sana. Siapa sangka ia malah ditawari posisi yang menguntungkan tersebut.


Dengan posisinya yang istimewa itu, ia bisa menggunakan kecerdasannya untuk membentuk jaringan penyelundupan makanan, suap, dan barter untuk menjaga agar teman-temannya tetap hidup dengan makanan tambahan. Food is a currency in Auschwitz.

Lalu Lale bertemu Gita pada Juli 1942 dan jatuh cinta. Ia yang menato lengan gadis itu. Dalam pertemuan pertama itu, Lale bersumpah untuk entah bagaimana selamat dari kamp konsentrasi dan menikahinya.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Tampaknya buku ini punya beberapa macam disain cover ya. Ada yang bergambar dua orang berpegangan tangan, ada yang bergambar pasangan tampak belakang, dan yang hanya tulisan seperti buku yang saya baca. Kalau disuruh memilih, saya pilih yang ini, yang bukunya saya baca. Lebih berwarna tanpa kehilangan esensinya. Yang lain terasa sangat gloomy, membuat mood saya serta merta kelam.

 

Tokoh dan Karakter

Lale Sokolov

Gita Furhman

Cilka Klain

Dana

Baretski

 

 

Deskripsi fisik tokoh tidak detail, kecuali Cilka yang nantinya memang punya porsi banyak di buku sekuelnya. Tapi pesan ceritanya kuat dan ini dibawa oleh karakter para tokohnya. Bukan hanya soal cinta, tapi belas kasih, pantang menyerah, tolong-menolong, dan pengorbanan adalah nilai-nilai lain yang juga ingin disampaikan oleh Heather Morris dalam bukunya The Tattoist of Auschwitz.

 

Alur dan Latar

Alur cerita cukup cepat disampaikan dari sudut pandang orang ketiga. Konfliknya menarik, cinta yang tumbuh di tempat sekejam kamp konsentrasi, lalu cara tokoh utama bertahan hidup di sana juga menjadi konflik yang ditunggu penyelesaiannya. Endingnya tertutup, memiliki epilog yang jauh ke depan. Soal apakah akhirnya bahagia atau tidak, itu kembali pada kita yang akan menimbangnya dari sudut yang mana. Kalau titik-ujungnya berada di pertemuan Lale dan Gita, maka endingnya happy, tapi berhubung bukunya punya epilog, jadi kebahagiaan yang tadi jadi bisa bias juga. 

Kisah Lale dan Gita sebagian besar mengambil lokasi kamp konsentrasi Auschwitz Birkenau, yang menurut saya deskripsinya cukupan saja detailnya (dilengkapi dokumen denah dalam lampiran). Sesekali ada pertanyaan yang muncul seperti "memangnya bisa ya ternyata di kamp konsentrasi dua sejoli bertemu sembunyi-sembunyi memadu kasih (?)". Pertanyaan ini saya simpan sendiri, karena sejarah bukan bidang keahlian saya. Meski beberapa berita menyampaikan banyak sisi cerita yang dibumbui dan tidak sesuai dengan kenyataan atau fakta sejarah.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Sebagai sebuah buku historical fiction, bagian penting penjelasan singkat sejauh mana unsur dalam cerita berkesesuaian dengan fakta sejarah adalah bagian yang saya 'tunggu'. Kadang ada buku yang dengan jelas menyebutkan bagian mana yang dibumbui sehingga menjadi fiksi dan bagian mana yang merupakan fakta sejarah. Untuk buku Tattooist of Auschwitz tampaknya pembaca disemangati untuk mencari tahu sendiri lebih jauh tentang itu sekaligus diberikan semacam perspektif bahwa jika ada yang tidak berkesesuaian dengan sejarah maka baiknya mengingat kembali pada "betapa lemahnya sebenarnya ingatan manusia tentang detail masa lalu" *mengacu pada Lale Sokolov.

This is a work of fiction, based on the first-hand testimony of one Auschwitz survivor; it is not an authoritative record of the events of the Holocaust. There are many accounts that document the facts of that terrible history in far more detail than can be justified in a novel and I would encourage the interested reader to seek them out. Lale encountered many more guards and prisoners during his time at Auschwitz – Birkenau than are described in these pages, in some instances I have created characters that represent more than one individual, and have simplified certain events. While some encounters and conversations here have been imagined, that the events in this story occurered largely as described is not in doubt and the information presented as fact has been sourced and researched.

Heather Morris

 

Bagaimana cinta bisa hadir di Auschwitz menjadi pertanyaan retorik sebenarnya. Sebab cinta memang demikianlah, seringnya datang tiba-tiba, dan tanpa rencana. Tapi ajaib juga di tengah situasi menekan di kamp pembantaian seperti itu, ada terpikirkan soal cinta dan lain sebagainya. Love is miracle, indeed.

Awalnya saya mengira novel ini bakal menonjolkan kekejaman kamp konsentrasi Nazi, tapi siapa nyana rupanya buku yang satu ini berbeda. Teringat oleh saya isi buku Gulag - Alexander Solzhenitsyn yang mencekam, dan bayangan-bayangan itu terus terpatri saat membaca buku The Tattooist of Auschwitz ini. Tapi prolog novel ternyata malah manis seperti cinta pada pandangan pertama. Adegan-adegan romance juga 'bertebaran' di sepanjang cerita. Misalnya adegan pertama kalinya Gita memberikan sinyal 'tanda suka' pada Lale di bawah ini.

A sirend sounds.

“You'd better get back to your block,’ says Lale. “Next time I'll bring some food for you.’

‘You have food?’

‘I can get extra. I'll get it to you, and I'll see you next Sunday.’

Lale stands and holds his hand out to Gita. She takes it. He pulls her to her feet, holds her hand a moment longer than he should. He can't take his eyer off her.

‘We should go.’ She breaks eye contact, but maintainings her spell over him with a smile that makes him knees go weak.

Page 69

  

Meski frame utama cerita adalah kisah cinta Lale dan Gita, tapi Auschwitz tetaplah Auschwitz. Di novel ini tetap ada detail kekejaman SS para penjaga kamp konsentrasi, ruang hukuman, adegan tembak mati, penyiksaan fisik, dan kamar gas. Porsinya tidak sebanyak Gulag, tapi menyimak adegannya tetap sama mengerikannya. Kesedihan dan duka menyelimuti plot demi plot cerita. Novel yang ditulis berdasarkan cerita nyata Lale Solokov ini kadang pedih tak tertahankan saat pembunuhan terhadap anak-anak diangkat ke permukaan.

Ahead, Lale sees three prisoners sitting on the ground, back to back, supporting each other, clearly exhausted. The prisoners look up at Lale and Baretski but make no attempt to move. Without breaking step, Baretski pulls his rifle from his back and fires at them repeatedly.

Lale freezes, his eyes locked on the dead men. Finally, looking back up the retreating Baretski, Lale recalls the first time he saw such an unprovoked attack on defenceless men- sitting on a board in the dark. That first night he arrived at Birkenau flashes before him. Baretski is getting further away from him and Lale fears he will take his anger out on him next. He hurries to catch up to him, but remains a slight distance away. He knows Baretski knows he is there. Once more, they arrive at the words emblazoned above: ARBEIT MACHT FREI. He silently curses whatever god may be listening.

Page 97

 

Lale looks around at this final stretch of the road to death at Birkenau. He sees the Sonderkommandos standing by, defeated, ready to do a job no one on earth would volunteer for: removing corpses from the gas chambers and putting them into the ovens. He tries to make eye contact with them, to let them know he too works for the enemy. He too has chosen to stay alive for as long as he can, by performing an act of defilement on people of his own faith. None of them meets his eyes.

Page 141

 

The SS officer opens the doors wide and they step into a cavernous room. Bodies, hundreds of naked bodies, fill the room. They are piled up on each other, their limbs distorted. Dead eyes stare. Men, young and old; children at the bottom. Blood, vomit, urine and feces. The smell of death pervades the entire space. Lale tries to holds his breath. His lungs burn. His legs threaten to give way beneath him. Behind him Baretski says, ‘Shit’.

That one word from a sadist only deepens the well of inhumanity that Lale is drowning on.

Page 142

 

The next morning Gita and Dana are the last to leave their block. They exit with their arms linked, talking, oblivious to their surroundings. Without warning the SS officer outside their block hits Gita in the back with his rifle. Both girls erash to the ground. Gita cries out in pain. He indicates with his rifle for them to get up. They stand, their eyes downcast.

He looks at them with disgust and snarls, ‘Wipe the smile from your face.’ He takes his pistol from its holster and pushes it hard against Gita’s temple. He gives the instruction to another officer: ‘No food for them today.’

As he walks away, their kapo advances and slaps them both quickly across the face. ‘Don't forget where you are.’ She walks away and Gita rests her head on Dana's shoulder.

Page 66

  

Dengan segera saya penasaran seperti apa kisah Cilka di buku kedua Heather Morris begitu profil tokoh Cilka muncul di buku Tattooist. Cilka gadis belasan tahun yang selamat dari holocaust Auschwitz karena bertahan hidup dengan menjadi wanita simpanan petinggi SS yang kejam, lalu dihukum 15 tahun kerja paksa atas kejahatan bersekongkol dengan penjahat perang sementara kawan-kawannya dibebaskan.

That night, Cilka lies in the arms of Schwarzhuber. She can tell he is not yet asleep. She opens her mouth to say something but is silenced by him retrieving his arm from underneath her.

‘Are you all rigth?’ she asks tentatively, fearing he will be suspicious of such an intimate question.

‘Yes.’

There is a softness in his voice she has not heard before and, emboldened, Cilka presses on. ‘I have never said no to you for anything, have I? And I've never asked you for anything before?’ she says tentatively.

‘That's true,’ he responds.

‘Can I ask for one thing?’

....

Page 187

 

Bagian yang sedih dan bikin haru juga ada di buku ini. Misalnya, kebaikan orang lain meski hanya hal-hal sepele terasa besar dan sangat menyentuh mengingat kejamnya perlakukan yang mereka terima di kamp konsentrasi.

As Lale is heading for the end carriage he is stopped by a call from the stationmaster, who catches up to him and hands him food and a thermos.

‘It's just a sandwich the wife made, but the coffee’s hot and strong.’

Taking the food and coffee, Lale’s shoulders sag and he can't hold back the tears. He looks up to see the stationmaster also has tears in his eyes as he turns away, heading back to his office.

‘Thank you.’ He can barely get the words out.

Page 246

 

Kadang novel yang terlalu banyak detail sejarahnya malah ga enjoyable. Saya lebih suka versi yang bisa menyatu dalam cerita, seperti The Tattooist of Auschiwtz. Ada tanggal-tanggal penting, momen sejarah tertentu, situasi internal kamp konsentrasi Nazi, dan cukuplah sampai di situ, sisanya masukkan dalam bab lampiran untuk dibaca kemudian karena catatan kaki yang panjang juga mendistraksi proses membaca. Untuk versi non fiksi sejarah, kumpulan esay, Gulag Archipelago - Aleksandr Solzhenitsyn yang mendeskripsikan situasi kamp kerja paksa Stalin, sementara ini masih jadi 'favorit' saya.

Lale knew all Jews in Slovakia had been ordered to wear the yellow Star of David on their clothing when out in public. He had refused. Not out of fear. But because he saw himself as Slovakian :  proud stubborn and even, he conceded, arrogant about his place in the world. His being Jewish was incidental and had never before interfered with what he did and who he befriended. If it came up in conversation, he acknowledged it and moved on. It was not a defining trait for him. It was a matter discussed more often in the bedroom than in a restaurant or club.

In February 1942, he was given advance warning that the German Foreign Ministry had requested that the Slovakian goverment begin transporting Jews out of the country as a source of labour. He requested leave to visit his family, which was granted, and was told he could return to his position in the party at any time – that his job there was secure.

Page 167

 

Bab-bab bonus ada di akhir buku, seperti bab Postscript yang berisi awal mula pertemuan Lale Solokov dan Heather Morris sebelum mereka kemudian sepakat menulis buku The Tattoist of Auschwitz, bab Additional Information yang berisi detail fakta identitas Lale dan Gita serta beberapa informasi penyerta lainnya, bab Afterword From Gary Solokov yang berisi testimoni putra Lale dan Gita tentang kedua orangtuanya (seperti apa mereka di mata Gary), bab lampiran yang berisi foto-foto dokumentasi (foto Lale-Gita-Gary, peta Eropa, dokumen asli Auschwitz, denah kamp konsentrasi), bab pengalaman Heather Morris saat merilis bukunya di Slovekia dan mengunjungi kota-kota yang ditinggali Lale, bab Reading Group Questions, dan cuplikan buku kedua Heather Morris tentang Cilka Klein.

Additional Information

Lale was born Ludwig Eisenberg on 28 October 1916 in Krompachy, Slovakia. He was transported to Auschwitz on 23 April 1942 and tattooed with the number 32407.

Gita was born Gisela Fuhrmannova (Furman) on 11 March 1925 in Vranov nad Topl’ou, Slovakia. She was transported to Auschwitz on 3 April 1942 and tattooed. Gita's number was 4562, as stated in her testimony from the shoah Visual Archive. Lale rememberd it as 34902 and this has been faithfully recorded in previous printings of this book.

Lale’s parents, Josef and Serena Eisenberg, were transported to Auschwitz on 26 March 1942 (while Lale was still in Prague). Research has uncovered that they were killed immediately upon arrival at Auschwitz. Lale never knew this. It was discovered after his death.

Lale was imprisoned in the Strafkompanie (Penal Unit) from 16 June to 10 July 1944, where he was tortured by Jakub.

..

Page 261

 

Bab lampiran dokumentasi di antaranya foto-foto, peta dan dokumen sangat menarik untuk disimak.

Picture: beberapa lampiran di dalam buku

 

Sebagaimana genre romance, ujung kisah Lale dan Gita memang masih di frame percintaan mereka. Mengingat novel ini ditulis berdasarkan kisah nyata, tiap adegan buat saya jadi terasa berbeda beban emosinya dibandingkan dengan novel romance yang murni fiksi. Lebih manis, haru, dan bikin patah hati. Pesan cerita yang ada juga tersampaikan dengan jelas, yakni tentang kebaikan hati, kekuatan mental, berbagi, dan terus berjuang yang terwakili oleh karakter tokoh utama Lale Sokolov.


Bukan sensasi cerita yang menarik hati saya, tapi sisi perjuangan hidupnya. Meski ada cukup banyak kritik untuk buku ini, tapi secara keseluruhan menurut saya novel ini unik, karena tidak menonjolkan sisi kekejaman holocoust-nya tapi unsur romance cerita.

 

Siapa Heather Morris

Heather Morris lahir di Te Awamutu, Selandia Baru, sekarang ia tinggal di Australia. Selama beberapa tahun, saat bekerja di rumah sakit umum besar di Melbourne, ia belajar dan menulis skenario, yang salah satunya dipillih oleh Academy Award-winning screenwriter di AS. Pada tahun 2003, Heather berkenalan dengan Lale Sokolov. Heather awalnya menulis cerita Lale sebagai skenario - yang berperingkat tinggi dalam kompetisi internasional - sebelum menulisnya kembali ke dalam novel debutnya, The Tattooist of Auschwitz.

Dari kecil Heather Morris suka membaca, terutama buku-buku Encyclopaedia Britannica di mana ia bisa melarikan diri ke negeri-negeri eksotis yang jauh dalam imajinasinya. Morris menempuh gelar B.A. di Canterbury University (NZ) pada tahun 1986 sebelum pindah kembali ke Melbourne pada tahun 1987, dan menyelesaikan gelarnya di Universitas Monash pada tahun 1991. Pada 1995 Morris mulai bekerja di Departemen Pekerjaan Sosial di Monash Medical Centre di Melbourne.

Pada tahun 1996 Heather Morris memutuskan untuk mendaftar di Kursus Penulisan Naskah Profesional melalui Australian College of Journalism. Ia kemudian menghadiri banyak kursus penulisan naskah, seminar dan lokakarya di Australia dan AS. Tempat kerjanya memberinya banyak alur cerita yang heroik, beberapa di antaranya saya adaptasikan ke dalam skenario layar. 

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca dewasa yang mencari buku bergenre historical fiction (based on true story of Lale Sokolov) yang komposisi utamanya (80-90%) ada di unsur romance. Kekejaman Holocoust kamp konsentrasi masih terdeskripsikan dalam cerita meski tidak terlalu ditonjolkan kesadisannya. Banyak pesan moral seperti pantang menyerah, kekuatan cinta dan belas kasih yang terkandung di novel ini. Ceritanya sedih, haru, dan bikin patah hati. Endingnya happy. Plotnya termasuk cepat dengan penyelesaian yang rapi. Karakter tokoh utamanya positif dan heroic dengan caranya sendiri. Ada beberapa ekstra bab di bagian akhir buku berupa postscript, testimoni Gary Sokolov, lampiran dokumentasi (foto dan gambar), Additional Information, Reading Group Questions, serta cuplikan novel kedua Heather Morris.

Content Warning : sexual content, mass murder, torture.

 

Notes:

"Buat teman-teman yang tertarik mendengarkan ulasan-ulasan buku dari perspektif yang berbeda dan lebih mendalam, bisa untuk seterusnya memantau konten saya dan rekan saya, Andri Irawan, di podcast Bookita yang bisa diakses di Spotify, Anchor, Castbox, dan Google Podcast. Jika berkenan, bisa juga follow akun instagram kami di @bookita.podcast. Podcast ulasan buku The Tattooist of Auschwitz diagendakan 'tayang' akhir bulan Februari ini. Sampai jumpa di podcast kami ya ^^. Terimakasih."

 

 

 

Klik gambar Whatsapp di bawah ini untuk chat langsung dengan Dipidiff

(terbuka untuk komentar, informasi, dan diskusi tentang buku)

 

 

 

TERBARU - Buku IMPOR

Review Buku The Proposal - Jasmine Guill…

31-03-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

Judul : The Proposal Penulis : Jasmine Guillory Jenis Buku : Romance Penerbit : Penguin Random House Tahun Terbit : Oktober 2018 Jumlah Halaman :  352 halaman Dimensi Buku : 5.4 x 0.9 x 8.2 inci Harga : Rp. 118.000*harga sewaktu-waktu...

Read more

Review Buku Cilka's Journey - Heather Mo…

30-03-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Cilka’s Journey Penulis : Heather Morris Jenis Buku : Historical Fiction Penerbit : St. Martin's Griffin Tahun Terbit : 2019 Jumlah Halaman :  384 halaman Dimensi Buku :  5.4 x 8.2 inci Harga : Rp. 255.000*harga sewaktu-waktu...

Read more

Review Buku 13 Things Mentally Strong Wo…

16-03-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : 13 Things Mentally Strong Women Don’t Do Penulis : Amy Morin Jenis Buku : Self Improvement Penerbit : William Morrow Paperbacks Tahun Terbit : Reprint Februari 2020 Jumlah Halaman :  352 halaman Dimensi Buku :  5.3...

Read more

Review Buku A Tale of Magic (#1) - Chris…

15-03-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

Judul : A Tale of Magic Penulis : Chris Colfer Jenis Buku : Middle Grade Fantasy Penerbit : Little, Brown Books for Young Readers Tahun Terbit : Agustus 2020 Jumlah Halaman : 496 halaman Dimensi Buku :  1.1 x...

Read more

TERBARU - Buku Indonesia & Terjemahan

Review Buku Sentra - Rhenald Kasali

18-01-2020 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Sentra – Membangun Kecerdasan dan Kemampuan Anak Sejak Usia Dini, Demi Masa Depan yang Cemerlang Series on Education Penulis : Prof. Rhenal Kasali Jenis Buku : Edukasi Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku #MO - Rhenald Kasali

18-09-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : #MO Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham Penulis : Rhenald Kasali Jenis Buku : Ekonomi - Bisnis Penerbit : Mizan Tahun Terbit : Agustus 2019 Jumlah Halaman :  446 halaman Dimensi Buku :  15...

Read more

Review Buku Wild Hearts (Ancaman Masa La…

28-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : Wild Hearts (Ancaman Masa Lalu) * Harlequin Penulis : Sharon Sala Disain Sampul : Marcel A.W. Jenis Buku : Fiksi Romance Suspense - Misteri Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku A Song of Shadows (Kidung Ba…

14-04-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Judul : A Song of Shadows (Kidung Bayang-Bayang) Penulis : John Connolly Disain Sampul : Edward Iwan Mangopang Jenis Buku : Detektif Kriminal – Misteri - Suspense Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : November 2018 Jumlah...

Read more

TERBARU - LIFE STORY

Decluttering Finances

24-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

    Inginkah teman-teman memiliki kemampuan mengelola keuangan dengan bijak? Pasti jawabannya ingin. Saya pikir tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak ingin memiliki skill memanajemen keuangan, sebab sebesar apapun...

Read more

Work Coffee Cafe (a Review)

17-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Familiar kah teman-teman dengan nama cafe ini? Saya sih tidak. Tapi itu kemungkinan karena kami domisili di Bandung Timur dan jarang main ke daerah ini. Padahal tempatnya asyik bahkan klasik...

Read more

Marka Cafe + Kitchen (a Review)

16-10-2019 Dipidiff - avatar Dipidiff

  Untuk mereka yang biasa ngafe atau duduk-duduk nongkrong sambil menikmati kopi pasti sudah kenal kafe yang satu ini. Saya juga tahu Marka cafe karena diajak partner saya ngobrol-ngobrol tukar pikiran...

Read more